KAWIN KONTRAK, DILARANG TAPI MARAK

Muqoddimah

Maraknya praktik kawin kontrak atau yang dalam kajian fikih disebut nikah mut’ah ini menjadi perlu disorot kembali karena dampaknya sudah sedemikian mengkhawatirkan. Dampak tersebut, tidak saja bagi kaum perempuan sebagai korban paling parah, tetapi juga sangat mencederai dan mencabik-cabik nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam Islam dan juga semua agama. Kawin kontrak belakangan tumbuh subur di daerah sentra-sentra wisata, kawasan bisnis dan wilayah tertentu yang mempunyai latar belakang pendidikan penduduknya rendah serta masyarakatnya miskin. Di daerah Bogor dan sekitarnya, kawin kontrak sudah menjadi salah satu mata pencaharian wanita, hal ini tentunya perlu kita kaji lebih dalam mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Membicarakan topik kawin kontrak hampir tak lepas dari pro dan kontra. Walaupun mayoritas atau jumhur ulama di seluruh dunia menyatakan keharaman kawin kontrak berdasarkan dalil-dalil yang sangat mutawatir (dan karenanya valid atau sahih), namun masih saja ada sejumlah kalangan yang menjadikannya sebagai alat legalisasi pesta syahwat seksual. Mereka yang pro dengan kawin kontrak mengungkapkan sejumlah argumentasi dan dalil, salah satunya adalah faktor dorongan biologis, di satu sisi dan faktor kesulitan ekonomi di sisi lain. Begitu pula yang menolaknya, menampilkan sejumlah ayat, hadis, maupun dalil realitas sosial seputar dampak-dampak negatifnya.

Menilik Lebih Jauh Nikah Mut’ah dari Pandangan Islam

Berbicara nikah mutah tidak lepas dari pengertian nikah dan mutah. Nikah merupakan bentuk masdar dari kata kerja nakaha, yankihu, ni- kahan yang berarti al-jamu wa al-dhammu (peng- gabungan dan pengumpulan). Secara terminologi, arti nikah sebagaimana dikutip oleh Mustafa Ahmad al-Zarqa (w. 1357 H) adalah akad yang menjadikan halalnya melakukan hubungan seksual antara suami dan istri dengan lafaz nikah atau tazwij

التزويج او النكاح بلفظ وطئ إباحة يتظمّن عقد هو النكاح

Sedangkan dalam pengertian lain, nikah sama dengan tazwij atau zawaj yang merupakan bentuk masdar dari kata zawwaja, yuzawwiju, tazwijan yang mengandung makna al-qarn wa al-iqtiran (hubungan kedekatan atau mendekatkan). Dilihat dari terminologinya, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Abu Zahra (w. 1974 M), arti zawaj adalah suatu akad yang membolehkan (menghalalkan) melakukan hubungan suami istri antara seorang laki-laki dan perempuan, saling kerjasama antarkeduanya, dan menimbulkan batasan hak dan kewajiban antar keduanya sesuai dengan yang telah ditentukan.

Adapun definisi mut`ah berasal dari kata mata’a yamta’u mutu’an yang dijadikan bentuk fi`il khumasi menjadi tamatta’a yatamatta’u tamattu’an yang berarti bersenang-senang. Dari pengertian ini, nikah mut’ah menurut jumhur ulama adalah seorang laki-laki mengawini perempuan dengan jumlah mahar tertentu dan dengan waktu tertentu, baik untuk waktu panjang ataupun pendek. Nikah mut’ah sering disebut kawin kontrak karena sifat waktunya yang dibatasi oleh suatu kontrak di awal hubungan. Pernikahan mut’ah ini akan berakhir dengan berakhirnya waktu akad, tanpa jatuh talak. Artinya, tertalak dengan sendirinya, jika waktu yang ditentukan telah tiba. Tidak ada tanggungan nafkah dari pihak suami kepada istri dan anak- anak (jika memiliki anak), tanggungan tempat tinggal, dan juga tidak bisa saling mewarisi di antara keduanya. Contohnya, seorang laki-laki berkata kepada seorang perempuan: Aku bermut`ah kepadamu dengan waktu sepuluh hari dengan mahar sepuluh juta Rupiah”. Kemudian sang perempuan menjawab: “Aku terima mut`ahmu” maka terlaksanalah kawin mut`ah sesuai dengan kesepakatan tersebut.

Dari uraian di atas, tampak jelas perbedaan antara nikah da`im (nikah biasa untuk waktu yang tidak dibatasi) dan nikah mut`ah dalam beberapa hal:

1. Dari aspek akad; ada pembatasan waktu dalam kawin kontrak. Sedangkan dalam nikah daim, tidak ada pembatasan waktu.

2. Dari aspek tanggung jawab; tidak ada beban tanggung jawab (nafkah dan tempat tinggal) bagi suami terhadap istri dan anak-anak hasil nikah mut’ahnya.

3. Dari aspek konsekuensi hukum; tidak ada saling mewarisi, sekiranya ada yang meninggal dalam masa perkawinan kontrak tersebut.

