Arsip

Archive for the ‘MASAIL FIQH’ Category

Add-Ins Excel Kalkulator Zakat

Alhamdulillah, akhirnya proyek add-ins kalkulator zakat selesai juga. Sebetulnya proyek ini telah selesai pada bulan Sya’ban/Awal juli 2014 tapi baru saya rilis di blog ini. Aplikasi ini telah saya rilis di beberapa grup facebook yang saya ikuti. Mungkin Anda sudah mempunyai aplikasi zakat yang lainnya, tapi saya yakin aplikasi dari saya beda dengan yang lainnya karen berupa file excel kecil berformat add-ins pada Excel.

 

Aplikasi ini kompatibel untuk versi Excel 2007 dan diatasnya, berikut penampakan aplikasinya :

 

SEKILAS INFO :
————-
Kalkulator zakat merupakan aplikasi add-ins pada Microsoft Office Excel yang berguna untuk
menghitung jumlah zakat yang wajib dibayarkan oleh muzakki (orang yang mengeluarkan zakat).
Aplikasi ini dibuat dengan memanfaatkan fitur VBA pada Excel 2007. Add-ins Kalkulator Zakat
disusun sederhana dan user friendly agar mudah penggunaan-nya.
Aplikasi ini bersifat terbuka bagi siapapun.

 

SYARAT DAN KETENTUAN PENGGUNAAN APLIKASI :

  1. Aplikasi add-ins Kalkulator Zakat ini boleh disebarkan dan digandakan oleh siapapun tanpa adanya garansi dari programer.
  2. Programer tidak dapat dituntut secara hukum atas kerusakan dan kerugian yang terjadi selama Anda menggunakan aplikasi ini.
  3. Aplikasi ini hanya bersifat membantu Anda mengetahui jumlah zakat yang akan dibayarkan berdasarkan referensi yang digunakan di aplikasi ini.
  4. Perhitungan pada aplikasi ini tidak bersifat mutlak dan tidak wajib Anda ikuti jika Anda mempunyai pendapat yang lebih kuat.
  5. Jika ada kesalahan dalam perhitungan maupun perbaikan aplikasi, harap menghubungi programer di no.HP = 085701321215

 

PETUNJUK INSTALASI ADD-INS KALKULATOR ZAKAT :
———————————————
Add-ins Kalkulator Zakat di buat sebagai aplikasi tambahan (add-ins) pada Microsoft Office Excel 2007 dan versi diatasnya. Untuk versi sebelum 2007, programer belum mencobanya.

Berikut cara instalasinya :
1. Buka Microsoft Office Excel
2. Klik Office Button –> Excel Options –> Add-Ins –> klik Go –> Browse…–> pilih file zakat madzhab exceliyah.xlam –> OK
3. Aplikasi telah terpasang dan siap digunakan (^_^)

DONASI SUKARELA :
—————–
1. BRI a/n Muhammad Imron no.rek : 1313-01-001012-50-7
2. E-Batara Pos (BTN) K.P. Pekalongan, a/n Muhammad Imron
no.rek : 10083-01-57-001929-4
3. Kirim pulsa seikhlasnya ke no.HP : 085701321215

 

unduh

DALIL-DALIL SHOHIH MAULID NABI MUHAMMAD SAW

07/01/2012 41 komentar

Pencinta bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah tumbuh subur sejak dulu, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia, seperti di Yaman, Hijaz, Irak, Iran, Palestina, Uni Emirat Arab, Maroko, Mesir, Libya, Sudan, Uzbekistan, Kazakhtan, Tajikistan, India, Pakistan, Malaysia, Brunai Darusssalam, Singapura dan kawasan rumpun melayu lainnya.

Perayaan hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW, baru terjadi pada permulaan abad keenam Hijriyyah. Para sejarawan sepakat bahwa yang pertama kali mengadakan adalah Raja Irbil di Irak, yang dikenal ‘alim, bertaqwa dan pemberani , yaitu : Raja Al-Mudzaffar Abu Sa’id Kukuburi bin Zainuddion Ali Buktikin ( w. 630 H / 1232 M).

Para Ulama dari kalangan shufi, fuqaha dan ahli hadits menilai perayaan maulid ini termasuk Bid’ah hasanah (Bid’ah yang baik), yang dapat memberikan pahala bagi yang melakukannya.

Arti Bid’ah menurut Bahasa yaitu : menciptakan dan membuat sesuatu tanpa contoh yang terdahulu.
Syeikh Izzuddin bin Abdussalam seorang ulama besar dalam Madzhab Syafi’i (w. 660 H) di dalam kitabnya Qowa’idul Ahkam, menerangkan : “Bid’ah itu adalah suatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW”.

Menurut riwayat Abu Nu’aim, Imam Syafi’i berkata :
Bid’ah itu ada dua macam :

1. Bid’ah Hasanah (Bid’ah terpuji ) yaitu yang sesuai dengan Kitabullah, sunnah Nabi Saw, Atsar sahabat-sahabat dan Ijma’
2. Bid’ah Dlalalah (Bid’ah tercela) yaitu yang tidak sesuai atau menentang Kitabullah, sunnah Nabi Saw, atsar sahabat.

21 DALIL DALIL MAULID

===============
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca selengkapnya…

BID’AH

09/04/2009 3 komentar

Oleh Habib Munzir Al Musawa

http://majelisrasulullah.org

 

Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.

  

Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

 

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas Islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ‘Ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru

demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :

“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”,

yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,

 

Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya

islam, Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll,

berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat

kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw :

“Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

 

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).

 

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan

Tabi’in.

 

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?

 

Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”

Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

 

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan(menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata :

“Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang

Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (MustadrakAlasshahihain hadits no.329).

 

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :

“Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.

Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

 

Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

 

Bid’ah Dhalalah

 

Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar

syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana

sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw.

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.

Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwamereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul

saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul

pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.

 

Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karenadengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidakdibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?

Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih

mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

 

Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,

Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah

perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

 

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

 

1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)

Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar

bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

 

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah

“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak

sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapamembuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala

orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, danbarangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

 

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)

“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang

baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk

dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

 

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.

Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.

(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy

rahimahullah

Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak

punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

 

Walillahittaufiq

Kategori:MASAIL FIQH

KAWIN KONTRAK, DILARANG TAPI MARAK

15/11/2008 2 komentar

Muqoddimah

Maraknya praktik kawin kontrak atau yang dalam kajian fikih disebut nikah mut’ah ini menjadi perlu disorot kembali karena dampaknya sudah sedemikian mengkhawatirkan. Dampak tersebut, tidak saja bagi kaum perempuan sebagai korban paling parah, tetapi juga sangat mencederai dan mencabik-cabik nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam Islam dan juga semua agama. Kawin kontrak belakangan tumbuh subur di daerah sentra-sentra wisata, kawasan bisnis dan wilayah tertentu yang mempunyai latar belakang pendidikan penduduknya rendah serta masyarakatnya miskin. Di daerah Bogor dan sekitarnya, kawin kontrak sudah menjadi salah satu mata pencaharian wanita, hal ini tentunya perlu kita kaji lebih dalam mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Membicarakan topik kawin kontrak hampir tak lepas dari pro dan kontra. Walaupun mayoritas atau jumhur ulama di seluruh dunia menyatakan keharaman kawin kontrak berdasarkan dalil-dalil yang sangat mutawatir (dan karenanya valid atau sahih), namun masih saja ada sejumlah kalangan yang menjadikannya sebagai alat legalisasi pesta syahwat seksual. Mereka yang pro dengan kawin kontrak mengungkapkan sejumlah argumentasi dan dalil, salah satunya adalah faktor dorongan biologis, di satu sisi dan faktor kesulitan ekonomi di sisi lain. Begitu pula yang menolaknya, menampilkan sejumlah ayat, hadis, maupun dalil realitas sosial seputar dampak-dampak negatifnya.

Menilik Lebih Jauh Nikah Mut’ah dari Pandangan Islam

Berbicara nikah mutah tidak lepas dari pengertian nikah dan mutah. Nikah merupakan bentuk masdar dari kata kerja nakaha, yankihu, ni- kahan yang berarti al-jamu wa al-dhammu (peng- gabungan dan pengumpulan). Secara terminologi, arti nikah sebagaimana dikutip oleh Mustafa Ahmad al-Zarqa (w. 1357 H) adalah akad yang menjadikan halalnya melakukan hubungan seksual antara suami dan istri dengan lafaz nikah atau tazwij

التزويج او النكاح بلفظ وطئ إباحة يتظمّن عقد هو النكاح

Sedangkan dalam pengertian lain, nikah sama dengan tazwij atau zawaj yang merupakan bentuk masdar dari kata zawwaja, yuzawwiju, tazwijan yang mengandung makna al-qarn wa al-iqtiran (hubungan kedekatan atau mendekatkan). Dilihat dari terminologinya, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Abu Zahra (w. 1974 M), arti zawaj adalah suatu akad yang membolehkan (menghalalkan) melakukan hubungan suami istri antara seorang laki-laki dan perempuan, saling kerjasama antarkeduanya, dan menimbulkan batasan hak dan kewajiban antar keduanya sesuai dengan yang telah ditentukan.

Adapun definisi mut`ah berasal dari kata mata’a yamta’u mutu’an yang dijadikan bentuk fi`il khumasi menjadi tamatta’a yatamatta’u tamattu’an yang berarti bersenang-senang. Dari pengertian ini, nikah mut’ah menurut jumhur ulama adalah seorang laki-laki mengawini perempuan dengan jumlah mahar tertentu dan dengan waktu tertentu, baik untuk waktu panjang ataupun pendek. Nikah mut’ah sering disebut kawin kontrak karena sifat waktunya yang dibatasi oleh suatu kontrak di awal hubungan. Pernikahan mut’ah ini akan berakhir dengan berakhirnya waktu akad, tanpa jatuh talak. Artinya, tertalak dengan sendirinya, jika waktu yang ditentukan telah tiba. Tidak ada tanggungan nafkah dari pihak suami kepada istri dan anak- anak (jika memiliki anak), tanggungan tempat tinggal, dan juga tidak bisa saling mewarisi di antara keduanya. Contohnya, seorang laki-laki berkata kepada seorang perempuan: Aku bermut`ah kepadamu dengan waktu sepuluh hari dengan mahar sepuluh juta Rupiah”. Kemudian sang perempuan menjawab: “Aku terima mut`ahmu” maka terlaksanalah kawin mut`ah sesuai dengan kesepakatan tersebut.

