KEANEHAN TRAGEDI TANGGUL SITU GINTUNG

suarasurabaya.net| Pemerintah dianggap lalai sehingga mengakibatkan banyak korban tewas dalam musibah jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, Banten, Jumat (27/03).

 Ini ditegaskan SLAMET DAROYNI Direktur Eksekutif Walhi waktu dihubungi FAIZ FAJARUDIN reporter Suara Surabaya, Jumat.

Menurut SLAMET, Pemerintah Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat pernah bertemu membahas penanggulangan banjir termasuk membicarakan Situ Gintung. Tetapi sampai musibah ini terjadi pemertintah setempat belum melakukan tindakan apa-apa untuk antisipasi tanggul jebol maupun banjir.

Bahkan early warning system pun belum dibuat. Padahal pada Nopember 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol tapi tidak parah. Anehnya Pemerintah Provinsi setempat belum berbuat apa-apa.

Menurut SLAMET, sejak 2 tahun ini masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir, tetapi kekhawatiran itu tidak direspon oleh pemerintah.

SLAMET mengaku sekarang ini Walhi sedang koordinasi dengan organisasi pecinta alam untuk membantu korban musibah tanggul Situ Gintung. Walhi juga masih mempelajari soal dugaan pelanggaran pidana yang mengakibatkan banyak korban karena jebolnya tanggul tersebut.

 Katanya “Detik-detik jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, berhasil direkam”.

Keanehan-keanehan pada tragedi Situ Gintung :

1. “Subhanallah” Masjid masih berdiri kokoh saat diterpa air bah

2. Ditemukan ikan patin seberat kurang lebih 45 kg, panjang 1 meter dan lebar 40 cm didekat tanggul Situ Gintung

3. Menurut PosKota, tragedi Situ Gintung ini terjadi karena “Nyi Mas Melati Minta Tumbal“. Ini dia beritanya:

TANGERANG (Pos kota) – Di balik tragedi Situ Gintung yang menewaskan puluhan orang, banyak cerita misteri yang mengiringi danau seluas 21 Ha tersebut. Seminggu sebelum tanggul jebol, ada informasi kalau sang penunggu, Nyi Mas Melati menampakkan diri dengan berpakaian serba putih di tengah Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat.

Kejadian ini termasuk langka dan jarang terjadi terlebih setelah adanya ‘Pulau Bergeser’ di Situ Gintung tahun 1986. Saat itu, menurut Abah Nur, 76, tokoh masyarakat yang yang tinggal sejak tahun 1965, ada cerita munculnya ular besar yang berdiameter sebatang pohon kelapa.

“Setelah munculnya ular raksasa di tengah situ, tiba-tiba timbul gundukan tanah atau yang disebut sebagai pulau kecil di dalam Situ Gintung yang bergeser ke tengah-tengah setu. “Pulau itu terlihat saat air setu menyusut atau kering. Tapi kalau meluap tak terlihat sama sekali,” kata Abah Nur, Jumat (27/3).

Aroma mistik tersebut kembali muncul seminggu lalu, saat sejumlah warga yang sedang memancing sekitar Pk. 18:30 melihat munculnya sinar terang di tengah situ. Sinar itu menggambarkan wanita berparas cantik yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Nyi Mas Melati, sang penunggu situ yang dibangun pada tahun 1933 oleh Belanda.

Menurut dia, sejak munculnya penunggu situ, membuat beberapa warga merasa khawatir akan adanya bencana alam. “Namun kami tak menyangka, ternyata bencana tersebut berupa ambrolnya situ yang minta tumbal nyawa,” ujarnya.

BUAYA PUTIH
Cerita mistik dari kawasan Situ Gintung tak hanya penunggu wanita cantik saja, namun warga yang hobi mancing sering melihat ada buaya putih kerap menampakkan diri di malam-malam tertentu.

“Banyak yang sudah melihat buaya putih itu. Mereka cerita kepada warga hingga berkembang sampai sekarang. Apalagi sebelum kawasan di sekitar situ belum banyak dibangun rumah mewah, sering kali dijumpai hal-hal berbau mistik,” kata Muhamad Piong alias Cing Muhamad, 72, juru kunci Situ Gintung.

Menurut Cing Muhamad, dirinya merupakan keturunan keempat dari juru kunci Situ Gintung. “Dahulu situ ini dipegang kakak kandung ibu saya yakni Ma Enong. Ma Enong ini merupakan juru kunci situ pertama yang diteruskan ke Obri, saudara saya. Terakhir saya dipercaya. Namun saat ini sudah tidak aktif lagi,” katanya.

HAWA SIO (DINGIN)
Keangkeran Situ Gintung, diakui H.Nun, 67, kerabat dari H.Koko, pengelola Restoran Situ Gintung. “Dahulu kala penunggu situ, titip kepada bapaknya, Soenhaji agar merawat danau dengan baik. Akhirnya danau itu dibangun restoran dan berbagai fasilitas sampai sekarang,” kata H.Nun.

Ia menambahkan, mungkin terjadi salah pengelolaan di sekitar Situ Gintung hingga membuat penunggunya marah. “Namun terlepas dari itu semua, saya tetap meyakini semua musibah datangnya dari Allah SWT sebagai ujian kepada hambanya,” tukasnya.

Warga setempat, Ny.Maria, 47, mengakui angkernya Situ Gintung karena hawanya sio (dingin). “Lokasinya memang indah dan enak dikunjungi sebagai tempat rekreasi. Namun, kalau di sana rasanya aneh dan hawanya dingin. Tanpa sebab apa-apa, bisa saja ada pengunjung atau warga yang meninggal. Seperti minta tumbal yang terjadi hampir setiap tahun.

 
(tim PK)

Tentang mazguru

Saya hanyalah seorang guru muda yang ingin berbagi ilmu, hikmah, kisah dan pengalaman.
Pos ini dipublikasikan di BERITA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s