Sekilas Praktik Nikah Mut`ah Tempo Dulu

Nikah mut`ah pernah terjadi pada masa periode awal Islam. Saat itu kaum Muslim dalam kondisi yang sulit, yakni berperang melawan kaum kafir dan melakukan perjalanan jauh meninggalkan negerinya. Karenanya, mereka tidak dapat menyalurkan hasrat biologisnya secara sempurna. Beberapa di antara mereka, sebelumnya sudah terbiasa dengan kehidupan seksual ala Arab yang mempunyai banyak istri. Mereka berhubungan seksual dengan istri yang mereka kehendaki dan meninggalkan istri yang tidak lagi menarik. Ketika mereka menjadi muslim dengan aturan yang ketat dalam hal hubungan seksual, maka sulit bagi mereka untuk berperang tanpa diperbolehkan melakukan nikah mut`ah. Karena untuk kepentingan sesaat maka nikah ini disebut mut’ah, bersenang-senang yang bersifat sementara dan tidak ada ikatan permanen.

Oleh karenanya diperbolehkannya nikah mut`ah secara terbatas dalam kondisi yang terbatas pula pada waktu itu adalah dalam situasi khusus di masa awal Islam. Di awal masa perkembangan Islam dan juga dalam konteks peperangan, Nabi memberi kelonggaran dilakukannya nikah mut’ah. Namun ketika waktunya sudah dinilai tepat oleh Nabi, maka nikah mut’ah dilarang atau diharamkan. Banyak hadis yang menjelaskan larangan Nabi ini. Menurut penelitian Abustani Ilyas, hadis-hadis tentang nikah mut’ah di dalam Kutub Sittah[1] sebanyak 45 riwayat.[2] Hadis-hadis tersebut secara umum melarang atau mengharamkan praktik nikah mut’ah. Walaupun, sekali lagi, sebelumnya Nabi pernah memberi kelonggaran. Pada akhirnya, setelah memberi ruhsah itu, Nabi kemudian secara tegas mengharamkan kawin kontrak.

Beberapa hadis Nabi yang menjelaskan tentang nikah mut’ah, antara lain sebagai berikut:

1. Pada Perang Khaibar (7 H/ 628 M)

أن عليا بن أبى طالب قال لإبن عباس : إن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة وعن لحوم الخمر (الأهلية) الإنسية زمن خيبر (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. Ia berkata kepada ibn Abbas: “Rasulullah saw. melarang nikah mut`ah pada masa Perang Khaibar dan melarang memakan daging keledai jinak (yang biasa dipakai sebagai sarana/peliharaan)”. (HR. Bukhari: Kitab al-Nikah, no. 5115 dan HR. Muslim: Kitab al-Nikah)

2. Pada Masa Fathu Makkah (8 H/630 M)

عن الربيع بن سبره أن أباه غزا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فتج مكة قال : فأقمن بها خمس عشرة ثلاثين بين ليلة ويوم, فأذن لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في متعة النساء. فخرجت أنا ورجل من قومي ولي عليه فضل في الجمال وهو قريب من التمامة مع كلِّ واحدٍ منا برد فبردي خلق وإما برد ابن عمي فبرد جديد غض حتى إذا كنا بأسفل مكة أو بأعلاها فتلقتنا فتاة مثل البكرة العنطنطة فقلنا هل لك أن يستمتع منك أحدنا, وما تبذلان؟ فنشركل واحد منا برده فجعلت تنظر إلى الرجلين ويراها صاحبي إلى عطفها, فقال : إن برد هذا خلق وبردي جديد غض فتفول برد هذا لا بأس به ثلاث مرار أو مرتين ثم استمتعت منها فلم أخرج حتى حرّمها رسول الله.

(رواه مسلم)

Artinya: Dari al-Rabi’ bin Sabrah, sungguh bapaknya berperang bersama Rasulullah saw. dalam pembebasan Mekah (fathu makkah) ia berkata: “Kami berdiam di Mekah selama lima belas hari dari tiga puluh hari, maka Rasulullah saw. memberi izin kapada kami melakukan kawin mut`ah dengan perempuan. Kemudian kami pergi bersama seorang laki-laki dari kaumku. Aku lebih tampan darinya sedangkan ia kurang tampan. Kami sama-sama membawa selendang. Selendangku lebih buruk darinya. Sampailah kami di tengah kota Mekah. Kami bertemu perempuan-perempuan yang sangat cantik. Kemudian kami bertanya, “Apakah salah seorang di antara kami ada yang bisa menikah mut’ah denganmu?” Ia menjawab: “Apa yang akan kamu berikan (sebagai mahar)?” Lalu kami sama-sama membentang selendang. Kemudian sahabatku berkata: “Selendang ini lebih buruk, sementara selendangku lebih baru dan lem- but”. Perempuan itu menjawab, “Selendang yang ini tidak apa-apa”. Kata-kata itu diulangi tiga atau dua kali” Kemudian kami menikah mut`ah dengannya. Saya tidak keluar dari rumah (sewaktu Mut`ah itu) sampai Rasulullah saw. mengharamkannya (melarang nikah mut’ah)”

(HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

3. Pada Tahun Authas (8 H/ 630 M)

عن إياس بن سلمة عن أبيه قال : رخّص رسول الله صلى الله عليه وسلم أوطاس فى المتعة ثلاثا ثم نهى عنها. (رواه المسلم)

Dari Iyas bin Salamah dari bapaknya, ia ber- kata bahwa Rasulullah saw. Memberi keringanan (membolehkan sementara) kawin mut`ah pada tahun Authas selama tiga hari kemudian melarangnya”. (HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

4. Pada Masa Haji Wada’ (11 H/632 M )

عن الزهري قال : كنا مع عمر ابن عبد العزيز فتذاكرنا متعة النساء فقال رجل يقال له ربيع بن سبرة : أشهد على أبى أنه حدّث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عنها فى حجة الوداع

(رواه أبو داود)

Artinya: Dari al-Zuhri, ia berkata: Ketika kami bersama Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, sedang membi- carakan tentang nikah mut`ah, lalu ada seseorang, yaitu Rabi’ ibn Sabrah berkata: “Saya bersaksi demi bapak saya bahwa bapakku memberitakan sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarangnya pada masa Haji Wada’”. (HR. Abu Dawud: Kitab al-Nikah, no. 2072).

