POTENSI RUHANIAH MANUSIA

A. Unsur Manusia
Manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani atau materi dan inmateri. Gabungan antara aspek jasmani dan ruhani disebut dengan al-nafs.( diri ).Nafs sendiri mempunyai beberapa kekuatan ruhani seperti ruh, akal, dan qalb.Dilihat dari sisi materi, manusia tidak berbeda dengan hewan. Yang membedakan antara manusia dan hewan adalah sisi ruhaniahnya. Keduanya secara biologis mempunyai kebutuhan yang sama seperti makan, minum, seks, istirahat dan sebagainya. Dan keduanya secara biologis mempunyai sifat yang sama bisa sakit dan mati.
Dari sisi rohani manusia berbeda dengan hewan. Manusia mempunyai akal hewan tidak mempunyai. Manusia mempunyai hati ( qalb ) hewan tidak mempunyai. Konsekuensinya adalah perbuatan manusia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah sedang perbuatan hewan tidak dimintai pertanggung jawaban.
Tingkatan manusia
1. Manusia hanya menggunakan indrawinya saja,seperti anak-anak dan orang gila. Mereka bisa hidup. Karena akal dan hatinya belum atau tidak sempurna maka anak-anak dan orang gila tidak bertanggungjawab atas tindakannya.
2. Manusia hanya menggunakan indrawi dan akalnya saja seperti orang yang sudah mumayyiz dan berakal.Fungsi akal disini memberikan pertimbangan tentang segala hal yang mungkin terjadi dan sebab akibat. Akal tidak dimintai pertanggungjawaban karena ia tidak sebagai pelaku Akal tidak dimintai pertanggungjawaban karena ia tidak sebagai pelaku.
3. Manusia menggunakan indrawi, akal dan hatinya seperti orang yang sudah baligh dan beriman. Hati bertugas memutuskan segala tindakan, oleh karena hatilah yang bertanggungjawab atas segala tindakan dan keputusannya. Dalam perspektif hukum akhirat, tindakan seseorang tidak dianggap bila tidak keluar dari hati, jika berupa maksiyat tidak disiksa dan bila berupa ketaatan tidak diberi pahala.
لا يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِيَ أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿٢٢٥﴾
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. ( Q.S. 3 ayat 225 )
B. Potensi Ruhaniah Manusia

a. al-Qalb
Menurut Al-Ghazali qalb mempunyai dua pengertian. Arti pertama adalah hati jasmani (al-Qalb al-jasmani) atau daging sanubari (al-lahm al-sanubari), yaitu daging khusus yang berbentuk jantung pisang yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri dan berisi darah hitam kental. Qalb dalam arti ini erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama dan kemanusiaan, karena hewan dan orang mati pun mempunyai qalb. Sedangkan qalb dalam arti kedua adalah sebagai luthf rabbani ruhiy. al-Qalb merupakan alat untuk mengetahui hakikat sesuatu.
Lapisan Qalb yang terluar disebut al-shadr yang merupakan tempat masuknya godaan penyakit, unek- unek , syahwat, dan segala kebutuhan. al-Shadr itu bisa lapang dan bisa sempit. Ia juga sekaligus munculnya cahaya Islam. Ia juga tempat menyimpan ilmu yang bersumber dari pendengaran. Sifat-sifatnya adalah insyirah dan dlaiq ( QS. 3 : 154. QS: 11 : 12 QS: 15 : 97 QS: 26 : 12-13 )
Kadar kebodohan dan kemarahan, dada seseorang menjadi sempit. Dan tidak ada batas kelapangannya. Jika al-shadr sempit dengan kebenaran maka penuh dengan kebatilan
Lapisan Qalb yang kedua disebut al-qalb. Ia sebagai sumber cahaya keimanan, khusu’, taqwa, ridla, yakin, khauf, raja`, sabar, qanaah. Al-qalb ibarat raja dan nafs adalah kerajaan. Sifat-sifatnya a’ma ( QS. 22 :46 ) Lapisan Qalb yang ketiga adalah al-Fuad yang merupakan tempat ma’rifat, bersitan (khawatir) dan penglihatan ( al-ru`yah ) Lapisan qalb yang keempat adalah al-lub yang merupakan tempat cahaya tauhid
b. al-Aql