Dari uraian di atas, tampak jelas perbedaan antara nikah da`im (nikah biasa untuk waktu yang tidak dibatasi) dan nikah mut`ah dalam beberapa hal:

1. Dari aspek akad; ada pembatasan waktu dalam kawin kontrak. Sedangkan dalam nikah daim, tidak ada pembatasan waktu.

2. Dari aspek tanggung jawab; tidak ada beban tanggung jawab (nafkah dan tempat tinggal) bagi suami terhadap istri dan anak-anak hasil nikah mut’ahnya.

3. Dari aspek konsekuensi hukum; tidak ada saling mewarisi, sekiranya ada yang meninggal dalam masa perkawinan kontrak tersebut.

Sekilas Praktik Nikah Mut`ah Tempo Dulu

Nikah mut`ah pernah terjadi pada masa periode awal Islam. Saat itu kaum Muslim dalam kondisi yang sulit, yakni berperang melawan kaum kafir dan melakukan perjalanan jauh meninggalkan negerinya. Karenanya, mereka tidak dapat menyalurkan hasrat biologisnya secara sempurna. Beberapa di antara mereka, sebelumnya sudah terbiasa dengan kehidupan seksual ala Arab yang mempunyai banyak istri. Mereka berhubungan seksual dengan istri yang mereka kehendaki dan meninggalkan istri yang tidak lagi menarik. Ketika mereka menjadi muslim dengan aturan yang ketat dalam hal hubungan seksual, maka sulit bagi mereka untuk berperang tanpa diperbolehkan melakukan nikah mut`ah. Karena untuk kepentingan sesaat maka nikah ini disebut mut’ah, bersenang-senang yang bersifat sementara dan tidak ada ikatan permanen.

Oleh karenanya diperbolehkannya nikah mut`ah secara terbatas dalam kondisi yang terbatas pula pada waktu itu adalah dalam situasi khusus di masa awal Islam. Di awal masa perkembangan Islam dan juga dalam konteks peperangan, Nabi memberi kelonggaran dilakukannya nikah mut’ah. Namun ketika waktunya sudah dinilai tepat oleh Nabi, maka nikah mut’ah dilarang atau diharamkan. Banyak hadis yang menjelaskan larangan Nabi ini. Menurut penelitian Abustani Ilyas, hadis-hadis tentang nikah mut’ah di dalam Kutub Sittah[1] sebanyak 45 riwayat.[2] Hadis-hadis tersebut secara umum melarang atau mengharamkan praktik nikah mut’ah. Walaupun, sekali lagi, sebelumnya Nabi pernah memberi kelonggaran. Pada akhirnya, setelah memberi ruhsah itu, Nabi kemudian secara tegas mengharamkan kawin kontrak.

Beberapa hadis Nabi yang menjelaskan tentang nikah mut’ah, antara lain sebagai berikut:

1. Pada Perang Khaibar (7 H/ 628 M)

أن عليا بن أبى طالب قال لإبن عباس : إن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة وعن لحوم الخمر (الأهلية) الإنسية زمن خيبر (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. Ia berkata kepada ibn Abbas: “Rasulullah saw. melarang nikah mut`ah pada masa Perang Khaibar dan melarang memakan daging keledai jinak (yang biasa dipakai sebagai sarana/peliharaan)”. (HR. Bukhari: Kitab al-Nikah, no. 5115 dan HR. Muslim: Kitab al-Nikah)

2. Pada Masa Fathu Makkah (8 H/630 M)

عن الربيع بن سبره أن أباه غزا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فتج مكة قال : فأقمن بها خمس عشرة ثلاثين بين ليلة ويوم, فأذن لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في متعة النساء. فخرجت أنا ورجل من قومي ولي عليه فضل في الجمال وهو قريب من التمامة مع كلِّ واحدٍ منا برد فبردي خلق وإما برد ابن عمي فبرد جديد غض حتى إذا كنا بأسفل مكة أو بأعلاها فتلقتنا فتاة مثل البكرة العنطنطة فقلنا هل لك أن يستمتع منك أحدنا, وما تبذلان؟ فنشركل واحد منا برده فجعلت تنظر إلى الرجلين ويراها صاحبي إلى عطفها, فقال : إن برد هذا خلق وبردي جديد غض فتفول برد هذا لا بأس به ثلاث مرار أو مرتين ثم استمتعت منها فلم أخرج حتى حرّمها رسول الله.

(رواه مسلم)

Artinya: Dari al-Rabi’ bin Sabrah, sungguh bapaknya berperang bersama Rasulullah saw. dalam pembebasan Mekah (fathu makkah) ia berkata: “Kami berdiam di Mekah selama lima belas hari dari tiga puluh hari, maka Rasulullah saw. memberi izin kapada kami melakukan kawin mut`ah dengan perempuan. Kemudian kami pergi bersama seorang laki-laki dari kaumku. Aku lebih tampan darinya sedangkan ia kurang tampan. Kami sama-sama membawa selendang. Selendangku lebih buruk darinya. Sampailah kami di tengah kota Mekah. Kami bertemu perempuan-perempuan yang sangat cantik. Kemudian kami bertanya, “Apakah salah seorang di antara kami ada yang bisa menikah mut’ah denganmu?” Ia menjawab: “Apa yang akan kamu berikan (sebagai mahar)?” Lalu kami sama-sama membentang selendang. Kemudian sahabatku berkata: “Selendang ini lebih buruk, sementara selendangku lebih baru dan lem- but”. Perempuan itu menjawab, “Selendang yang ini tidak apa-apa”. Kata-kata itu diulangi tiga atau dua kali” Kemudian kami menikah mut`ah dengannya. Saya tidak keluar dari rumah (sewaktu Mut`ah itu) sampai Rasulullah saw. mengharamkannya (melarang nikah mut’ah)”

(HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

3. Pada Tahun Authas (8 H/ 630 M)

عن إياس بن سلمة عن أبيه قال : رخّص رسول الله صلى الله عليه وسلم أوطاس فى المتعة ثلاثا ثم نهى عنها. (رواه المسلم)

Dari Iyas bin Salamah dari bapaknya, ia ber- kata bahwa Rasulullah saw. Memberi keringanan (membolehkan sementara) kawin mut`ah pada tahun Authas selama tiga hari kemudian melarangnya”. (HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

4. Pada Masa Haji Wada’ (11 H/632 M )

عن الزهري قال : كنا مع عمر ابن عبد العزيز فتذاكرنا متعة النساء فقال رجل يقال له ربيع بن سبرة : أشهد على أبى أنه حدّث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عنها فى حجة الوداع

(رواه أبو داود)

Artinya: Dari al-Zuhri, ia berkata: Ketika kami bersama Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, sedang membi- carakan tentang nikah mut`ah, lalu ada seseorang, yaitu Rabi’ ibn Sabrah berkata: “Saya bersaksi demi bapak saya bahwa bapakku memberitakan sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarangnya pada masa Haji Wada’”. (HR. Abu Dawud: Kitab al-Nikah, no. 2072).

Pendapat Ulama Mayoritas

Jumhur ulama bersepakat bahwa nikah mut`ah adalah haram dan bathil (illegal) karena Rasulullah saw. melarangnya setelah memberi keringanan sementara karena kondisi sulit pada masa itu. Jumhur ulama telah sampai pada standar ijmak dalam mengharamkan nikah mut`ah atau kawin kontrak ini. Apalagi setelah adanya penegasan larangan oleh khalifah Umar bin Khattab (13 H/644 M). Ketika Umar ra. berdiri memberikan khutbah, sebagian hadirin dan sahabat Nabi di antaranya Ali bin Abi Thalib kw. (karramallahu wajhah, semoga Allah memuliakannya selalu). Riwayat yang menguatkan larangan ini adalah surat Al-Nisa`: 25.

فأنكحوا هن بإذن أهلهن

Artinya:” …kawinilah mereka dengan seizin keluarga (orang tua) mereka…”

Dan juga al-Mukminun: 5-6:

والذين هم لفروجهم حافظون. إلا على أزواجهم أو ماملكت أيمانهم فإ نهم غير ملومين

Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki (ketika masih ada perbudakan). sesungguhnya dalam hal ini tiada tercela. (QS. al-Mukminun: 5-6).

Pengharaman ini tentunya didasarkan pula pada sejumlah hadis sahih mencapai derajat mutawatir, salah satunya adalah:

عن الربيع إبن سبرة الجهني أن أباه حد ثه أنه كان مع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال :

يا أيها الناس إني قد كنت أذنت لكم في الإستمتاع من النساء وإن الله قد حرم ذالك إلى يوم القيامة

فمن كان عنده منهن شيئ فليخل سبيله ولا تأجذوا مما أتيتموهن سيأ (رواه مسلم)

Artinya: Dari Rabi’ ibn Sabrah al-Juhani, ia berkata: ayahnya mengabarkan kepadanya bahwa ia bersama Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sungguh aku pernah mengizinkan kalian melakukan nikah mut’ah dan (kini) Allah telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat. Karenanya, siapa saja yang masih memiliki istri secara mut’ah, maka bebaskanlah (lepaskanlah) dan janganlah kalian mengambil apa-apa yang pernah kamu berikan kepadanya sedikitpun.” (HR. Muslim: Kitab al-Nikah).

Teks hadis di atas menunjukkan bahwa dibolehkannya nikah mut’ah saat itu adalah karena kondisi sulit yang terjadi di mana umat Muslim sedang dalam masa berperang yang menghabiskan waktu sangat panjang. Adapun untuk masa selanjutnya, Rasulullah saw. telah mengharamkan selama-lamanya berdasarkan dampak-dampak dan perubahan kondisi yang sudah tidak sesuai. Karena itu, hadis di atas (dan hadis lainnya yang diriwayatkan oleh para ahli Hadis terkenal), menjadi dasar bahwa kawin kontrak atau nikah mut’ah itu diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di kalangan ulama Indonesia, Buya Hamka juga membahas panjang mengenai nikah mut’ah ini dalam Tafsir Al-Azhar-nya. Menurutnya, nikah mut’ah tidak lain merupakan pembelokan dari hukum Tuhan. Artinya, akal-akalan orang yang hanya ingin memperturutkan hawa nafsu saja. Pembolehan sementara oleh Nabi saw. pada masa kondisi perang adalah berlaku sesaat sembari mengondisikan mental kaum muslim setelah mereka menjalani tradisi Jahiliah yang telah beruratberakar hidup dalam kebebasan seksual. Karenanya pembolehan itu tidak lebih merupakan proses tadrij (angsuran) sebelum menetapkan hukum yang sesungguhnya, yakni haram.[3] Dengan demikian jika nikah mut’ah ini tetap dilakukan sama saja dengan praktik pelacuran untuk bersenang-senang satu malam lalu pagi-pagi dibayarkan sewanya.[4]

Demikian pula Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan fatwa tentang haramnya ni- kah mut’ah atau kawin kontrak dengan sejumlah argumentasi. MUI melihat bahwa kawin kontrak banyak menimbulkan masalah dan keresahan bagi masyarakat secara umum. Fatwa MUI tersebut dikeluarkan pada tanggal 25 Oktober 1997.