Pendapat Ulama Mayoritas

Jumhur ulama bersepakat bahwa nikah mut`ah adalah haram dan bathil (illegal) karena Rasulullah saw. melarangnya setelah memberi keringanan sementara karena kondisi sulit pada masa itu. Jumhur ulama telah sampai pada standar ijmak dalam mengharamkan nikah mut`ah atau kawin kontrak ini. Apalagi setelah adanya penegasan larangan oleh khalifah Umar bin Khattab (13 H/644 M). Ketika Umar ra. berdiri memberikan khutbah, sebagian hadirin dan sahabat Nabi di antaranya Ali bin Abi Thalib kw. (karramallahu wajhah, semoga Allah memuliakannya selalu). Riwayat yang menguatkan larangan ini adalah surat Al-Nisa`: 25.

فأنكحوا هن بإذن أهلهن

Artinya:” …kawinilah mereka dengan seizin keluarga (orang tua) mereka…”

Dan juga al-Mukminun: 5-6:

والذين هم لفروجهم حافظون. إلا على أزواجهم أو ماملكت أيمانهم فإ نهم غير ملومين

Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki (ketika masih ada perbudakan). sesungguhnya dalam hal ini tiada tercela. (QS. al-Mukminun: 5-6).

Pengharaman ini tentunya didasarkan pula pada sejumlah hadis sahih mencapai derajat mutawatir, salah satunya adalah:

عن الربيع إبن سبرة الجهني أن أباه حد ثه أنه كان مع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال :

يا أيها الناس إني قد كنت أذنت لكم في الإستمتاع من النساء وإن الله قد حرم ذالك إلى يوم القيامة

فمن كان عنده منهن شيئ فليخل سبيله ولا تأجذوا مما أتيتموهن سيأ (رواه مسلم)

Artinya: Dari Rabi’ ibn Sabrah al-Juhani, ia berkata: ayahnya mengabarkan kepadanya bahwa ia bersama Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sungguh aku pernah mengizinkan kalian melakukan nikah mut’ah dan (kini) Allah telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat. Karenanya, siapa saja yang masih memiliki istri secara mut’ah, maka bebaskanlah (lepaskanlah) dan janganlah kalian mengambil apa-apa yang pernah kamu berikan kepadanya sedikitpun.” (HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

Teks hadis di atas menunjukkan bahwa dibolehkannya nikah mut’ah saat itu adalah karena kondisi sulit yang terjadi di mana umat Muslim sedang dalam masa berperang yang menghabiskan waktu sangat panjang. Adapun untuk masa selanjutnya, Rasulullah saw. telah mengharamkan selama-lamanya berdasarkan dampak-dampak dan perubahan kondisi yang sudah tidak sesuai. Karena itu, hadis di atas (dan hadis lainnya yang diriwayatkan oleh para ahli Hadis terkenal), menjadi dasar bahwa kawin kontrak atau nikah mut’ah itu diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di kalangan ulama Indonesia, Buya Hamka juga membahas panjang mengenai nikah mut’ah ini dalam Tafsir Al-Azhar-nya. Menurutnya, nikah mut’ah tidak lain merupakan pembelokan dari hukum Tuhan. Artinya, akal-akalan orang yang hanya ingin memperturutkan hawa nafsu saja. Pembolehan sementara oleh Nabi saw. pada masa kondisi perang adalah berlaku sesaat sembari mengondisikan mental kaum muslim setelah mereka menjalani tradisi Jahiliah yang telah beruratberakar hidup dalam kebebasan seksual. Karenanya pembolehan itu tidak lebih merupakan proses tadrij (angsuran) sebelum menetapkan hukum yang sesungguhnya, yakni haram.[3] Dengan demikian jika nikah mut’ah ini tetap dilakukan sama saja dengan praktik pelacuran untuk bersenang-senang satu malam lalu pagi-pagi dibayarkan sewanya.[4]

Demikian pula Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan fatwa tentang haramnya ni- kah mut’ah atau kawin kontrak dengan sejumlah argumentasi. MUI melihat bahwa kawin kontrak banyak menimbulkan masalah dan keresahan bagi masyarakat secara umum. Fatwa MUI tersebut dikeluarkan pada tanggal 25 Oktober 1997.

Tidak ketinggalan, Prof. DR. M. Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer, dalam Tafsir Al- Mishbah-nya menyatakan bahwa secara umum para ulama berpendapat bahwa nikah mut’ah adalah haram. Nikah mut’ah menurutnya, bertentangan dengan tujuan nikah yang dikehendaki Alquran dan Sunnah, yakni pernikahan yang langgeng, sehidup semati, bahkan sampai Hari Kemudian (QS. Ya Sin: 56). Quraish Shihab menambahkan bahwa pernikahan antara lain dimaksudkan untuk melanjutkan keturunan, dan keturunan itu hendaknya dipelihara dan dididik oleh kedua orang tuanya. Hal demikian tentu tidak dapat dicapai, jika pernikahan hanya berlangsung beberapa hari, bahkan beberapa tahun sekalipun.[5]