Ada beberapa pengertian tentang aql. Pertama, aql adalah potensi yang siap menerima pengetahuan teoritis. Kedua, aql adalah pengetahuan tentang kemungkinan sesuatu yang mungkin dan kemuhalan sesuatu yang mustahil yang muncul pada anak usia tamyiz, seperti pengetahuan bahwa dua itu lebih banyak dari pada satu dan kemustahilan seseorang dalam waktu yang bersamaan berada di dua tempat.Ketiga, aql adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empirik dalam berbagai kondisi. Keempat ,aql adalah potensi untuk mengetahui akibat sesuatu dan memukul syahwat yang mendorong pada kelezatan sesaat.
Dengan demikian orang yang berakal adalah orang yang didalam melalukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan didasarkan pada akibat yang akan muncul bukan didasarkan pada syahwat yang mendatangkan kelezatan sesaat. Aql yang pertama dan kedua merupakan bawaan sedangkan aql yang ketiga dan keempat merupakan usaha.
Di dalam al-Qur`an, kata aql dalam bentuk kata benda tidak ditemukan yang ditemukan di dalam al-Qur`an adalah kata kerjanya yakni ya’qilun, ta’qilun dan seterusnya. Aqala ( fi’il Madli, kata kerja lampau) berarti menahan atau mengikat. Dengan demikian al-A’qil (isim fail) berarti orang yang menahan atau mengikat hawa nafsunya sehingga nafsunya terkendali karena diikat atau ditahan. Sedangkan orang yang tidak mempunyai aql tidak mengikat nafsunya sehingga nafsunya liar tak terkendali.
c. al-Ruh
Para ulama berbeda –beda dalam mengartikan ruh. Sebagaian mengartikan kehidupan (al-hayah). Sementara menurut al-Qusyairi, ruh adalah jisim yang halus bentuknya (sebagaimana malaikat, setan) yang merupakan tempat akhlak terpuji. Dengan demikian ruh berbeda dengan al-nafs dari sisi potensi positif dan negatif. Nafsu sebagai pusat akhlak tercela sementara ruh sebagai pusat akhlak terpuji. Ruh juga merupakan tempat mahabbah pada Allah.
d. al-Nafs
Kata al-Nafs mempunyai dua arti. Pertama, al-Nafs berarti totalitas diri manusia. Sehingga jika disebut “nafsaka (dirimu)” maka berarti dirimu secara keseluruhan bukan tangan,bukan kaki, bukan pikiran tetapi secara keseluruhan yang membedakan dengan orang lain. al-Nafs dalam arti ini mendapat berbagai julukan sesuai dengan kondisinya. Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan tenang maka dijuluki al-Nafs al-Muthmainnah sebagaimana dalam al-Qur`an surat al-Fajr ayat 27-28 .
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28)
Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai ( Q.S. al-Fajr: 27-28)

.

Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan tidak tenang tapi lebih cenderung mengikutinya maka diberi julukan al-Nafs al-Ammarah sebagaimana dalam al-Qur`an surat Yusuf ayat 53.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (53)
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Yusuf 53)

Nafs al-Nafs al-Ammarah bisa menjadi al-Nafs al-Muthmainnah manakala seseorang terbebas dari akhlak yang tercela.
Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan setengah-setengah antara menolak dan menerima tapi lebih cenderung mencela diri sendiri ketika melakukan syahwat maka diberi julukan al-Nafs al-Lawwamah sebagaimana dalam al-Qur`an surat al-Qiyamah ayat 3,
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (2)
Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Nafsu al-Lawwamah termasuk nafsu yang baik karena ia senantiasa mencela diri sendiri meskipun sudah bersungguh – sungguh untuk melaksanakan ketaatan .
Kedua, al-Nafs (sering dibaca nafsu dalam bahasa Indonesia) menurut pandangan para shufi adalah pusat munculnya akhlak tercela. Mereka cenderung mengartikan al-Nafs dengan konotasi negatif. Itulah sebabnya nafsu wajib diperangi (mujahadah al-nafs)
Menurut al-Ghazali nafsu diartikan “Perpaduan kekuatan marah (gadlab) dan syahwat dalam diri manusia”. Kekuatan ghadlab pada awalnya tentu untuk sesuatu yang positif seperti untuk mempertahankan diri, mempertahankan agama dan sebagainya. Dengan adanya ghdlab itulah jihad diperintahkan dan kehormatan diri terjaga. Dengan kekuatan marah seorang wanita menolak untuk dinodahi agama dan kehormatannya. Dengan kekuatan marah seseorang dapat menumpas kedhaliman dan sebagainya. Namun ketika gadlab tidak terkendali maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela. Demikian juga dengan syahwat (syahwat sek) perkembangbiakan manusia tetap berjalan, perpaduan antara pria dan wanita yang membentuk satu keluarga bisa terjadi sehingga akan terbentuk komunitas sosial. Dengan syahwat (makan dan minum), muamalah mencari rejeki dapat berjalan. Bisa dibayangkan seandainya tidak ada syahwat makan, minum dan sebagainya tentu roda perekonomian tidak mungkin berjalan. Namun bila syahwat tidak dikendalikan maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela.

Tentang mazguru

Saya hanyalah seorang guru muda yang ingin berbagi ilmu, hikmah, kisah dan pengalaman.
Pos ini dipublikasikan di HIKMAH, TASAWUF. Tandai permalink.

Satu Balasan ke POTENSI RUHANIAH MANUSIA

  1. Power Ecig berkata:

    It’s hard to come by educated people for this topic, however, you sound like you know what you’re talking about!
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s