Tidak ketinggalan, Prof. DR. M. Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer, dalam Tafsir Al- Mishbah-nya menyatakan bahwa secara umum para ulama berpendapat bahwa nikah mut’ah adalah haram. Nikah mut’ah menurutnya, bertentangan dengan tujuan nikah yang dikehendaki Alquran dan Sunnah, yakni pernikahan yang langgeng, sehidup semati, bahkan sampai Hari Kemudian (QS. Ya Sin: 56). Quraish Shihab menambahkan bahwa pernikahan antara lain dimaksudkan untuk melanjutkan keturunan, dan keturunan itu hendaknya dipelihara dan dididik oleh kedua orang tuanya. Hal demikian tentu tidak dapat dicapai, jika pernikahan hanya berlangsung beberapa hari, bahkan beberapa tahun sekalipun.[5]

Secara lebih rinci, Dr. Didin Hafidhuddin, da- lam bukunya, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Al- Nisa’, menegaskan bahwa pernikahan yang sifatnya sementara waktu (mut’ah) diharamkan karena tidak sesuai dengan tujuan kehidupan yang dimaksudkan Allah swt. Didin mengutip kitab Tafsir Rawa’i al-Bayan bahwa ada beberapa alasan mengapa nikah mut’ah diharamkan. Pertama, perka- winan biasa membawa konsekuensi adanya kewarisan, ada iddah yang jelas, dan juga garis nasab/keturunan yang jelas antara anak dan orang tua. Sedangkan dalam kawin kontrak, ketiga hal tersebut tidak jelas, bahkan tidak ada. Kedua, hadis-hadis Nabi secara jelas (musharrihah) mengharamkan perkawinan sementara waktu (mut’ah). Tidak ada satupun hadis yang membolehkan adanya nikah mut’ah tanpa kemudian disusul dengan larangan yang jelas hingga Hari Kiamat. Ketiga, para sahabat sepakat (ijmak) terhadap haramnya nikah mut’ah ini, seperti juga ditegaskan oleh Umar ibn Khattab ra. ketika menjadi khalifah. Kelima, nikah mut’ah tidak memiliki tujuan mulia seperti keluarga yang sakinah/tenteram, punya keturunan yang shaleh atau mendidik anak seba- gaimana nikah biasa. Semua nikah mut’ah dilakukan karena hanya untuk melampiaskan hawa nafsu. Karenanya, sangat menyerupai zina (yusybihu al-zina) sehingga ijmak ulama pun sepakat atas keharaman nikah mut’ah.[6]

Didin juga mengutip pendapat Imam (Yusuf) Al-Qardhawi bahwa haramnya nikah mut’ah adalah ijmak. Hanya sebagian kecil saja di kalangan Syi’ah yang membolehkannya. Bahkan, Iman Ja’far ibn Muhammad (seorang ulama Syi’ah) ketika ditanya oleh Al-Baihaqi, muridnya, tentang nikah mut’ah. Imam Ja’far menyatakan: “Nikah mut’ah adalah zina secara terang-terangan”.[7]

Pandangan Ulama Syi’ah

Sebagian ulama Syi’ah berpendapat bahwa ni- kah mut’ah diperbolehkan pada awal periode pe- ngembangan Islam sampai Hari Kiamat. Dan dinyatakan pula bahwa belum ada dalil yang membuktikan bahwa nikah mut’ah telah dihapus. Menurut Syi’ah syarat perempuan yang dinikahi secara mut’ah haruslah perempuan Muslim, Kitabiyah (ahlu al-kitab seperti Yahudi dan Nasrani). Persyaratan akad mut’ah hanya ada dua, yaitu: ijab dan qabul dengan kalimat akad:

v نكحتك : Saya nikahi engkau

v تزوجتك : Saya kawini engkau

v متعتك : Saya kawin kontrak engkau

Waktu lamanya mut’ah merupakan syarat dalam pernikahan mut’ah dengan harus membatasi lama perkawinannya. Hal ini diserahkan kepada kedua belah pihak yang mengadakan akad. Selain itu harus ada mahar yang disepakati oleh kedua belah pihak dengan dasar saling ridla, baik sedikit atau banyak, walaupun hanya dengan segenggam gandum.

Menurut sebagian ulama Syi’ah, pembolehan nikah mut’ah adalah perkara ijmak (di kalangan mereka). Dan ijmak dalam hal ini adalah ijmak mutlak. Sementara pendapat-pendapat yang berseberangan dengan ini hanya berdasarkan dzanni (dugaan kuat) saja. Sedangkan yang dzanni tidak bisa menghapus yang qath’i (pasti). Kalangan Syi’ah bahkan menganggap bahwa nikah mut’ah adalah suatu amal yang mendekatkan diri kepada Allah, dengan menggunakan argumen Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat : 24 :

…. فما استمتعتم به منهن فأتوهن أجورهن فريضة….

Artinya: “… maka istri-istri yang kamu nikmati(campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai ketetapan/kewajiban…”

Selain itu juga didasarkan pada hadis Nabi :

عن جابر بن عبد الله و سلمة بن الأكوع قالا كنا في جيش فأتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إنه قد أَذِنَ لكم أن تستمتعوا, فاستمتعوا. وقال ابن ابي ذئب جدَّثنى إياس بن سلمة ابن الأكوع عن أبيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أيما رجل وامرأة توافقا فعشرة ما بينهما ثلاث ليال, فإن أحبّا أن يتزايدا أو يتتاركا تتاركا فما أدري أشيء كان لنا خاصّة ام للناس عامّة. قال أبو عبد الله وبيّنه عليّ عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه منسوخ (رواه البخارى)

Dari Jabir Ibn ‘Abdullah dan Salamah bin al- Akwa’ bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Telah diizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka menikah mut’ahlah” Dan Ibn Abi Dzi’b berkata bahwa Iyas ibn Salamah ibn al-Akwa’ menceritakan dari bapaknya, dari Rasulullah saw. bahwa manakala seorang laki-laki dan perempuan sepakat untuk bergaul (melakukan hubungan nikah) selama tiga malam di antara mereka, jika mereka saling suka (merasa enak) bisa menambah atau jika saling ingin meninggalkan (berpisah) maka silakan berpisah”. (Salamah berkata), “Saya tidak tahu apakah hal ini berlaku khusus bagi kami ataukah berlaku umum untuk semua manusia. Abu Abdillah berkata bahwa Ali menjelaskan dari Nabi saw. bahwa hal (ketentuan) ini telah dihapuskan. (HR. Bukhari: Kitab al-Nikah: 5117-5118)

Masih menurut Syi’ah, bahwa wajh al-istidlal-nya adalah al-istimta’ (bersenang-senang), di da- lamnya ada al-ajru (upah) dan mahar yang meru- pakan bagian dari istimta’. Inilah nash (teks) yang menjelaskan bahwa upah adalah mahar dan sebagai dalil bahwa mahar adalah sebagai ganti daripada jimak (hubungan seksual), sementara pengganti nafkah disebut upah (ajr). Ayat di atas juga menjelaskan dibolehkannya nikah mut’ah, di mana seorang laki-laki harus memberikan upah (ajr) kepada seorang perempuan karena telah menggaulinya. Hal ini dikuatkan lagi dengan qiraat (bacaan Alquran) dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas yang menambahkan bacaan tambahan dalam ayat di atas sehingga menjadi :

…. فما استمتعتم به منهن “إلى أجل مسمى” فأتوهن أجورهن ….

Maka istri-istri yang telah kamu nikmati diantara mereka “hingga batas waktu tertentu”, maka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)”.

Dalam Majma’ al-Bayan al-Tharbasi karya Imam al-Tharbasi (w. 548 H/1153 M), ahli tafsir dari kalangan Syi’ah, ia berpendapat bahwa kalimat istimta’ (menikmati) dalam ayat ini mengacu pada nikah mut’ah, yaitu pernikahan untuk masa tertentu dan mahar tertentu yang ditetapkan. Sesungguhnya ini telah jelas betul kata istimta’ dan mut’ah mempunyai makna literal “menikmati”, oleh sebab itu makna ayat di atas “kapan saja engkau melakukan akad nikah mut’ah dengan perempuan, maka engkau harus membayar mut’ah kepadanya”. Ini menunjukkan, menurutnya, bahwa nikah mut’ah belum dihapus di zaman Rasulullah saw.

Perdebatan tentang Nikah Mut’ah

Argumen Syi’ah di atas mengatakan bahwa ni- kah mut’ah diperbolehkan sejak awal periode Islam. Sementara jumhur ulama Sunni berpendapat bahwa awal periode Islam adalah masa pengembangan tasyri’ sehingga kalau hukum Islam diterapkan secara sungguh-sungguh terhadap kaum muslimin pada waktu itu atau ajaran Islam diberlakukan secara ketat soal hubungan seksual, maka akan sangat sulit bagi umat waktu itu untuk berperang tanpa memuskan hasrat seksualnya. Jika hasrat itu ditahan dengan cara lain seperti puasa, tentunya akan mengurangi kemampuan berperang bagi para tentara karena tenaga mereka berkurang. Kekurangan tenaga merupakan suatu pantangan dalam masa perang. Dalam konteks inilah kelonggaran itu diberikan oleh Nabi saw. Larangan Rasulullah saw. kepada mereka untuk melakukan nikah mut’ah ketika itu bertujuan untuk mencegah dan menjauhkan mereka dari sifat-sifat jahiliah yang selalu terbiasa melakukan mut’ah. Diterapkannya syari’at secara bertahap merupakan metode yang dibangun oleh syari’at Islam (al-tadrij fi al-tasyri’, berangsur dalam penetapannya) dengan tujuan tidak membebani kaum muslimin sesuai kondisi saat itu.