Secara lebih rinci, Dr. Didin Hafidhuddin, da- lam bukunya, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Al- Nisa’, menegaskan bahwa pernikahan yang sifatnya sementara waktu (mut’ah) diharamkan karena tidak sesuai dengan tujuan kehidupan yang dimaksudkan Allah swt. Didin mengutip kitab Tafsir Rawa’i al-Bayan bahwa ada beberapa alasan mengapa nikah mut’ah diharamkan. Pertama, perka- winan biasa membawa konsekuensi adanya kewarisan, ada iddah yang jelas, dan juga garis nasab/keturunan yang jelas antara anak dan orang tua. Sedangkan dalam kawin kontrak, ketiga hal tersebut tidak jelas, bahkan tidak ada. Kedua, hadis-hadis Nabi secara jelas (musharrihah) mengharamkan perkawinan sementara waktu (mut’ah). Tidak ada satupun hadis yang membolehkan adanya nikah mut’ah tanpa kemudian disusul dengan larangan yang jelas hingga Hari Kiamat. Ketiga, para sahabat sepakat (ijmak) terhadap haramnya nikah mut’ah ini, seperti juga ditegaskan oleh Umar ibn Khattab ra. ketika menjadi khalifah. Kelima, nikah mut’ah tidak memiliki tujuan mulia seperti keluarga yang sakinah/tenteram, punya keturunan yang shaleh atau mendidik anak seba- gaimana nikah biasa. Semua nikah mut’ah dilakukan karena hanya untuk melampiaskan hawa nafsu. Karenanya, sangat menyerupai zina (yusybihu al-zina) sehingga ijmak ulama pun sepakat atas keharaman nikah mut’ah.[6]

Didin juga mengutip pendapat Imam (Yusuf) Al-Qardhawi bahwa haramnya nikah mut’ah adalah ijmak. Hanya sebagian kecil saja di kalangan Syi’ah yang membolehkannya. Bahkan, Iman Ja’far ibn Muhammad (seorang ulama Syi’ah) ketika ditanya oleh Al-Baihaqi, muridnya, tentang nikah mut’ah. Imam Ja’far menyatakan: “Nikah mut’ah adalah zina secara terang-terangan”.[7]

Pandangan Ulama Syi’ah

Sebagian ulama Syi’ah berpendapat bahwa ni- kah mut’ah diperbolehkan pada awal periode pe- ngembangan Islam sampai Hari Kiamat. Dan dinyatakan pula bahwa belum ada dalil yang membuktikan bahwa nikah mut’ah telah dihapus. Menurut Syi’ah syarat perempuan yang dinikahi secara mut’ah haruslah perempuan Muslim, Kitabiyah (ahlu al-kitab seperti Yahudi dan Nasrani). Persyaratan akad mut’ah hanya ada dua, yaitu: ijab dan qabul dengan kalimat akad:

v نكحتك : Saya nikahi engkau

v تزوجتك : Saya kawini engkau

v متعتك : Saya kawin kontrak engkau

Waktu lamanya mut’ah merupakan syarat dalam pernikahan mut’ah dengan harus membatasi lama perkawinannya. Hal ini diserahkan kepada kedua belah pihak yang mengadakan akad. Selain itu harus ada mahar yang disepakati oleh kedua belah pihak dengan dasar saling ridla, baik sedikit atau banyak, walaupun hanya dengan segenggam gandum.

Menurut sebagian ulama Syi’ah, pembolehan nikah mut’ah adalah perkara ijmak (di kalangan mereka). Dan ijmak dalam hal ini adalah ijmak mutlak. Sementara pendapat-pendapat yang berseberangan dengan ini hanya berdasarkan dzanni (dugaan kuat) saja. Sedangkan yang dzanni tidak bisa menghapus yang qath’i (pasti). Kalangan Syi’ah bahkan menganggap bahwa nikah mut’ah adalah suatu amal yang mendekatkan diri kepada Allah, dengan menggunakan argumen Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat : 24 :

…. فما استمتعتم به منهن فأتوهن أجورهن فريضة….

Artinya: “… maka istri-istri yang kamu nikmati(campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai ketetapan/kewajiban…”

Selain itu juga didasarkan pada hadis Nabi :

عن جابر بن عبد الله و سلمة بن الأكوع قالا كنا في جيش فأتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إنه قد أَذِنَ لكم أن تستمتعوا, فاستمتعوا. وقال ابن ابي ذئب جدَّثنى إياس بن سلمة ابن الأكوع عن أبيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أيما رجل وامرأة توافقا فعشرة ما بينهما ثلاث ليال, فإن أحبّا أن يتزايدا أو يتتاركا تتاركا فما أدري أشيء كان لنا خاصّة ام للناس عامّة. قال أبو عبد الله وبيّنه عليّ عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه منسوخ (رواه البخارى)

Dari Jabir Ibn ‘Abdullah dan Salamah bin al- Akwa’ bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Telah diizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka menikah mut’ahlah” Dan Ibn Abi Dzi’b berkata bahwa Iyas ibn Salamah ibn al-Akwa’ menceritakan dari bapaknya, dari Rasulullah saw. bahwa manakala seorang laki-laki dan perempuan sepakat untuk bergaul (melakukan hubungan nikah) selama tiga malam di antara mereka, jika mereka saling suka (merasa enak) bisa menambah atau jika saling ingin meninggalkan (berpisah) maka silakan berpisah”. (Salamah berkata), “Saya tidak tahu apakah hal ini berlaku khusus bagi kami ataukah berlaku umum untuk semua manusia. Abu Abdillah berkata bahwa Ali menjelaskan dari Nabi saw. bahwa hal (ketentuan) ini telah dihapuskan. (HR. Bukhari: Kitab al-Nikah: 5117-5118)

