Beranda > BUDAYA > KESALEHAN KULTURAL TRADISI SYAWALAN DI JOGJAKARTA, PEKALONGAN DAN KENDAL

KESALEHAN KULTURAL TRADISI SYAWALAN DI JOGJAKARTA, PEKALONGAN DAN KENDAL

<!– @page { margin: 2cm } P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; margin-bottom: 0cm; font-size: 10pt } P { margin-bottom: 0.21cm } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>

  1. PENDAHULUAN

Kesibukan masyarakat yang merayakan Lebaran boleh berlalu. Namun, tradisi Syawalan yang datang setiap tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri masih mejadi hari yang istimewa bagi sebagian masyarakat Jawa Tengah (Jateng).

Ada yang menyebut Syawalan ini dengan Lebaran Ketupat. Pasalnya, banyak masyarakat yang menandai datangnya hari istimewa ini dengan memotong ketupat. Tak kalah hiruk pikuknya dengan Lebaran, perayaan Syawalan juga dijadikan sebagai wahana rekreasi keluarga.

Tempat-tempat tertentu yang menjadi pusat perayaan Syawalan, seperti Pekalongan, Kaliwungu, Demak, Jepara dan Rembang, pun selalu ramai dikunjungi ratusan ribu orang. Pasalnya, berbagai obyek hiburan hingga wisata religi banyak ditawarkan.

Setiap tradisi yang mampu bertahan lama, pastilah melalui proses evolusi kebudayaan yang panjang dan memiliki kesamaan akar historis. Evolusi yang diikuti akulturasi itu, pada akhirnya menimbulkan keselarasan dan kecocokan dengan masyarakat penganutnya. Tesis itu, sangat relevan diajukan guna mengungkap tradisi ”syawalan”, yang dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun-temurun.

Istilah syawalan atau sering disebut halal bihalal, memang berasal dari bahasa Arab. Uniknya, istilah itu tidak dikenal oleh masyarakat Arab, karena memang tidak terdapat dalam tradisi dan kebudayaan mereka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, syawalan memiliki arti “acara maaf-memaafkan” pada hari Lebaran. Sementara, istilah halal bihalal merupakan kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata bahasa Arab halal (baik atau diperbolehkan) yang diapit satu kata penghubung ba (Quraish Shihab, 1992).

Tradisi syawalan, kata Umar Kayam (1997), merupakan kreatifitas akulturasi budaya Jawa dan Islam. Ketika Islam hendak bersinggungan dengan budaya Jawa, timbul ketegangan-ketegangan yang muaranya menimbulkan disharmoni. Melihat fenomena itu, para ulama Jawa lantas menciptakan akulturasi-akulturasi budaya, yang memungkinkan agama baru itu diterima oleh masyarakat Jawa. Singkatnya, para ulama di Jawa dahulu dengan segenap kearifannya, mampu memadukan kedua budaya yang bertolak belakang, demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam makalah ini, kami hanya akan membatasi tradisi syawalan yang berada di kota Jogjakarta, Pekalongan dan Kendal. Bagaimana asal mula tradisi ini terjadi dan persinggungannya dengan kultur budaya Jawa dan Islam serta seluk beluknya akan dikupas dengan pendekatan historis cultural.

  1. PEMBAHASAN

  1. SYAWALAN DI JOGJAKARTA

Siapa yang mula-mula mengenalkan tradisi syawalan, belum diketahui secara pasti. Menurut Ibnu Djarir (2007), tradisi syawalan dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit, dengan tertib dan teratur melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Tradisi sungkem yang merupakan inti kegiatan syawalan, mengalami perluasan seiring dengan perkembangan zaman. Sungkeman saat ini dilakukan kepada semua orang tua. Makna sungkeman itu, sejatinya sangat mulia dan terpuji. Sebagai lambang penghormatan kepada yang lebih tua, dan permohonan maaf. Seusai sungkeman, biasanya dilakukan jamuan makan dengan menu utama ketupat yang disebut kupat luar. Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki makna filosofi yang dalam. Biasanya dibuat dari tiga bahan utama, yaitu janur kuning, beras, dan santan. Janur kuning atau pelepah daun kelapa muda, merupakan lambang tolak bala atau penolak bahaya.