Menurut Ibn Jarir at-Thabary (w. 310 H) apa yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas di atas tentang penambahan qiraat menjadi ila ajalin musamma (hingga waktu yang ditentukan) telah menyalahi qiraat yang termaktub dalam Al- quran. Umar Ibn al-Khattab dalam pelarangan nikah mut’ah bukan melihat kepada mut’ahnya tetapi merupakan realisasi dari apa yang diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana disampaikan Umar ra. dalam khutbahnya ketika menjadi khalifah:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن لنا في المتعة ثلاثا ثم حرمها, و الله لا أعلم أحدا يتمتع وهو محصن إلا رجمته بالحجارة إلا أن يأتينى بأربعة يشهدون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أحلها بعد إذ حرمها (رواه ابن ماجة)

Bahwasanya Rasulullah saw. membolehkan kita untuk kawin kontrak tiga hari kemudian ia mengharamkannya. Demi Allah seandainya ada salah seorang yang melakukan mut’ah padahal ia sudah kawin, pastilah ia akan aku merajamnya dengan batu, kecuali ia datangkan kepadaku empat orang sebagai saksi bahwa Rasulullah saw. membolehkannya setelah mengharamkannya. (HR. Ibn Majah: Kitab al-Nikah)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Umar melarang nikah mut’ah bukan atas hasil ijtihad sendiri, akan tetapi berdasarkan larangan dari Rasulullah saw. Pendapat Ibnu Abbas ra. ten- tang nikah mut’ah yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. membolehkan nikah mut’ah karena kebutuhan biologis pada waktu perang dan jauh dari keluarga. Ia juga mengetahui bahwa Rasulullah saw. kemudian mengharamkannya pada masa Fathu Makkah yang diperkuat lagi dalam masa Haji Wada’.

Dari konteks hadis-hadis tentang nikah mut’ah, dapat dianalisis bahwa nikah mut’ah pada dasarnya lebih karena kondisi yang memaksa dan hanya bertujuan untuk bersenang-senang atau mendapatkan kenikmatan biologis sesaat saja. Konteks inilah yang harus selalu diperhatikan dalam membicarakan nikah mut’ah. Karenanya, nikah mut’ah bukanlah bertujuan membina keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, melainkan sekadar menyalurkan hasrat seksual. Apalagi hal itu sangat merugikan kaum perempuan. Sementara tujuan nikah da’im yang diharapkan adalah terbinanya keluarga ASMARA (Assakinah, Mawaddah, wa Rahmah) seperti dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Rum: 21:

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة و رحمة …..

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya (bersamanya). Dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (al-Rum: 21)

Beberapa Dampak Nikah Mut’ah

Jumhur ulama Sunni bersepakat bahwa dalam hal nikah mut’ah tidak ada warisan. Perpisahan dalam nikah mut’ah terjadi dengan selesainya waktu yang disepakati bersama, tanpa adanya talak. Al-Rafi’i (w. 623 H) mengatakan bahwa dalam nikah mut’ah tidak ada beban nafkah bagi laki-laki dan tidak saling mewarisi antara keduanya. Hal ini berdasarkan hadis:

روي عن عكرمة بن عمر بن سعيد عن أبى هريرة قال : خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك فتناولنا عند ثنية الوداع فرأى رسول الله مصابيح و نساء يبكين, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :”حرم المتعة, النكاح الطلاق, والعدة, والميراث” (رواه ابن حبان)

“Diriwayatakan oleh ‘Ikrimah bin ‘Ammar bin Sa’id dari Abi Hurairah ia berkata: “Kami ikut bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ketika kami tiba di Saniyat al-Wada’ Rasulullah saw. melihat pelita-pelita yang menyala dan perempuan- perempuan yang menangis mendayu-dayu. Rasulullah saw. berkata: “Diharamkan nikah mut’ah, nikah talak, iddah, waris”. (HR. Ibn Hibban).

Hadis ini dikisahkan ketika Rasulullah saw. dan sahabat pulang dari suatu peperangan. Ketika Rasulullah saw. dan para sahabat hendak berpisah, mereka melihat pelita yang menyala dan perempuan-perempuan menangis (merintih) dengan suara mendayu-dayu. Lalu para sahabat bertanya:

“Apakah itu ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Itu adalah suara perempuan yang berse- nang-senang (telah dinikahi secara mut’ah).” Kemudian Rasulullah berkata: “Diharamkan nikah mut’ah, nikah talak, iddah dan waris!” Dari hadis ini, jumhur ulama bersepakat bahwa nikah mut’ah hukumnya haram, sehingga mut’ah tidak disebut sebagai nikah, tidak ada iddah, juga talak dan waris di dalamnya.

Menurut Fiqh Syi’ah, bahwa antara pihak laki-laki dan perempuan dapat mewarisi tetapi dengan syarat warisan disepakati dan disebutkan dalam akad mut’ah. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama Syi’ah seperti Muhammad bin Makki al-‘Amili (w. 786 H), Muhammad Ibn al-Hassan al- Hurra al-‘Amili (w. 1101 H), Murtadla bin Muhammad al-Dzizfuli (w. 1214 H), mereka mengatakan bahwa di antara hukum-hukum mut’ah ada- lah pihak laki-laki tidak mewarisi pihak perempuan atau sebaliknya kecuali dengan syarat mereka memasukkannya dalam akad mut’ah dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Mereka (kalangan Syi’ah) mendasarkan pendapat pada:

  1. Aplikasi dari hadis: al-mukminun ‘ala syu- ruthihim, orang-orang beriman dinilai atas syarat-syarat (kesepakatan) yang mereka putuskan (HR. Tirmidzi). Ketika syarat itu telah disepakati dengan konsekuen maka harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak.
  2. Menurut Imam Ja’far, jika mereka hen- dak menetapkan syarat warisan dalam akad nikah mut’ah, maka mereka harus berpegang teguh pada syarat-syarat terse- but sesuai dengan kesepakatan mereka.
  3. Imam Ridla al-Din al-Thusi (w. 548 H) mengatakan hal yang sama, jika mereka menetapkan warisan dalam akad nikah mut’ah, maka syarat tersebut berlaku.

Jika dikaitkan dengan ‘iddah, kalangan ulama Syi’ah berpendapat bahwa ‘iddah harus dipatuhi dalam nikah mut’ah setelah masa bersenang-senang dalam nikah itu habis. Namun ‘iddah dalam nikah mut’ah berbeda dengan ‘iddah dalam nikah da’im. Ibnu Abbas ra. pernah ditanya oleh ‘Ammar Maula al-Syarid:

عن عمار مولى الشريد : سألت ابن عباس عن المتعة أسفاح هي أم نكاح ؟ قال : لا سفاح ولا نكاح. قلت فما هي ؟ قال : المتعة. قلت : هل عليها حيضة ؟ قال : نعم, قلت : يتوارثان؟ قال : لا

“Dari ‘Ammar maula al-Syarid aku bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah mut’ah, apakah itu termasuk zina atau nikah? Lalu ia menjawab: “bukan zina, juga bukan nikah”. Lalu aku bertanya, “lalu apa?” Ia menjawab: “itu adalah bersenang-senang saja”. Aku bertanya lagi, “apakah ia ada masa haidl?” Dia menjawab: “ya.” Aku bertanya lagi, “apakah saling mewarisi?” Ia menjawab: “tidak!”.

Berdasarkan pernyataan ini, ulama Syi’ah berpendapat, perempuan yang melakukan nikah mut’ah mempunyai masa iddah. Muhammad bin al-Hassan al-Hurra al-‘Amili (w. 1104 H) mengatakan dalam kitabnya al-Wasa’il, bagi perempuan yang telah nikah mut’ah (setelah habis masa nikahnya), maka masa ‘iddah-nya adalah dua kali masa haid. Imam al-Baqir, ketika ditanya tentang hal ini, menjawab untuk semua pernikahan, jika suami meninggal dunia istri harus menjalani masa ‘iddahnya sepuluh bulan sepuluh hari, baik budak maupun perempuan merdeka. Baik nikah permanen maupun mut’ah, masa ‘iddah perempuan merdeka yang dicerai adalah tiga bulan, adapun perempuan budak adalah setengahnya. Adapun ‘iddah perempuan nikah mut’ah sama seperti ‘iddah nikah perempuan budak dalam nikah biasa, yaitu setengah dari ‘iddah perempuan merdeka. Pada umumnya, mayoritas ulama Syi’ah seperti Syaikh al-Mufid, al-‘Allamah al-Hilli, dan Ibn Idris berpendapat bahwa masa ‘iddah istri mut’ah adalah dua kali masa haid.

Dalam kitab fiqh Imam Ja’far al-Shadiq dikatakan bahwa apabila istri yang diceraikan dalam nikah da’im dan belum digauli oleh suaminya, maka tidak ada ‘iddah baginya. Demikian juga dalam nikah mut’ah. Sedangkan apabila istri telah digauli maka ‘iddahnya tiga kali masa haid atau tiga bulan untuk menunggu apakah ia hamil atau tidak. Dalam nikah mut’ah, jika perempuannya sudah digauli dan sudah habis masa nikahnya maka ‘iddahnya adalah dua kali masa haid. Apabila suami meninggal dunia, maka masa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari (tidak ada perbedaan antara nikah da’im dan nikah mut’ah baik digauli maupun belum).

Kawin Kontrak: Perspektif Kritis

Islam sebagai agama fitrah menempatkan manusia, laki-laki dan perempuan secara sederajat dalam pandangan Allah (QS. 49: 13). Keduanya sama berperan dalam mewujudkan mahligai ru- mah tangga yang damai. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Walaupun demikian, nyatanya perempuan seringkali mengalami kehi- dupan yang lebih berat dari pada laki-laki. Dalam rumah tangga, perempuan lebih sering menjadi korban atau dikorbankan demi apa saja, termasuk juga demi menyelamatkan rumah tangga itu sendiri. Padahal sesungguhnya, perempuan bukanlah makhluk yang dapat diperjualbelikan atau benda mati yang seolah tidak memiliki perasaan jika disakiti, dieksploitir, diburu saat dibutuhkan, dan dihisap madunya untuk kemudian dicampakkan. Perempuan juga bukanlah benda mati yang bisa diperlakukan semena-mena atau diinjak-injak harga dirinya secara tidak manusiawi.

Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Karenanya, semua hal yang betentangan dengan semangat dasar kemanusiaan yang luhur tentu dilarang oleh Islam. Pendapat ini dapat ditelusuri dari kaidah agama yang menyatakan bahwa Islam menghormati lima hal prinsip utama (al-ushul al-khamsah), yaitu: perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan demikian, syariah nikah adalah mengacu pada lima prinsip di atas. Sementara nikah mut’ah bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut.

Nikah mut’ah dalam praktiknya belakangan, seperti terjadi di kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur) merupakan bentuk pelecehan terhadap kemuliaan perempuan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat luhur di mata Tuhan. Kawin kontrak telah menghancurkan kehormatan perempuan dan merendahkan harga dirinya. Kawin kontrak tidak beda dengan menyuburkan perbuatan asusila di tengah masyarakat dan akhirnya menghancurkan bangunan sosio-moral masyarakat, bahkan eksistensi kemanusiaan itu sendiri.

Pendapat yang masih membolehkan nikah mut’ah tampaknya kurang sesuai dengan semangat ajaran dasar Islam itu sendiri yang rahmatan lil ‘alamin dan menghargai nilai kemanusiaan (takrim al-insaniyyah). Islam telah meletakkan da- sar-dasar membangun rumah tangga yang baha- gia, saling menghormati, saling mengasihi hingga waktu yang tidak dibatasi. Model pernikahan da- lam Islam adalah memegang prinsip mu’asyarah bi al-ma’ruf. Sedangkan dalam nikah mut’ah, manusia (laki-laki dan perempuan) hanya melihat dan dilihat dari sudut nafsu syahwat belaka. Begitu luhurnya makna pernikahan dalam Islam, sampai-sampai perceraian pun dinilai sebagai perbuatan yang dibenci Allah swt., walaupun dihalalkan (HR. Ibn Majah). Karenanya, seorang yang beriman akan berusaha menumbuhkan hubungan yang baik, adil dan saling menghormati antara suami-istri dan berusaha kuat untuk merealisasikan maksud Allah dalam kehidupan perkawinan yang sakinah mawaddah wa rahmah. Firman Allah:

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة و رحمة …..

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya (bersamanya). Dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (al-Rum: 21)

Di sisi lain, maraknya praktik kawin kontrak yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai prostitusi terselubung berkedok nikah ini, merupakan salah satu bentuk “kegagalan” negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Kebanyakan para perempuan dan keluarga perempuan yang menjadi korban kawin kontrak di Indonesia adalah disebabkan faktor kesulitan ekonomi. Dalam perspektif kritis, kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan sejumlah problem yang menghimpit rakyat kecil adalah tanggung jawab negara. Seperti di- amanatkan dalam UUD 1945 bahwa negaralah yang menjamin (setidaknya, meringankan beban) kehidupan fakir miskin dan anak-anak terlantar. Hal demikian secara nyata tercantum dalam UUD 45 pasal 34: (1). Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2). Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3). Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Karenanya, fenomena kawin kontrak yang marak di sejumlah kawasan tidaklah dapat dipandang secara sederhana dari satu sudut pandang saja. Apalagi hanya dengan menyalahkan para perempuan yang telah menjadi korban dengan menganggap atau menghakimi mereka sebagai “sampah masyarakat”. Mereka, para perempuan korban, sesungguhnya tidak pernah sama sekali bercita-cita menjadi korban kawin kontrak. Andai saja kebutuhan dasar mereka sebagai manusia tercukupi dengan baik dan dapat bekerja dengan baik pula, juga andai saja tidak ada laki-laki dari negeri seberang yang datang untuk mencari-cari perempuan dengan modus yang sangat rapi dan tidak dibantu oleh tim sukses di lapangan maka sangat mungkin fenomena praktik kawin kontrak tidak terjadi. Dengan demikian diperlukan cara pandang yang lebih luas dan meliputi berbagai aspek (sosial, ekonomi, politik, budaya, dan hukum) disertai dengan kebijakan negara (pusat maupun daerah) yang membela para korban sehingga problem kawin kontrak di Indonesia dapat diatasi dengan baik demi menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Langkah-langkah bernada represif dengan menggunakan kekerasan tidak akan mujarab atau efektif, jika akar masalahnya sendiri tidak diatasi terlebih dahulu.

Penutup

Dengan melihat sejumlah hadis-hadis Nabi di atas dan memperhatikan setting (kondisi) sosial terjadinya nikah mut’ah pada masa dahulu, serta melihat semangat dasar Islam dalam mengatur hubungan dan tujuan pernikahan, maka menjadi wajar jika kemudian Rasulullah saw. pada akhirnya mengharamkan nikah mut’ah atau kawin kontrak sejak saat itu dan sampai Hari Kiamat. Apalagi jika melihat secara cermat atas dampak-dampak negatif kawin kontrak terhadap aspek moral, kesehatan, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya, maka praktik kawin kontrak sepatutnya ditegaskan keharamannya dan tentunya ditindaklanjuti dengan kebijakan negara (political will) yang mendukung implementasi larangan kawin kontrak tersebut.

Wallahu ‘Alam Bishowab

Daftar Pustaka

Alquran al-Karim.

Abustani Ilyas, Telaah Kritis Hadis-hadis Nikah Mut’ah di dalam Kutub Sittah, (Disertasi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Jakarta: 2000 M.

Abu Dawud, Sulaiman bin Asy’as al-Sajistani, Sunan Abi Dawud, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Amili, Muhammad bin al-Hasan al-Hurra al-, Wasail al-Syii, Teheran: 1966 M.

Asqalani, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-, Fath al-Bari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379

Bukhari, Muhammad ibn Isma’il Abu Abdillah al-, Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr, 1978

M. Hafidhuddin, Didin, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Aln-Nisa, Jakarta: Kalimah Thayyibah, 2000, cet. ke-1.

Majalah Gatra, No. 39, 10 Agustus 2006 M

Mughniyah, Muhammad Jawad al-, Fiqh Imam Jafar al- Shadiq, Iran: Mu’assasah Anshariyyah, 1999

Mustafa Ahmad al-Zarqa’, al-Madkhal fi al-Fiqh al-Islam, Beirut: Dar al-Fikr, 1967 M.

Quraish, Shihab, M., Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2005, vol. 2, cet. ke-4.

Qurthuby, Abi ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al- Anshary al-, al-Jami’ al-Ahkam li al-Quran Tafsir al- Qurthuby, Kairo: Dar al-Syu’ab, 1372 H.

Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M.


[1] Kutub Sittah : istilah dalam kajian ilmu hadis untuk menunjukkan enam induk kitab hadis riwayat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah.

[2] Abustani Ilyas, Telaah Kritis Hadis-hadis Nikah Mut’ah di dalam Kutub Sittah, (Disertasi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Jakarta: 2000.

[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz V, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hal. 24-25

[4] Hamka, Ibid., hal. 26.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2005), cet. ke-5, vol. 2, hal. 405.

[6] Didin Hafidhuddin, Tafsir Al-Hijri: Kajian Tafsir Surat Al-Nisa, Jakarta: Yayasan Kalimah Thayyibah, 2000), cet. ke-1, hal. 35-37. Lihat, Al-Shabuni, Rawa’iu al-Bayan, juz III, hal.458-459.

[7] Didin, Ibid., hal. 37

PENETAPAN AWAL RAMADHAN DAN 1 SYAWAL

14/11/2008 3 komentar

MUQODDIMAH

Puasa merupakan amalan ibadah yang sudah dikenal sejak sebelum Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad. Hal ini dapat diketahui pada suart AL-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqa”. Menurut bahasa, Shiyam/puasa berarti menahan diri. Sedangkan menurut syara’ ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

Dalam makalah ini, kami hanya akan membahas mengenai metode penentuan awal puasa wajib pada bulan Ramadhan serta akhir pelaksanaannya. Puasa ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh semua orang Islam. Tata cara dan waktu pelaksanaannya sudah ditentukan secara jelas, yaitu pada awal bulan Ramadhan hingga akhir bulan, dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Karena penanggalan Islam menggunakan system lunar (peredaran bulan), maka penentuan awal ramadhan ditentukan dengan cara melihat awal bulan atau bulan sabit pada malam bulan terakhir.

Setelah ditemukannya ilmu perbintangan, maka penentuan awal bulan dapat dilakukan dengan cara perhitungan (hisab). Perbedaaan cara penentuan awal bulan antara melihat langsung (rukyat) dan perhitungan (hisab) sering menimbulkan perbedaan hasil penetapan awal bulan. Akibatnya, pelaksanaan ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri di masyarakat terjadi perbedaan awal pelaksanaannya. Di Indonesia, yang sering terjadi adalah perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Fitri atau akhir pelaksanaan dari ibadah puasa Ramadhan.

Permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini adalah bagaimana sebenarnya penentuan awal bulan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Pembahasan akan di fokuskan pada cara penentuan awal bulan berdasarkan kajian-kajian historis-empiris berdasarkan petunjuk syariat disertai pendapat maupun pandangan para Ulama’. Analisis sederhana akan kami utarakan dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal bulan yang dianut masyarakat. Pandangan dan hasil kesimpulan dari kami merupakan pandangan pribadi berdasarkan pengetahuan kami yang sedikit.

HUKUM ASAL PENENTUAN AWAL BULAN

Hukum asal penentuan awal bulan Syawwal (Hari Raya ‘Iedlul Fithri) adalah dengan ru’yatul hilal (melihat bulan sabit) berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.

(رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنهما)

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian ber-Idul Fithri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka kalian perkirakanlah. (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما)

“Memperkirakan” ketika hilal terhalang oleh awan atau lainnya adalah dengan menggenapkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain sebagai berikut:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

)رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي)

Berpuasalah kalian jika kalian melihatnya (hilal) dan ber’iedlul Fithrilah kalian jika kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

METODE PENENTUAN AWAL BULAN

Semula umat Islam hanya mengenal sistem rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika ilmu hisab masuk dalam kalangan umat Islam pada abad 8 Masehi di masa Dinasti Abasiyah, maka mulai berkembang pemikiran untuk menggunakan hisab bagi penentuan awal bulan qamariyah. Dari dua sistem tersebut lahirlah perbedaan antara hisab dengan rukyat, perbedaan di dalam rukyat, dan perbedaan di dalam hisab.