Masih menurut Syi’ah, bahwa wajh al-istidlal-nya adalah al-istimta’ (bersenang-senang), di da- lamnya ada al-ajru (upah) dan mahar yang meru- pakan bagian dari istimta’. Inilah nash (teks) yang menjelaskan bahwa upah adalah mahar dan sebagai dalil bahwa mahar adalah sebagai ganti daripada jimak (hubungan seksual), sementara pengganti nafkah disebut upah (ajr). Ayat di atas juga menjelaskan dibolehkannya nikah mut’ah, di mana seorang laki-laki harus memberikan upah (ajr) kepada seorang perempuan karena telah menggaulinya. Hal ini dikuatkan lagi dengan qiraat (bacaan Alquran) dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas yang menambahkan bacaan tambahan dalam ayat di atas sehingga menjadi :

…. فما استمتعتم به منهن “إلى أجل مسمى” فأتوهن أجورهن ….

Maka istri-istri yang telah kamu nikmati diantara mereka “hingga batas waktu tertentu”, maka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)”.

Dalam Majma’ al-Bayan al-Tharbasi karya Imam al-Tharbasi (w. 548 H/1153 M), ahli tafsir dari kalangan Syi’ah, ia berpendapat bahwa kalimat istimta’ (menikmati) dalam ayat ini mengacu pada nikah mut’ah, yaitu pernikahan untuk masa tertentu dan mahar tertentu yang ditetapkan. Sesungguhnya ini telah jelas betul kata istimta’ dan mut’ah mempunyai makna literal “menikmati”, oleh sebab itu makna ayat di atas “kapan saja engkau melakukan akad nikah mut’ah dengan perempuan, maka engkau harus membayar mut’ah kepadanya”. Ini menunjukkan, menurutnya, bahwa nikah mut’ah belum dihapus di zaman Rasulullah saw.

Perdebatan tentang Nikah Mut’ah

Argumen Syi’ah di atas mengatakan bahwa ni- kah mut’ah diperbolehkan sejak awal periode Islam. Sementara jumhur ulama Sunni berpendapat bahwa awal periode Islam adalah masa pengembangan tasyri’ sehingga kalau hukum Islam diterapkan secara sungguh-sungguh terhadap kaum muslimin pada waktu itu atau ajaran Islam diberlakukan secara ketat soal hubungan seksual, maka akan sangat sulit bagi umat waktu itu untuk berperang tanpa memuskan hasrat seksualnya. Jika hasrat itu ditahan dengan cara lain seperti puasa, tentunya akan mengurangi kemampuan berperang bagi para tentara karena tenaga mereka berkurang. Kekurangan tenaga merupakan suatu pantangan dalam masa perang. Dalam konteks inilah kelonggaran itu diberikan oleh Nabi saw. Larangan Rasulullah saw. kepada mereka untuk melakukan nikah mut’ah ketika itu bertujuan untuk mencegah dan menjauhkan mereka dari sifat-sifat jahiliah yang selalu terbiasa melakukan mut’ah. Diterapkannya syari’at secara bertahap merupakan metode yang dibangun oleh syari’at Islam (al-tadrij fi al-tasyri’, berangsur dalam penetapannya) dengan tujuan tidak membebani kaum muslimin sesuai kondisi saat itu.

Menurut Ibn Jarir at-Thabary (w. 310 H) apa yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas di atas tentang penambahan qiraat menjadi ila ajalin musamma (hingga waktu yang ditentukan) telah menyalahi qiraat yang termaktub dalam Al- quran. Umar Ibn al-Khattab dalam pelarangan nikah mut’ah bukan melihat kepada mut’ahnya tetapi merupakan realisasi dari apa yang diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana disampaikan Umar ra. dalam khutbahnya ketika menjadi khalifah:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن لنا في المتعة ثلاثا ثم حرمها, و الله لا أعلم أحدا يتمتع وهو محصن إلا رجمته بالحجارة إلا أن يأتينى بأربعة يشهدون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أحلها بعد إذ حرمها (رواه ابن ماجة)

Bahwasanya Rasulullah saw. membolehkan kita untuk kawin kontrak tiga hari kemudian ia mengharamkannya. Demi Allah seandainya ada salah seorang yang melakukan mut’ah padahal ia sudah kawin, pastilah ia akan aku merajamnya dengan batu, kecuali ia datangkan kepadaku empat orang sebagai saksi bahwa Rasulullah saw. membolehkannya setelah mengharamkannya. (HR. Ibn Majah: Kitab al-Nikah)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Umar melarang nikah mut’ah bukan atas hasil ijtihad sendiri, akan tetapi berdasarkan larangan dari Rasulullah saw. Pendapat Ibnu Abbas ra. ten- tang nikah mut’ah yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. membolehkan nikah mut’ah karena kebutuhan biologis pada waktu perang dan jauh dari keluarga. Ia juga mengetahui bahwa Rasulullah saw. kemudian mengharamkannya pada masa Fathu Makkah yang diperkuat lagi dalam masa Haji Wada’.