Kemudian, beras sebagai simbol kemakmuran, dianggap sebagai doa agar masyarakat diberi kelimpahan kemakmuran setelah hari raya. Sementara santan (sari buah kelapa) yang dalam bahasa jawa disebut santen, berima dengan kata ngapunten, yang berarti memohon maaf . Kata Kupat Luar sendiri berasal dari kata “Pat” atau “Lepat” (kesalahan) dan “Luar” yang berarti di luar, atau terbebas atau terlepas. Maknanya, dengan memakan ketupat, orang diharapkan akan ingat kembali bahwa mereka sudah terlepas dan terbebas dari kesalahan. Selanjutnya, mereka berkewajiban untuk saling meminta dan memberi maaf agar kebebasan itu benar-benar sem-purna. Makna yang lain, ketupat berasal dari singkatan Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan. Maknanya, dengan tradisi ketupat diharapkan setiap orang mau mengakui kesalahan, sehingga memudahkan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain. Singkatnya, semua dosa yang ada akan saling terlebur bersamaan dengan hari raya idul fitri.

Adapun bentuk ketupat yang persegi, menjadi simbol atau perwujudan cara pandang kiblat papat lima pancer. Cara pandang itu menegasikan adanya harmonisasi dan keseimbangan alam: empat arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara yang bertumpu pada satu pusat. Maknanya, manusia dalam kehidupan, ke arah manapun dia pergi, hendaknya tidak pernah melupakan pancer yaitu Tuhan yang Maha Esa.

Merekatkan Persatuan

Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu amarah, yakni nafsu emosional, aluamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan mutmainah, nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini yang ditaklukkan orang selama berpuasa. Jadi, dengan memakan ketupat orang disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut.

Tradisi syawalan yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu, kini dilestarikan oleh organisasi-organisasi Islam, maupun instansi pemerintah dan swasta dengan istilah halal bihalal. Menariknya, peserta halal bihalal, tidak hanya umat Islam, tetapi seluruh warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama, suku, ras dan golongan. Tradisi itu bukan lagi milik umat Islam dan masyarakat Jawa saja, tetapi menjadi milik segenap bangsa Indonesia. Tradisi ini juga kaya dengan kearifan dan kesalehan yang relevan dengan konteks kekinian.

Ia bisa diartikan sebagai hubungan antarmanusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang, plus mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Maka, berhalal bihalal, mestinya tidak semata-mata dengan memaafkan melalui perantara lisan atau kartu ucapan selamat saja, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain khususnya yang diajak berhalal bihalal.

Syawalan juga merekatkan persatuan dan kesatuan, dan mendorong orang untuk jujur. Adanya kerelaan untuk saling memaafkan, sudah membuktikan mencairnya individualitas, strata sosial, egoisme, sektarian dan sebagainya. Orang juga dituntut untuk jujur, mau mengakui kesalahan dan lantas meminta maaf. Kejujuran dan kerelaan hati untuk memaafkan ini, merupakan terapi psikologis yang sangat ampuh bagi setiap orang. Pasalnya, dengan lepas dan hilangnya dosa-dosa, orang akan merasa damai, tenang dan tentram.

Pada akhirnya, dalam masyarakat yang kian terkepung aneka kepentingan primordial atau kepentingan yang mengatasnamakan apa pun yang eksploitatif dan tiranik, penuh konflik kepentingan bahkan sampai pertikaian atau perang, Idul Fitri dengan tradisi syawalannya, diharapkan mampu menghadirkan kesejukan, keharmonisan, dan obat-obat kemanusiaan lainnya.1

  1. SYAWALAN DI PEKALONGAN

Sejarah Syawalan Krapyak di Pekalongan

Tradisi syawalan di Pekalongan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tradisi ini terkenal dengan pemotongan “Lopis Raksasa” di kelurahan Krapyak Kidul dan Krapyak Lor kecamatan Pekalongan Utara. Masyarakat Krapyak dan sekitarnya merupakan masyarakat yang taat beragama dan memegang kultur kebermasyarakatan yang baik. Salah satu tradisi yang hingga sekarang ini dipelihara dengan baik adalah tradisi “Syawalan Krapyak”. Tradisi syawalan dilaksanakan seminggu setelah lebaran yang diawali dengan pemotongan lopis raksasa.

Saat Hari Raya Idul Fitri merupakaan saat-saat yang ditunggu oleh para anak kecil, remaja bahkan orang dewasa untuk saling bermaaf-maafan. Anak-anak kecil bergembira karena pada saat lebaran mereka akan memakai pakaian baru, sandal baru, uang jajan yang lebih dan mungkin mainan baru. Lebaran juga dimanfaatkan oleh masyarakat Krapyak dan sekitarnya untuk saling menjalin silaturrahim dengan tetangga, kerabat dekat dan mengirimkan opor ayam serta makanan lainnya kepada kerabat dekat.