Sistem rukyat melahirkan berberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada ruang lingkup berlakunya rukyat, maka timbullah istilah: rukyat lokal, rukyat nasional, dan rukyat global.
2. Pendapat yang mendasarkan pada ada atau tidak adanya persinggungan dengan hisab, maka timbullah: pendapat yang mendasarkan pada rukyat minus dukungan hisab dan pendapat yang mendasarkan pada rukyat plus dukungan hisab.

Sistem hisab melahirkan beberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada adanya perbedaan metode hisab, yaitu:
a. Metode Hisab Urfi.
b. Metode Hisab Haqiqi Taqribi (disingkat Taqribi).
c. Metode Hisab Haqiqi Tahqiqi (disingkat Tahqiqi).
d. Metode Hisab Tadqiqi/’Ashri atau Kontemporer.

2. Pendapat yang mendasarkan pada kriteria awal bulan:
a. Pendapat yang mendasarkan pada Waktu Ijtima’.
b. Pendapat yang mendasarkan pada Wujudul Hilal.
c. Pendapat yang mendasarkan pada Imkanur Rukyat.

Meskipun terdapat keragaman, tetapi di dalam sejarah sejak zaman Sahabat hingga sekarang ternyata para khalifah, sultan, ulil amri menggunakan sistem rukyat sebagai dasar itsbat awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Kami tidak akan membahas mengenai berbagai metode di atas. Kami hanya akan membahas sedikit mengenai pengertian rukyat dan hilal secara umum dan sekilas pengetahuan astronomi mengenai kemungkinan penampakan hilal.

RUKYAT

Rukyat adalah melihat dan mengamati hilal secara langsung di lapangan pada hari ke 29 (malam ke 30) dari bulan yang sedang berjalan; apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar rukyatul hilal; tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu tanggal 30 bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar istikmal.

Ada nash al-Quran yang dapat dipahami sebagai perintah rukyat, yaitu QS. al-Baqarah:185 (perintah berpuasa bagi yang hadir di bulan Ramadhan) dan QS. al-Baqarah:189 (tentang penciptaan ahillah). Dan tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyat, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain . Dasar rukyat ini dipegangi oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).

Rukyat atau pengamatan hilal akan menambah kekuatan iman. Pengamatan terhadap benda-benda langit termasuk bulan adalah bagian dari melaksanakan perintah untuk memikirkan ciptaan Allah agar lebih dalam mengetahui kemahabesaran Allah, sehingga memperkuat iman.

Rukyat mempunyai nilai ibadah jika digunakan untuk penentuan waktu ibadah seperti shiyam, ‘id, gerhana, dan lain-lain. Rukyat adalah ilmiah. Rukyat atau pengamatan/penelitian/observasi terhadap benda-benda langit melahirkan ilmu hisab. Tanpa rukyat tidak akan ada ilmu hisab. Rukyat yang diterima sebagai dasar adalah hasil rukyat di Indonesia (bukan rukyat global) dengan wawasan satu wilayah hukum NKRI. Sehingga apabila salah satu tempat di Indonesia dapat menyaksikan hilal, maka hasil rukyat demikian ini menjadi dasar itsbatul aam yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

ANTARA RU’YAT LOKAL DAN RU’YAT GLOBAL !

Ru’yat adalah adalah salah satu metoda penentuan awal bulan (qomariyah) yang telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu, yaitu melihat hilal (bulan baru/sabit) setelah ijtima’ (konjungsi) dan setelah wujud/muncul di atas ufuk. Secara teknis, pelaksanaan ru’yat amat mudah dilakukan oleh siapa saja, asalkan cuaca baik (tidak mendung), topografi amat memungkinkan (tidak ada penghalang geografis ke arah ufuk Barat), serta pengamat memiliki
penglihatan sehat dan sudah terbiasa memperhatikan langit.

Karena demikian sederhananya metoda ini, maka penggunaan ru’yat dapat dilakukan sepanjang masa. Rasulullah saw. telah menyinggung penetapan awal bulan (Ramadhan dan Syawal) berdasarkan metoda ini, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bulan sabit sebagai tanda awal bulan. Jika kalian melihatnya (bulan sabit Ramadhan), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (bulan sabit Syawal), maka berbukalah. Apabila penglihatanmu terhalang, maka genapkanlah hitungannya menjadi 30 hari. Ketahuilah, setiap bulan tidak pernah lebih dari 30 hari.” (lihat al Mustadrak al Hakim, jilid I, hal. 423).

Menurut al Hakim yang dibenarkan oleh Imam adz Dzahabi, hadits ini shahih dari sanadnya berdasarkan kriteria Imam Bukhari dan Imam Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan hadits tersebut. Lafadz hadits tadi bersifat umum, mencakup seluruh kaum
muslimin, dimanapun mereka berada. Artinya, bila penduduk negeri-negeri muslim di belahan Timur telah melihat hilal bulan Ramadhan, maka ru’yat mereka itu wajib diikuti (pelaksanaannya) oleh kaum muslimin yang hidup di negeri-negeri belahan Barat, tanpa kecuali.

Hanya saja, pada masa itu luasnya wilayah kaum muslimin, serta terbatasnya sistem komunikasi antara satu daerah dengan daerah lainnya, menghasilkan perbedaan pelaksanaan awal shaum maupun awal Syawal. Salah satunya tersirat dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas:

“Diriwayatkan dari Kuraib bahwasanya Ummu Fadl telah mengutusnya menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata: ‘Lalu aku pergi ke Syam dan menyelesaikan urusan Ummu fadl. Ternyata bulan Ramadhan telah tiba, sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal (bulan sabit) pada malam Jum’at. Kemudian aku kembali ke kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan.’ Ibnu Abbas lalu bertanya kepadaku tentang hilal. Dia bertanya: ‘Kapan kamu melihat bulan?’ Aku jawab: ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Dia bertanya
lagi: ‘Apakah kamu sendirian melihatnya?’ Aku menjawab: ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyah.’ Dia berkata lagi: ‘Tapi kami di Madinah melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga sempurna
bilangan 30 hari, atau hingga kami melihatnya.’ Aku lalu bertanya: ‘Tidak cukupkah kita berpedoman kepada ru’yat dan puasanya Muawiyah?’ Dia menjawab: ‘Tidak (sebab) demikianlah Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami.'” (HR. Jamaah, kecuali
Imam Bukhari dan Ibnu Majah).

Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar, jilid IV, hal. 125 telah mengomentari hadits ini: “Ketahuilah bahwa yang layak menjadi hujjah itu tidak lain adalah riwayat yang marfu’ (yang mata rantainya sampai pada Rasulullah saw.) dari Ibnu Abbas, bukan ijtihad Ibnu Abbas sendiri (sebagaimana hadits di atas, pen).”

Imam Syaukani lalu melanjutkan: “Sedangkan kenyataan sebenarnya yang berasal dari Rasulullah saw. Adalah sabdanya yang diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari dan
Muslim) serta yang lainnya dengan lafadz: “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat bulan (hilal). Dan janganlah kalian berbuka puasa (mengakhiri Ramadhan) hingga kalian
melihatnya pula. Maka jika pandangan kalian terhalang (oleh awan) sempurnakanlah bilangan (bulan) sebanyak 30 hari” Sabda beliau ini tidak dikhususkan untuk penduduk suatu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan khithab (seruan) yang tertuju kepada siapapun diantara kaum muslimin yang seruan itu telah sampai kepadanya.”

Imam Syaukani lalu menutup uraiannya dengan menyimpulkan : “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan (ru’yatul hilal), maka ru’yat itu berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.” Pendapat Imam Syaukani ini sama dengan yang dipahami oleh para Imam madzab seperti Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad.

Abdurrahman al Jazairi telah melontarkan perkara ini dan menyimpulkan sebagai berikut: “Apabila ru’yatul hilal (terlihatnya bulan sabit) telah terbukti di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain (juga) wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya, tidak ada perbedaan antara negeri yang dekat dengan yang jauh, jika (berita) ru’yatul hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara (terpercaya) yang mewajibkan puasa. Tidak diperhatikan lagi disini adanya perbedaan mathla’ hilal (tempat terbitnya bulan sabit) secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga Imam madzab (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hambal). Para pengikut madzab Syafi’i berpendapat lain. Mereka mengatakan, apabila ru’yatul hilal di suatu daerah telah terbukti, maka atas dasar pembuktian itu, penduduk yang terdekat di sekitar daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan (diantara dua daerah) dihitung berdasarkan kesamaan mathla’, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh (kurang lebih 120 km). Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan ru’yat ini, karena terdapat perbedaan mathla’ (lihat al Fiqh ‘ala al Madzaahibil ‘Arba’ah, karya Abdurrahman al Jazairi, jilid I, hal.55).

Dalam perkara ini, pendapat ketiga imam madzab itu terbukti paling tepat, sedangkan pendapat Imam Syafi’i dalam perkara ini kurang tepat, karena: Pertama, saat itu pengetahuan tentang manathul hukmi (fakta yang menjadi obyek penerapan hukum) masih amat sedikit. Yaitu ilmu tentang astronomi dan geografi masih minim. Sementara saat ini
kita mengetahui bahwa jarak terjauh perbedaan penetapan awal shaum dan akhir shaum paling lama adalah 12 jam. Dan kebanyakan kaum muslimin tinggal di daerah kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara, yang perbedaan waktunya paling lama adalah 4 – 5 jam. Dalam interval waktu ini amat memungkinkan saudara-saudara kita di belahan Barat –yang mungkin melihat lebih dahulu hilal Ramadhan/Syawal– untuk menyampaikan informasi (melalui telepon, fax, email, telegram, radio, televisi) kepada kita kaum muslimin yang berada di belahan Timur. Sebab terdapat jeda waktu yang cukup antara saat Maghrib (saat ru’yatul hilal) dengan waktu sahur (menjelang fajar) untuk mencari dan memperoleh informasi tentang ru’yatul hilal dari negeri-negeri lain yang melihatnya terlebih dahulu, sehingga perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan alasan lagi adanya perbedaan waktu awal shaum Ramadhan, maupun penetapan ‘Id. Disamping itu, yang dimaksud mathla’ adalah lokasi-lokasi di atas permukaan bumi yang terletak pada bujur yang sama yang menjadi tempat munculnya/terbitnya bulan baru (hilal). Dan ini tidak dapat dibatasi dengan jarak 24 farsakh
(kurang lebih 120 km) saja.