Dari konteks hadis-hadis tentang nikah mut’ah, dapat dianalisis bahwa nikah mut’ah pada dasarnya lebih karena kondisi yang memaksa dan hanya bertujuan untuk bersenang-senang atau mendapatkan kenikmatan biologis sesaat saja. Konteks inilah yang harus selalu diperhatikan dalam membicarakan nikah mut’ah. Karenanya, nikah mut’ah bukanlah bertujuan membina keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, melainkan sekadar menyalurkan hasrat seksual. Apalagi hal itu sangat merugikan kaum perempuan. Sementara tujuan nikah da’im yang diharapkan adalah terbinanya keluarga ASMARA (Assakinah, Mawaddah, wa Rahmah) seperti dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Rum: 21:

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة و رحمة …..

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya (bersamanya). Dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (al-Rum: 21)

Beberapa Dampak Nikah Mut’ah

Jumhur ulama Sunni bersepakat bahwa dalam hal nikah mut’ah tidak ada warisan. Perpisahan dalam nikah mut’ah terjadi dengan selesainya waktu yang disepakati bersama, tanpa adanya talak. Al-Rafi’i (w. 623 H) mengatakan bahwa dalam nikah mut’ah tidak ada beban nafkah bagi laki-laki dan tidak saling mewarisi antara keduanya. Hal ini berdasarkan hadis:

روي عن عكرمة بن عمر بن سعيد عن أبى هريرة قال : خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك فتناولنا عند ثنية الوداع فرأى رسول الله مصابيح و نساء يبكين, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :”حرم المتعة, النكاح الطلاق, والعدة, والميراث” (رواه ابن حبان)

“Diriwayatakan oleh ‘Ikrimah bin ‘Ammar bin Sa’id dari Abi Hurairah ia berkata: “Kami ikut bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ketika kami tiba di Saniyat al-Wada’ Rasulullah saw. melihat pelita-pelita yang menyala dan perempuan- perempuan yang menangis mendayu-dayu. Rasulullah saw. berkata: “Diharamkan nikah mut’ah, nikah talak, iddah, waris”. (HR. Ibn Hibban).

Hadis ini dikisahkan ketika Rasulullah saw. dan sahabat pulang dari suatu peperangan. Ketika Rasulullah saw. dan para sahabat hendak berpisah, mereka melihat pelita yang menyala dan perempuan-perempuan menangis (merintih) dengan suara mendayu-dayu. Lalu para sahabat bertanya:

“Apakah itu ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Itu adalah suara perempuan yang berse- nang-senang (telah dinikahi secara mut’ah).” Kemudian Rasulullah berkata: “Diharamkan nikah mut’ah, nikah talak, iddah dan waris!” Dari hadis ini, jumhur ulama bersepakat bahwa nikah mut’ah hukumnya haram, sehingga mut’ah tidak disebut sebagai nikah, tidak ada iddah, juga talak dan waris di dalamnya.

Menurut Fiqh Syi’ah, bahwa antara pihak laki-laki dan perempuan dapat mewarisi tetapi dengan syarat warisan disepakati dan disebutkan dalam akad mut’ah. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama Syi’ah seperti Muhammad bin Makki al-‘Amili (w. 786 H), Muhammad Ibn al-Hassan al- Hurra al-‘Amili (w. 1101 H), Murtadla bin Muhammad al-Dzizfuli (w. 1214 H), mereka mengatakan bahwa di antara hukum-hukum mut’ah ada- lah pihak laki-laki tidak mewarisi pihak perempuan atau sebaliknya kecuali dengan syarat mereka memasukkannya dalam akad mut’ah dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Mereka (kalangan Syi’ah) mendasarkan pendapat pada:

  1. Aplikasi dari hadis: al-mukminun ‘ala syu- ruthihim, orang-orang beriman dinilai atas syarat-syarat (kesepakatan) yang mereka putuskan (HR. Tirmidzi). Ketika syarat itu telah disepakati dengan konsekuen maka harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak.
  2. Menurut Imam Ja’far, jika mereka hen- dak menetapkan syarat warisan dalam akad nikah mut’ah, maka mereka harus berpegang teguh pada syarat-syarat terse- but sesuai dengan kesepakatan mereka.
  3. Imam Ridla al-Din al-Thusi (w. 548 H) mengatakan hal yang sama, jika mereka menetapkan warisan dalam akad nikah mut’ah, maka syarat tersebut berlaku.

Jika dikaitkan dengan ‘iddah, kalangan ulama Syi’ah berpendapat bahwa ‘iddah harus dipatuhi dalam nikah mut’ah setelah masa bersenang-senang dalam nikah itu habis. Namun ‘iddah dalam nikah mut’ah berbeda dengan ‘iddah dalam nikah da’im. Ibnu Abbas ra. pernah ditanya oleh ‘Ammar Maula al-Syarid:

عن عمار مولى الشريد : سألت ابن عباس عن المتعة أسفاح هي أم نكاح ؟ قال : لا سفاح ولا نكاح. قلت فما هي ؟ قال : المتعة. قلت : هل عليها حيضة ؟ قال : نعم, قلت : يتوارثان؟ قال : لا

“Dari ‘Ammar maula al-Syarid aku bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah mut’ah, apakah itu termasuk zina atau nikah? Lalu ia menjawab: “bukan zina, juga bukan nikah”. Lalu aku bertanya, “lalu apa?” Ia menjawab: “itu adalah bersenang-senang saja”. Aku bertanya lagi, “apakah ia ada masa haidl?” Dia menjawab: “ya.” Aku bertanya lagi, “apakah saling mewarisi?” Ia menjawab: “tidak!”.