Sehari tepat setelah lebaran sampai 6 hari berikutnya digunakan oleh masyarakat Krapyak untuk berpuasa sunnah Syawal. Pelaksanaan puasa ini sudah menjadi tradisi amal ibdah warga Krapyak sejak dahulu kala sehingga dikenal luas oleh masyarakat di luar Krapyak. Hal ini mengakibatkan teman, kerabat jauh ataupun relasi bisnis enggan untuk bersilaturahmi ke Krapyak setelah sehari sampai enam hari sesudah lebaran, mereka merasa tidak enak bila dijamu oleh tuan rumah sementara tuan rumahnya sendiri berpuasa. Keengganan ini bukan karena malas ataupun yang lainnya, hal ini hanya sebagai upaya penghormatan mereka terhadap warga Krapyak yang menjalankan ibadah puasa sunnah Syawal.

Teman, kerabat jauh, relasi bisnis dan lainnya umumnya bersilaturahmi ke Krapyak setelah 6 hari setelah lebaran. Karena waktunya bersamaan, hal ini mengakibatkan membludaknya warga yang bersilaturahmi, yaitu tepat 7 hari setelah lebaran. Untuk menjamu tamu, warga Krapyak menyuguhkan makanan lopis yang dicampur dengan parutan kelapa muda. Makanan ini merupakan makanan khas jamuan lebaran warga Krapyak. Lopis terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang dengan cara diikat dengan melilitkan tali bambu ataupun tali raffia, setelah itu dimasak dengan cara digodok dengan air sampai matang. Waktu yang dibutuhkan untuk memasak lopis sekitar 3-5 jam. Makanan khas lopis ini merupakan symbol perekat dan pemersatu ummat Islam setelah sebulan berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan berlebaran.

Syawalan sebagai Ajang Pariwisata

Tradisi syawalan yang dulu hanya sebagai ajang bersilaturahim, bermaaf-maafan dan halal bihalal antar sesama warga Krapyak dan sekitarnya, bahkan antar warga Krapyak dengan masyarakat Pekalongan dan luar kota lainnya, telah berubah menjadi ajang pariwisata dan hiburan. Dahulu pembuatan lopis hanya dilakukan untuk menjamu para tamu yang hadir bersilaturahim, yang dilakukan secara individual tiap keluarga. Pada saat sekarang ini pembuatan lopis dilakukan secara gotong royong antar warga dan dibuat dengan khusus untuk menyambut tradisi Syawalan Krapyak.

Dikatakan khusus karena berat dan ukurannya tidak seperti lazimnya lopis. Lopis pertama karya masyarakat Krapyak Kidul beratnya 689 kilogram dan tinggi 152 sentimeter, serta lingkaran 248 sentimeter. Lopis lainnya hasil besutan warga Krapyak Lor lebih spesial lagi karena beratnya 1 ton, tinggi 165 sentimeter, dan lingkaran 240 sentimeter. Pembuatannya sampai membutuhkan waktu seminggu untuk memasaknya.

Acara syawalan Krapyak dimulai dengan acara seremonial pemotongan lopis raksasa oleh walikota setempat pada pukul 08.30 WIB. Setelah lopis raksasa dipotong secara simbolis oleh walikota, maka lopis tersebut dipotong kecil-kecil oleh panitia syawalan untuk dibagikan secara gratis kepada para pengunjung syawalan. Dalam sambutannya, ia mengajak warga agar tradisi lopisan itu dapat dijadikan pemersatu umat. Sebab, dengan tradisi itu, masyarakat bisa menyatu untuk melaksanakan Syawalan sebagai tali silaturrahim di antara warga.

Para pendatang dari luar Krapyak yang berdatangan menghadiri syawalan bias dipastikan membludak dan sangat ramai memadati jalan utama Krapyak dan sekitarnya. Dalam tempo satu jam lopis raksasa habis dibagikan kepada para pengunjung. Banyaknya pengunjung ini dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima untuk menjajakan dagangannya di pinggir jalan Jlamprang dan jalan-jalan sekitar Krapyak. Ada beberapa pedagang yang datang dari luar kota ikut meramaikan Syawalan. Mereka menyiapkan dagangannya dua hari sebelum acara syawalan berlangsung.

Acara syawalan yang ramai pengunjung juga dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk membuat acara hiburan seperti arena bermain anak-anak dan konser musik. Keramaian dan hiburan inilah yang menjadi daya tarik pengunjung dari luar daerah Krapyak untuk menghadiri Syawalan. Kadang acara konser music menimbulkan keributan sehingga menyimpang dari tujuan asal mula adanya syawalan, yaitu untuk bersilaturahmi.