Kedua, bahwa Imam Syafi’i menyandarkan pendapatnya pada ijtihad Ibnu Abbas ra. dalam hal bolehnya berpuasa bagi setiap daerah berdasarkan ru’yatnya masing-masing, dan bahwasanya ru’yat daerah tertentu tidak berlaku bagi daerah lainnya. Oleh karena itu –menurut Ibnu Abbas– ru’yat penduduk Syam, misalnya, tidak berlaku bagi penduduk Hijaz (Madinah). Padahal pendapat ini diambil dari hadits yang sampai pada Ibnu Abbas, tidak marfu’ (tidak sampai pada Rasulullah saw.), yang menurut Imam Syaukani tidak layak dijadikan hujjah (argumentasi), karena berupa ijtihad (pemahaman) Ibnu Abbas saja.

Berdasarkan uraian di atas, maka tidak ada alasan bagi kaum muslimin saat ini di belahan negeri-negeri muslim manapun untuk tidak menyatukan awal dan akhir Ramadhan mereka, karena telah jelas bagi kita penyatuan itu amat memungkinkan serta merupakan
pendapat yang lebih tepat dari segi hukum syara’. Lagipula sarana komunikasi saat ini yang amat cepat dan canggih sangat memungkinkan bagi kita –kaum muslimin– untuk saling bertukar informasi secepatnya, mengabarkan telah dilihatnya hilal Ramadhan maupun Syawal kepada saudaranya di belahan bumi lainnya.

Disamping itu, teknik hisab (perhitungan) matematis yang akurasi dan ketelitiannya semakin tajam amat membantu kesempurnaan metoda ru’yatul hilal, disamping berkembangnya sarana-sarana astronomi yang modern dengan ditemukannya teropong digital infrared untuk melakukan ru’yatul hilal, meskipun di ufuk Barat tertutup oleh
mendung/awan, serta kemampuannya merekam obyek (melalui film) sehingga tidak ada lagi perbedaan bagi orang yang melakukan ru’ yat karena hasil rekaman obyeknya dapat diputar ulang lagi untuk
memastikan telah munculnya/terbitnya hilal.

HISAB

Ilmu hisab / ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang membahas posisi dan lintasan benda-benda langit, tentang matahari, bulan, dan bumi dari segi perhitungan ruang dan waktu. Ilmu Hisab sebagai ilmu yang termasuk dalam kelompok ilmu pengetahuan alam, maka berlaku ketentuan-ketentuan ilmu itu; artinya dapat berkembang terus menerus sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pengamatan atau penelitian/observasi (rukyat) terhadap benda-benda langit terus menerus dilakukan oleh para ahlinya, sehingga berkembang pula ilmu hisab yang semakin tinggi tingkat akurasinya.

Dewasa ini di kalangan Umat Islam berkembang lebih dari 20 metode hisab (kitab hisab) yang dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: metode haqiqi Taqribi (disingkat taqribi), metode haqiqi tahqiqi (disingkat tahqiqi), dan metode Tadqiqi/’Ashri atau kontemporer.

Hisab sebagai pendukung rukyat. Bukan sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah karena ia sebagai ilmu yang dihasilkan oleh rukyat.

SEKILAS PENGETAHUAN KRITERIA VISIBILITAS HILAL

Sebagai sebuah benda langit yang mengorbit bumi, bulan memiliki fase-fase. Ada fase bulan baru, kuartir pertama, bulan purnama, kuartir ketiga, dan fase bulan mati. Selang waktu yang diperlukan dari salah satu fase bulan untuk kembali ke fase yang sama, disebut periode sinodis. Jadi, dari bulan-baru ke bulan-baru berikutnya, atau purnama kembali ke purnama selanjutnya, adalah satu periode sinodis. Dengan acuan periode sinodis bulan inilah sistem penanggalan Hijriyah, yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam atas prakarsa Khalifah Umar r.a , dibangun, dan umur bulan di dalamnya bervariasi, 29 atau 30 hari.

Awal bulan dalam kalender Hijriyah ditandai dengan penampakan hilal, yakni bulan sabit pertama setelah konjungsi yang dapat dilihat dengan mata bugil. Dengan demikian, satu bulan dalam penanggalan Hijriyah dimulai dari penampakan hilal sampai penampakan hilal berikutnya. Bisa tidaknya hilal teramati bergantung pada waktu dan tempat. Kebergantungan terhadap waktu terkait dengan waktu terbenamnya matahari dan hilal serta usia hilal sendiri, yakni selang waktu penampakan hilal dari saat konjungsi; sedangkan kebergantungan terhadap tempat erat kaitannya dengan posisi geografis pengamat di muka bumi. Sebenarnya masih ada faktor lain yang turut mempengaruhi penampakan hilal, yaitu kecerlangan langit senja dan refraksi angkasa.

Cahaya hilal sangatlah lemah bila dibandingkan dengan cahaya matahari maupun cahaya senja, sehingga teramat sulit untuk bisa mengamati hilal yang masih berusia sangat muda. Semakin muda usia bulan semakin dekat ia dengan matahari; sebaliknya makin tua usianya, bulan makin menjauhi matahari. Pada saat konjungsi, bulan dan matahari berada di bujur ekliptika yang sama. Setelah lewat konjungsi, keduanya pun berangsur-angsur menjauh. Pada hilal yang sangat muda, beda azimut antara bulan dan matahari amat kecil (akibatnya jarak sudut antara keduanya pun kecil) demikian pula dengan luas hilal yang memantulkan sinar matahari. Karena dekatnya jarak-sudut bulan-matahari ini, hilal akan terbenam beberapa saat setelah matahari terbenam dan dengan tipisnya sabit hilal yang memantulkan sinar matahari berarti diperlukan latar yang gelap untuk bisa mengamati penampakan hilal. Jadi mengamati hilal bukanlah pekerjaan yang ringan, sebab meskipun hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam ia belum tentu bisa diamati. Sebabnya adalah cahaya hilal yang amat lemah itu kalah dengan cahaya senja. Artinya, agar mata manusia dapat mengamati hilal dengan baik diperlukan kondisi langit yang gelap. Persoalannya adalah makin muda usia hilal makin dekat kedudukannya dengan matahari, sehingga tidak ada cukup waktu untuk menunggu senja meredup agar hilal bisa teramati. Dengan kata lain hilal terburu terbenam saat langit masih cukup terang. Sebenarnya dengan makin meningkatnya usia hilal, kesulitan di atas dengan sendirinya akan teratasi sebab pada saat itu beda azimut bulan-matahari sudah membesar sehingga pengamat punya cukup waktu untuk menyaksikan hilal di atas ufuk setelah matahari terbenam maupun menunggu redupnya senja.

Angkasa bumi penuh dengan partikulat-partikulat berbagai ukuran. Debu-debu dan molekul uap air yang ada di angkasa dapat juga mempengaruhi penampakan hilal. Debu-debu dan molekul uap air di dekat horison dapat membiaskan cahaya hilal, mengurangi cahaya sampai dengan 40% dari yang seharusnya sampai ke mata pengamat. Keadaan menjadi lebih parah untuk hilal berusia sangat muda, sebab cahayanya bisa “habis” di jalan sebelum sampai ke mata kita. Karena kenyataan ini jugalah tempat yang lebih tinggi, meskipun mempunyai medan pandang yang lebih luas dan dalam ke horison, kurang menguntungkan sebab makin besar serapan cahaya hilalnya di horison bila dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah. Jadi, pokok permasalahannya adalah bagaimana hilal yang jelas-jelas di atas ufuk dapat diamati, dengan memperhatikan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Untuk itulah orang lantas membuat kriteria kenampakan (visibilitas) hilal untuk dapat menentukan permulaan bulan dalam kalender Hijriyah, yang juga erat kaitannya dengan penentuan waktu-waktu ibadah.

Faktor yang dominan dalam penampakan hilal adalah jarak sudut bulan-matahari dan tinggi hilal saat matahari terbenam. Orang-orang Babilonia kuno sudah memiliki kriteria sendiri untuk hal ini, bahwa hilal dapat dilihat saat hilal mencapai usia lebih dari 24 jam setelah konjungsi. Fotheringham, dengan menggunakan hasil pengamatan orang-orang Yunani, menurunkan kriteria visibilitas hilal berdasarkan beda azimut bulan-matahari dan tinggi hilal dari ufuk. Telaah Fotheringham ini kemudian dikembangkan oleh Maunder yang selanjutnya disempurnakan lagi dalam Indian Astronomical Ephemeris. Dari ketiga kriteria ini, untuk beda azimut yang membesar, tinggi hilal dari ufuk yang diperlukan agar hilal dapat teramati makin berkurang. Jadi tinggi hilal untuk beda azimut 10 derajat, lebih rendah daripada tinggi hilal bila beda azimutnya 5 derajat.

Seorang berkebangsaan Prancis, A. Danjon, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut bulan-matahari sebesar 7 derajat merupakan batas bawah hilal dapat teramati oleh mata bugil. Meskipun hasil di atas disempurnakan oleh M. Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 yang menghasilkan angka 10,5 derajat untuk jarak sudut bulan-matahari pada beda azimut 0 derajat agar hilal dapat dilihat, keduanya sepakat untuk satu hal, bahwa hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama. Bagi para ahli hisab di Indonesia, ada dua kriteria yang dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan. Pertama, kriteria tinggi hilal yang memungkinkan hilal dapat dirukyat. Namun di antara ahli hisab sendiri belum ada kesepakatan tentang tinggi hilal yang dimaksud. Secara umum tinggi hilal adalah 2 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, kriteria konjungsi sebelum matahari terbenam, yang merupakan kriteria khusus untuk daerah di sekitar khatulistiwa. Dengan kriteria ini, hanya perlu dibandingkan waktu terjadinya konjungsi dengan waktu terbenamnya matahari. Disepakati usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi agar hilal dapat diamati.