Berdasarkan pernyataan ini, ulama Syi’ah berpendapat, perempuan yang melakukan nikah mut’ah mempunyai masa iddah. Muhammad bin al-Hassan al-Hurra al-‘Amili (w. 1104 H) mengatakan dalam kitabnya al-Wasa’il, bagi perempuan yang telah nikah mut’ah (setelah habis masa nikahnya), maka masa ‘iddah-nya adalah dua kali masa haid. Imam al-Baqir, ketika ditanya tentang hal ini, menjawab untuk semua pernikahan, jika suami meninggal dunia istri harus menjalani masa ‘iddahnya sepuluh bulan sepuluh hari, baik budak maupun perempuan merdeka. Baik nikah permanen maupun mut’ah, masa ‘iddah perempuan merdeka yang dicerai adalah tiga bulan, adapun perempuan budak adalah setengahnya. Adapun ‘iddah perempuan nikah mut’ah sama seperti ‘iddah nikah perempuan budak dalam nikah biasa, yaitu setengah dari ‘iddah perempuan merdeka. Pada umumnya, mayoritas ulama Syi’ah seperti Syaikh al-Mufid, al-‘Allamah al-Hilli, dan Ibn Idris berpendapat bahwa masa ‘iddah istri mut’ah adalah dua kali masa haid.

Dalam kitab fiqh Imam Ja’far al-Shadiq dikatakan bahwa apabila istri yang diceraikan dalam nikah da’im dan belum digauli oleh suaminya, maka tidak ada ‘iddah baginya. Demikian juga dalam nikah mut’ah. Sedangkan apabila istri telah digauli maka ‘iddahnya tiga kali masa haid atau tiga bulan untuk menunggu apakah ia hamil atau tidak. Dalam nikah mut’ah, jika perempuannya sudah digauli dan sudah habis masa nikahnya maka ‘iddahnya adalah dua kali masa haid. Apabila suami meninggal dunia, maka masa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari (tidak ada perbedaan antara nikah da’im dan nikah mut’ah baik digauli maupun belum).

Kawin Kontrak: Perspektif Kritis

Islam sebagai agama fitrah menempatkan manusia, laki-laki dan perempuan secara sederajat dalam pandangan Allah (QS. 49: 13). Keduanya sama berperan dalam mewujudkan mahligai ru- mah tangga yang damai. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Walaupun demikian, nyatanya perempuan seringkali mengalami kehi- dupan yang lebih berat dari pada laki-laki. Dalam rumah tangga, perempuan lebih sering menjadi korban atau dikorbankan demi apa saja, termasuk juga demi menyelamatkan rumah tangga itu sendiri. Padahal sesungguhnya, perempuan bukanlah makhluk yang dapat diperjualbelikan atau benda mati yang seolah tidak memiliki perasaan jika disakiti, dieksploitir, diburu saat dibutuhkan, dan dihisap madunya untuk kemudian dicampakkan. Perempuan juga bukanlah benda mati yang bisa diperlakukan semena-mena atau diinjak-injak harga dirinya secara tidak manusiawi.

Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Karenanya, semua hal yang betentangan dengan semangat dasar kemanusiaan yang luhur tentu dilarang oleh Islam. Pendapat ini dapat ditelusuri dari kaidah agama yang menyatakan bahwa Islam menghormati lima hal prinsip utama (al-ushul al-khamsah), yaitu: perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan demikian, syariah nikah adalah mengacu pada lima prinsip di atas. Sementara nikah mut’ah bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.

Nikah mut’ah dalam praktiknya belakangan, seperti terjadi di kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur) merupakan bentuk pelecehan terhadap kemuliaan perempuan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat luhur di mata Tuhan. Kawin kontrak telah menghancurkan kehormatan perempuan dan merendahkan harga dirinya. Kawin kontrak tidak beda dengan menyuburkan perbuatan asusila di tengah masyarakat dan akhirnya menghancurkan bangunan sosio-moral masyarakat, bahkan eksistensi kemanusiaan itu sendiri.

Pendapat yang masih membolehkan nikah mut’ah tampaknya kurang sesuai dengan semangat ajaran dasar Islam itu sendiri yang rahmatan lil ‘alamin dan menghargai nilai kemanusiaan (takrim al-insaniyyah). Islam telah meletakkan da- sar-dasar membangun rumah tangga yang baha- gia, saling menghormati, saling mengasihi hingga waktu yang tidak dibatasi. Model pernikahan da- lam Islam adalah memegang prinsip mu’asyarah bi al-ma’ruf. Sedangkan dalam nikah mut’ah, manusia (laki-laki dan perempuan) hanya melihat dan dilihat dari sudut nafsu syahwat belaka. Begitu luhurnya makna pernikahan dalam Islam, sampai-sampai perceraian pun dinilai sebagai perbuatan yang dibenci Allah swt., walaupun dihalalkan (HR. Ibn Majah). Karenanya, seorang yang beriman akan berusaha menumbuhkan hubungan yang baik, adil dan saling menghormati antara suami-istri dan berusaha kuat untuk merealisasikan maksud Allah dalam kehidupan perkawinan yang sakinah mawaddah wa rahmah. Firman Allah:

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة و رحمة …..