  1. SYAWALAN DI KENDAL

Sejarah Syawalan Kaliwungu di Kendal

Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1984: 328) menerangkan bahwa salah satu tradisi dan budaya Islam Jawa yang masih hidup adalah adanya penghormatan kepada makam-makam orang suci, baik ulama atau kyai. Jika kaum santri datang ke makam untuk mendoakan orang yang telah meninggal agar diampuni dosanya oleh Allah SWT, maka kaum Islam abangan mendatangi makam sebagai tempat Pepundhen. Yaitu menjadikan makam sebagai sesembahan, yang dipui-puji, diberi sesaji, dan dimintai pertolongan.

Salah satu bentuk penghormatan terhadap makam orang-orang saleh itu di Kaliwungu lahir apa yang disebut sebagai Syawalan. Salah satu tradisi keagamaan yang berupa peringatan wafatnya (khoul) ulama dalam masyarakat masa lalu, yang diadakan pada setiap tanggal 8 Syawal, yakni satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, setiap tahun.

Pada mulanya Syawalan berasal dari sebuah peringatan meninggalnya (Khoul) ulama besar Kaliwungu, Kyai Asy’ari (Kyai Guru) dengan cara me-ziarahi kuburnya setiap tanggal 8 Syawal, setiap tahun. Sunan Katong hari wafatnya (khoulnya) dirayakan setiap bulan Rajab setiap tahun, biasanya jatuh pada pasaran kliwon, Sayyid Bakhur (Bakir) bin Ahmad bin Sayyid Bakri (Wafat 8 April 1965) dan istrinya Fatimah binti Sayyid Ali Akbari (almarhumah) (wafat 21 Januari 1989) khoulnya setiap bulan Besar (hari Raya Qurban).[1] Sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, kemudian lokasi ziarah berkembang ke makam Pangeran Mandurorejo, dan Pangeran Pakuwaja, Kyai Mustofa, Kyai Rukyat, dan Kyai Musyafa’.

Awalnya kegiatan ziarah mengirim doa di makam Kyai Asy’ari ini hanya dilakukan oleh keluarga dan keturunan Kyai Asy’ari, tetapi lama kelamaan diikuti oleh masyarakat muslim di Kaliwungu dan sekitarnya. Akhirnya, kegiatan itu semakin massif terjadi setiap tahun, bahkan objek lokasi ziarah melebar bukan hanya kepada makam Kyai Asy’ari atau “Kyai Guru”, akan tetapi juga ke makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo, seorang Panglima Perang Mataram, dan Pangeran Pakuwaja. Belakangan para peziarah merambah juga berziarah ke makam Kyai Mustofa, Kyai Musyafa’, dan Kyai Rukyat.

Makam Kyai Asy’ari, Makam Pangeran Mandurarejo, dan Sunan Katong terletak di jabal sebelah selatan desa Protomulyo, sedang makam Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa’ terletak di jabal sebelah utara-barat. Bukan han dibuka oleh Bupati Kendal). Kemudian acara dilanjutkan jalan kaki bersama-sama para kyai dan masyarakat santri Kaliwungu menuju makam Kyai Asy’ari. Agenda acara ritual di makam Kyai Asy’ari adalah (1) Pembukaan, (2) Pembacaan Riwayat hidup singkat Kyai Asy’ari, (3) Pembacaan Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, Al-An-Nas dan tahlil, dan (4) Doa untuk para arwah leluhur, ulama yang dimakamkan di pemakamman Protomulyo dan Kutoharjo.2

Situs yang menjadi pusat kegiatan Syawalan-pun beragam, mulai dari masjid Al-Muttaqin (peningalan para kiai kharismatik Kabupaten Kaliwungu) hingga Astana Kuntu Layang. Astana yang terletak di Protowetan Kaliwungu ini tak lain adalah makam para kiai sepuh Kaliwungu yang masih keturunn Mataram.

Semua situs tersebut menyiratkan bukti sisa-sisa kejayaan dan kemasyuran dakwah Islam yang dirintis ulama pendahulu di Kaliwungu. Lihat saja situs Masjid Al-Muttaqin yang berada di antara alun-alun dan pasar Kaliwungu. Bangunan megah ini juga menyiratkan keagungan syiar Islam pada saat itu.Meski perluasan dan penambahan sudah dilakukan di sana sini, keagungan masjid ini tetap tak terhapuskan. Pada perayaan Syawalan yang berlangsung selama tujuh hari, masjid yang dibangun oleh Kyai Guru tersebut menjadi pusat keramaian.