Kriteria visibilitas hilal lainnya yang memiliki dasar-dasar ilmiah yang kokoh adalah yang ditetapkan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme). Kriteria tersebut terbagi atas tiga bergantung pada segi yang diperhitungkan, yaitu pertama, kriteria posisi bulan dan matahari; batas-bawah tinggi hilal agar hilal dapat diamati adalah 4 derajat dengan syarat beda azimut bulan-matahari lebih besar dari 45 derajat, sedangkan bila beda azimutnya 0 derajat diperlukan ketinggian minimal 10,5 derajat. Kedua, kriteria beda waktu terbenam; hilal dapat teramati bila waktu terbenamnya minimal lebih lambat 40 menit dari waktu terbenamnya matahari. Untuk daerah di lintang tinggi, terutama di musim dingin, diperlukan beda waktu yang lebih besar. Ketiga, kriteria umur bulan dihitung sejak konjungsi; hilal dapat diamati bila berumur lebih dari 16 jam untuk pengamat di daerah tropis dan berumur lebih dari 20 jam untuk pengamat di lintang tinggi.

Dari apa yang tertulis di atas, tampak belum adanya kriteria yang benar-benar menjadi kesepakatan bersama. Kesepakatan untuk menganut kriteria yang memiliki dasar-dasar ilmiah (astronomis) yang kokoh dan teruji secara empiris sangat diperlukan, sehingga diharapkan terwujudnya sistem penanggalan yang seragam bagi umat Islam, khususnya yang menyangkut penentuan waktu-waktu ibadah. Tentu saja untuk dapat mencapai kesepakatan itu diperlukan kebesaran jiwa dalam menerima sistem penanggalan yang mungkin saja masih terasa “asing”.

PANDANGAN DAN PENDAPAT PARA ULAMA’

Penentuan Ramadlan, Syawwal, Haji dan lain-lain adalah tanggung jawab penguasa. Hari Raya adalah suatu amalan yang bersifat jama’i (dilakukan secara berjama’ah), maka penguasalah yang berkewajiban untuk ru’yatul hilal atau orang-orang khusus yang mereka tugaskan, atau merekalah yang menerima berita-berita dari orang yang melihat hilal dan menentukan sah atau tidak sahnya. Oleh karena itu kita tidak bisa melaksanakan hari raya sendiri-sendiri dengan melihat hilal sendiri-sendiri. Kewajiban rakyat -kaum muslimin – adalah mentaati penguasanya pada hasil keputusan mereka, hingga terjadilah kebersamaan yang dikehendaki oleh syariat Islam.

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله dalam Tamamul Minnah: “Sesungguhnya untuk melihat hilal atau mencari berita tentang hilal dari negeri-negeri lain pada hari ini adalah perkara yang mudah, sebagaimana sudah dimaklumi. Namun yang demikian perlu perhatian serius dari para penguasa negara-negara Islam hingga (persatuan) akan terwujud menjadi kenyataan insya Allah tabaraka wa ta’ala”. (Tamamul Minnah, hal. 398)

Perintah untuk mentaati penguasa tersebut adalah terus berlangsung walaupun penguasa tersebut dhalim atau fasik.

Berkata Imam ash-Shabuni رحمه الله dalam Aqidatus Salaf hal. 102: “Ahlul hadits berpendapat untuk menegakkan shalat Jum’at dan dua hari raya dan lain-lain dari shalat-shalat jama’ah di belakang setiap penguasa muslim yang baik atau pun yang jahat. Dan berpendapat untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bersama mereka, walaupun penguasa tersebut dhalim dan jahat”.

Berkata Imam al-Barbahari رحمه الله: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidak mengurangi kewajiban yang Allah wajibkan melalui lisan nabi-Nya صلى الله عليه وسلم. Kejahatannya untuk diri mereka sendiri, sedangkan ketaatan dan kebaikanmu bersamanya tetap sempurna -Insya Allah. Yakni kebaikan berupa shalat jama’ah, Jum’at dan jihad bersama mereka dan segala sesuatu dari ketaatan yang dikerjakan bersama mereka, maka pahalamu sesuai dengan niatmu”. (Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 116)

Berkata Abu Ja’far ath-Thahawi رحمه الله: “Haji dan jihad terus berlangsung bersama penguasa kaum muslimin, yang baik atau yang jahat, sampai hari kiamat; tidak terbatalkan dan tidak gugur (dengan kefasikan mereka). (Al-Aqidah ath-Thahawiyah, dengan syarh Ibnu Abil ‘Izz, hal. 287)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: “Dan mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syari’at. Mereka berpendapat untuk menegakkan haji, shalat jum’at, dan hari raya bersama para penguasa, apakah mereka orang-orang baik ataukah orang-orang jelek. Dan berpendapat untuk menegakkan shalat jama’ah, jihad dan menegakkan nasehat untuk umat”. (Aqidah Wasithiyah, Ibnu Taimiyah, hal. 257)

Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: “Yang demikian karena tujuan kaum muslimin adalah menyatukan kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena penguasa yang fasik tidak lepas dari kedudukannya sebagai penguasa yang harus ditaati dan tidak boleh ditentang, apalagi jika sampai berakibat menelantarkan kewajiban-kewajiban dan menumpahkan darah”. (Syarh Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Shalih Fauzan, hal. 216)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: “Mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) berpendapat untuk menegakkan haji bersama para penguasa walaupun mereka fasik. Bahkan walaupun merekaeminum khamr ketika haji. Mereka tidak berkata: “Ini adalah imam faajir, kami tidak mau terima kepemimpinannya”. Karena mereka berpendapat bahwa mentaati penguasa adalah wajib walaupun mereka fasik, selama kefasikannya tidak membawa pada kekafiran yang jelas yang di sisi Allah kita punya bukti…”. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 337)

Beliau berkata pula: “Demikian pula menegakkan hari raya-hari raya bersama para penguasa yang mengimami shalat mereka. Apakah ia orang baik ataukah orang jelek. Dengan jalan yang damai ini, jelaslah bahwa agama Islam ini merupakan jalan tengah di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang-orang yang melalaikan”. (sumber yang sama hal. 336)

Berkata Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi رحمه الله: “Telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta ijma’ para salaful ummah bahwa para penguasa, pemimpin shalat, hakim, panglima perang dan pengurus zakat ditaati dalam perkara-perkara ijtihad. Dan tidaklah mereka mentaati anak buahnya dalam perkara ijtihad, tetapi rakyatlah yang harus mentaatinya dalam masalah-masalah tersebut. Dan hendaklah mereka menyerahkan pendapatnya kepada penguasa tersebut, karena kepentingan umum dan persatuan serta bahayanya perpecahan dan pertikaian adalah lebih diperhatikan daripada masalah-masalah pribadi atau kelompok.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 376)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله: “Jika ada yang bertanya: “Mengapa kita mesti shalat di belakang mereka dan mengikuti mereka dalam haji, jihad, Jum’at dan hari raya?” Kita katakan bahwa mereka adalah penguasa kita yang kita beragama dengan mentaati mereka, karena perintah Allah سبحانه وتعالى:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ… (النساء: 59 )

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian…” (an-Nisaa’: 59)

Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ . (رواه مسلم)

Sesungguhnya akan terjadi setelahku kedhaliman-kedhaliman dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada orang yang mengalami masa tersebut dari kami?” Beliau menjawab: “Tunaikanlah hak-hak mereka atas kalian, dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian. (HR. Muslim)

Yang dimaksud “hak-hak mereka (para penguasa)” adalah ketaatan kepada mereka pada selain kemaksiatan. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 339)

Dengan kita mengikuti ucapan-ucapan para ulama di atas, niscaya akan terwujud kebersamaan yang disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits yang sudah kita sebutkan pada edisi ke-80, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْن وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ. َ(رواه الترمذي وقال: حديث غريب حسن)

Puasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Iedlul Fithri adalah hari di mana seluruh kalian berbuka (yakni tidak berpuasa lagi –pent.) dan Iedlul Adha adalah hari ketika kalian seluruhnya menyembelih kurban. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)

Adapun cara para penguasa menentukan hari raya tersebut, apakah dengan ru’yah atau dengan hisab, maka merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Hadits di atas di samping merupakan dalil untuk berpuasa bersama kaum muslimin, juga merupakan dalil berhari raya bersama mereka.

Berkata ash-Shan’ani dalam Subulus Salam 2/72: “Pada hadits ini ada dalil bahwa yang teranggap dalam menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal (bulan sabit) tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’iedlul Fithri atau pun berkurban”.

Disamping itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah رضي الله عنها dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata: Menyampaikan kepadaku Ali bin Aqmar, dari Masruq, bahwa ia mendatangi rumah Aisyah pada hari Arafah (dalam keadaan tidak berpuasa –pent.). Aisyah رضي الله عنها berkata: “Berilah Masruq minuman dan perbanyaklah halwa untuknya!” Masruq berkata: “Tidaklah menghalangiku untuk berpuasa pada hari ini, kecuali aku khawatir hari ini adalah hari raya nahr (iedlul Adha). Maka Aisyah pun berkata:

النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ. (رواه البيهقي)

Hari raya Nahr adalah hari manusia menyembelih, dan iedlul Fithri adalah hari ketika manusia berbuka (yakni tidak lagi berpuasa). (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbani, hal. 442)

Disebutkan pula ucapan senada oleh Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Tahdzibu as-Sunan, 3/214: “Dikatakan bahwa pada hadits ini terdapat bantahan atas orang yang berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang melihat munculnya bulan Sabit dengan mengukur hisabnya atau menghitung tempat-tempat terbitnya, boleh baginya berpuasa dan beriedlul Fithri sendiri, tidak seperti orang yang tidak mengetahuinya”. Dikatakan bahwa seorang yang melihat munculnya bulan sabit sendirian, tetapi hakim tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berpuasa sebagaimana manusia pun belum berpuasa”. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani). Demikian pula tentunya siapa yang melihat hilal Syawwal sendirian, namun penguasa tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berhari raya sendirian.

Berkata Abul Hasan as-Sindi dalam catatan kakinya terhadap Sunan Ibnu Majah, setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah dalam riwayat di atas sebagai berikut: “Tampaknya makna hadits ini adalah bahwa perkara-perkara tersebut bukan haknya pribadi-pribadi seseorang tertentu. Dan tidak boleh seseorang menyendiri dalam masalah tersebut, tetapi urusan ini dikembalikan kepada imam dan jama’ah kaum muslimin seluruhnya. Wajib bagi setiap pribadi mengikuti kebanyakan manusia dan penguasanya. Dengan demikian jika seseorang melihat hilal, tetapi penguasa menolaknya, maka semestinya dia tidak tidak menetapkan perkara-perkara tadi pada dirinya sendirian, sebaliknya wajib baginya mengikuti kebanyakan manusia”. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

Kategori:MASAIL FIQH
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.