HIRARKI PENGALAMAN BERAGAMA

A. Pengertian

Ada tiga hirarki pengalaman beragama Islam seseorang. Pertama, tingkatan syariah. Syariah berarti aturan atau undang-undang, yakni aturan yang dibuat oleh pembuat aturan (Allah dan RasulNya) untuk mengatur kehidupan orang-orang mukallaf baik hubungannya dengan Allah ( habl min Allah ) maupun hubungannya dengan sesama manusia (habl min al-Nas ).

Dataran syariat berarti kualitas amalan lahir formal yang ditetapkan dalam ajaran agama melalui al-Qur`an dan Sunnah. Amalan tersebut dijadikan beban ( taklif ) yang harus dilaksanakan, sehingga amalan lebih didorong sebagai penggugur kewajiban. Dalam dataran ini, pengamalan agama bersifat top dawn yakni bukan sebagai kebutuhan tapi sebagai tuntutan dari atas ( syari‘ ) ke bawah ( mukallaf ). Tuntutan itu dapat berupa tuntutan untuk dilaksanakan atau tuntutan untuk ditinggalkan. Seseorang dalam dataran ini, pengamalan agamanya karena didorong oleh perintah, bukan semata – mata kebutuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat al-Qusyairi dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah

الشريعة أمر بالتزام العبودية والحقيقة مشاهدة الربوبية. فالشريعة جاءت بتكليف الخالق، والحقيقة إنباء عن تصريف الحق.فالشريعة أن تعبده،والحقيقة أن تشهده.والشريعة قيام بما أمر، والحقيقة شهود لما قضى وقدر، وأخفى وأظهر.[1]

Syariah adalah perintah untuk memenuhi kewajiban ibadah dan haklikat adalah penyaksian ketuhanan, Syariat datang dengan membawa beban Tuhan yang maha pencipta saedangkan hakikatmenceritakan tentang tindakan Tuhan Syariah adalah engkau mengabdi pada Allah sedangkan hakikat adalah engkau menyaksikan Allah, Syariah adalah melaksanakan perintah sedangkan hakikat menyaksikan apa yang telah diputuskan dan ditentukan, yang disembunyikan dan yang ditampakkan

Kedua, tingkat tarikat yaitu kesadaran pengamalan ajaran agama sebagai jalan atau alat untuk mengarahkan jiwa dan moral. Dalam dataran ini, seseorang menyadari bahwa ajaran agama yang ia laksanakan bukan semata-mata sebagi tujuan tapi sebagai alat dan metode untuk meningkatkan moral. Puasa Ramadlan misalnya, tidak hanya dipandang sebagai kuwajiban tapi juga disadari sebagai media untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu sikap bertaqwa. Demikian juga ,tuntutan-tuntutan syariah lainnya disadari sebagai proses untuk mencapai tujuan moral.

Ketiga, tingkatan hakikat yang berarti realitas, senyatanya, dan sebenarnya. Dalam tasawuf yang real dan yang sebenarnya adalah Allah yang maha benar atau real ( al-Haq ). Dengan demikian tingkat hakikat berarti dimana seseorang telah menyaksikan Allah s.wt. Pemahaman lain dari hakikat adalah bahwa hakikat merupakan inti dari setiap tuntutan syariat.Berbeda dengan syariat yang menganggap perintah sebagai tuntutan dan beban maka dalam dataran hakikat perintah tidak lagi menjadi tuntutan dan beban tapi berubah menjadi kebutuhan. Itulah Aba Ali al-Daqaq yang dikutip oleh al-Quyairy mengatakan;

سمعت الأستاذ أبا علي الدقاق، رحمه الله، يقول: قوله: إياك نعبد حفظ للشريعة وإياك نستعين إقرار بالحقيقة.[2]

Saya mendengar al-Ustadz Abu Ali al-Daqaq rahimahu Allah berkata” firman Allah iyyaka na’budu (hanya padamu aku menyembah) adalah menjaga syariat sedangkan waiyyaka nastain (dan hanya padamu kami meinta pertolongan) adalah sebuah pengakuan hakikat.


B. Kesatuan syariat dan hakikat

Syariat dan hakikat adalah ibarat wadah dan isi, yang lahir dan yang batin, ibarat gelas dan air yang ada dalam gelas. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Shalat dilihat dari sisi syariat adalah perbuatan dan perkataan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diahiri dengan salam beserta rukun-rukunnya dan inti dari shalat adalah mengingat Allah. Seseorang tidak boleh hanya mengingat Allah tanpa melaksanakan shalat yang telah disyariatkan. Dan sebaliknya seseorang tidak boleh melaksanakan shalat dengan segala rukunnya akan tetapi hatinya kosong tidak nyambung ( hudlur ) dengan Allah.

Al-Qusyairi mengatakan

فكل شريعة غير مؤيدة مؤيدة بالحقيقة فغير مقبول.فالحقيقة جاءت غير مقيدة بالشريعة فغير مقبول.[3]

Setiap syariat yang tidak dikuatkan dengan hakikat maka tidak akan diterima, dan setiap hakikat yang tidak dikuatkan dengan syariat maka tidak diterima


[1] Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah, Juz I, al-Maktabah al-Syamilah, hal.42

[2] Ibid.,

[3] Ibid.,

Tentang mazguru

Saya hanyalah seorang guru muda yang ingin berbagi ilmu, hikmah, kisah dan pengalaman.
Pos ini dipublikasikan di SKETSA HIDUP, UBUDIYAH. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s