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya (bersamanya). Dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (al-Rum: 21)

Di sisi lain, maraknya praktik kawin kontrak yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai prostitusi terselubung berkedok nikah ini, merupakan salah satu bentuk “kegagalan” negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Kebanyakan para perempuan dan keluarga perempuan yang menjadi korban kawin kontrak di Indonesia adalah disebabkan faktor kesulitan ekonomi. Dalam perspektif kritis, kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan sejumlah problem yang menghimpit rakyat kecil adalah tanggung jawab negara. Seperti di- amanatkan dalam UUD 1945 bahwa negaralah yang menjamin (setidaknya, meringankan beban) kehidupan fakir miskin dan anak-anak terlantar. Hal demikian secara nyata tercantum dalam UUD 45 pasal 34: (1). Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2). Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3). Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Karenanya, fenomena kawin kontrak yang marak di sejumlah kawasan tidaklah dapat dipandang secara sederhana dari satu sudut pandang saja. Apalagi hanya dengan menyalahkan para perempuan yang telah menjadi korban dengan menganggap atau menghakimi mereka sebagai “sampah masyarakat”. Mereka, para perempuan korban, sesungguhnya tidak pernah sama sekali bercita-cita menjadi korban kawin kontrak. Andai saja kebutuhan dasar mereka sebagai manusia tercukupi dengan baik dan dapat bekerja dengan baik pula, juga andai saja tidak ada laki-laki dari negeri seberang yang datang untuk mencari-cari perempuan dengan modus yang sangat rapi dan tidak dibantu oleh tim sukses di lapangan maka sangat mungkin fenomena praktik kawin kontrak tidak terjadi. Dengan demikian diperlukan cara pandang yang lebih luas dan meliputi berbagai aspek (sosial, ekonomi, politik, budaya, dan hukum) disertai dengan kebijakan negara (pusat maupun daerah) yang membela para korban sehingga problem kawin kontrak di Indonesia dapat diatasi dengan baik demi menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Langkah-langkah bernada represif dengan menggunakan kekerasan tidak akan mujarab atau efektif, jika akar masalahnya sendiri tidak diatasi terlebih dahulu.

Penutup

Dengan melihat sejumlah hadis-hadis Nabi di atas dan memperhatikan setting (kondisi) sosial terjadinya nikah mut’ah pada masa dahulu, serta melihat semangat dasar Islam dalam mengatur hubungan dan tujuan pernikahan, maka menjadi wajar jika kemudian Rasulullah saw. pada akhirnya mengharamkan nikah mut’ah atau kawin kontrak sejak saat itu dan sampai Hari Kiamat. Apalagi jika melihat secara cermat atas dampak-dampak negatif kawin kontrak terhadap aspek moral, kesehatan, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya, maka praktik kawin kontrak sepatutnya ditegaskan keharamannya dan tentunya ditindaklanjuti dengan kebijakan negara (political will) yang mendukung implementasi larangan kawin kontrak tersebut.

Wallahu ‘Alam Bishowab

Daftar Pustaka

Alquran al-Karim.

Abustani Ilyas, Telaah Kritis Hadis-hadis Nikah Mut’ah di dalam Kutub Sittah, (Disertasi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Jakarta: 2000 M.

Abu Dawud, Sulaiman bin Asy’as al-Sajistani, Sunan Abi Dawud, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Amili, Muhammad bin alHasan al-Hurra al, Wasail al-Syii, Teheran: 1966 M.

Asqalani, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-, Fath al-Bari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379

Bukhari, Muhammad ibn Isma’il Abu Abdillah al, Shahih alBukhari, Beirut: Dar alFikr, 1978

M. Hafidhuddin, Didin, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Aln-Nisa, Jakarta: Kalimah Thayyibah, 2000, cet. ke-1.

Majalah Gatra, No. 39, 10 Agustus 2006 M

Mughniyah, Muhammad Jawad al-, Fiqh Imam Jafar al- Shadiq, Iran: Mu’assasah Anshariyyah, 1999

Mustafa Ahmad alZarqa’, alMadkhal fi al-Fiqh al-Islam, Beirut: Dar alFikr, 1967 M.

Quraish, Shihab, M., Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian AlQuran, Jakarta: Lentera Hati, 2005, vol. 2, cet. ke-4.

Qurthuby, Abi ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al- Anshary al-, alJami’ al-Ahkam li al-Quran Tafsir al- Qurthuby, Kairo: Dar al-Syu’ab, 1372 H.

Sayyid Sabiq, Fiqh alSunnah, Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M.


[1] Kutub Sittah : istilah dalam kajian ilmu hadis untuk menunjukkan enam induk kitab hadis riwayat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah.

[2] Abustani Ilyas, Telaah Kritis Hadis-hadis Nikah Mut’ah di dalam Kutub Sittah, (Disertasi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Jakarta: 2000.

[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz V, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hal. 24-25

[4] Hamka, Ibid., hal. 26.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2005), cet. ke-5, vol. 2, hal. 405.

[6] Didin Hafidhuddin, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Al-Nisa, Jakarta: Yayasan Kalimah Thayyibah, 2000), cet. ke1, hal. 35-37. Lihat, Al-Shabuni, Rawa’iu al-Bayan, juz III, hal.458-459.

[7] Didin, Ibid., hal. 37

Tentang mazguru

Saya hanyalah seorang guru muda yang ingin berbagi ilmu, hikmah, kisah dan pengalaman.
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA, CURHAT, MASAIL FIQH, UBUDIYAH. Tandai permalink.

2 Balasan ke KAWIN KONTRAK, DILARANG TAPI MARAK

  1. Hello mates, pleasant article and nice arguments commented
    at this place, I am in fact enjoying by these.

  2. Antonia berkata:

    I all the time used to read article in news papers
    but now as I am a user of internet therefore from
    now I am using net for articles or reviews, thanks to web.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s