Burung kuntul

Situs Astana Kuntul Layang, yang menjadi tujuan kirab kelambu, berada di atas bukit yang membentang di selatan alun-alun Kaliwungu. Sehingga, dari astana ini dapat dilihat pemandangan alun-alun dan kota santri Kaliwungu.Menurut juru kunci makam, Astana Kuntul Layang terdiri atas lima bagian utama yang dianalogikan sebagai bagian dari burung kuntul (bangau) yang sedang melayang.

Bagian pertama adalah dada yang merupakan cungkup kompleks makam Sunan Katong (ulama yang diyakini tertua di Kaliwungu) serta para Bupati Kendal. Bagian kedua adalah sayap kanan yang merupakan kompleks cungkup makam Kyai Musyafak, Kyai Rukyat serta Kyai Mustofa.

Bagian berikutnya adalah sayap kiri, yang merupakan kompleks makam Kyai Mandurorejo, Pangeran Puger dan Kyai Asy’ari (Kyai Guru). Sedangkan bagian ekor merupakan kompleks makam Pakuwojo, serta bagian kepala kompleks makam Pangeran Djoeminah (leluhur bupati Kaliwungu) dan para bupati Kaliwungu.

Pada tiap tanggal 5-9 Syawal, kompleks astana tersebut dibuka dan ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. “Puncak perayaan Syawalan di Kaliwungu adalah pada hari ketujuh Syawal. Kirab dan penggantian kelambu Kyai Guru menjadi daya tarik ribuan peziarah,” jelas KRAT Hamaminata Nitinagoro, kerabat Keraton Surakarta wewengkon Kendal.

Meriam Mataram

Peninggalan dakwah dan kejayaan Kabupaten Kaliwungu juga dapat dilihat dari beberapa situs yang masih tersisa. Antara lain, Gapura Pungkuran sebagai lambang supremasi Kabupaten Kaliwungu saat itu. Gapura itu berada di depan Mushala Pungkuran yang dulunya merupakan kantor Bupati Kaliwungu. Di bawah gapura bertuliskan huruf Jawa itu dipasang sebuah meriam peninggalan kerajaan Mataram.3

Keramaian syawalan tentu saja mengundang orang untuk datang, dan sesuai dengan hukum pasar dimana ada keramaian pastilah disitu juga ada pedagang yang “mremo” di acara syawalan, bahkan pengunjung yang datang sebagian besar bukan untuk berziarah syawalan melainkan untuk menikmati keramaian itu yang dimeriahkan oleh berbagai macam penjual dan aneka permainan anak-anak. Aneka hiburan tersedia dari mulai permainan anak-anak semacam komedi putar, hingga hiburan orang dewasa semacam Tong Setan dan Panggung Dangdutan.

  1. KESIMPULAN

Dari keterangan diatas dapatlah kita tarik keterkaitan tradisi syawalan yang terjadi di ketiga kota tersebut, yaitu syawalan adalah media dan ajang tali silaturahim antar sesama umat Islam setelah berpuasa ramadhan dan berhari raya Idul Fitri. Silaturahim ini tidak hanya dilakukan untuk umat Islam yang masih hidup saja, tetapi juga dilakukan silaturahim antara umat yang masih hidup dengan para leluhur yang telah meninggal dunia dengan cara berziarah kubur membaca kalimah-kalimah thoyyibah dan do’a-do’a yang dikhususkan buat para leluhur. Tradisi syawalan dilaksanakan seminggu setelah berlebaran Idul Fitri. Syawalan juga identik dengan istilah halal bihalal yang sekarang marak dilakukan oleh masyarakat luas di Indonesia.

Tradisi syawalan yang awal mulanya bertujuan baik untuk menjalin silaturahim, bermaaf-maafan serta menjalin persatuan dan kesatuan antar sesama warga telah ternodai dengan aspek-aspek keduniawian. Meskipun sampai kini masih banyak yang memaknai Syawalan sebagai hal yang sakral, yakni sebagai perjalanan silaturahim rohaniah antara orang yang masih hidup dan silaturahim antara yang hidup dengan orang yang telah meninggal (alam ghaib), namun dewasa ini syawalan telah mengalami penambahan makna. Atau paling tidak telah mengalami perluasan makna (Amelioratif). Jika dahulu kegiatan syawalan ini benar-benar terasa sakral-trancendental, maka kini kesakralan ini telah mulai terusik atau ‘terganggu’ (untuk tidak mengatakan profan) oleh munculnya ‘makna tambahan’ dengan image baru. Image baru itu misalnya, orang mulai mengatakan bahwa syawalan telah identik dengan jalan-jalan atau pacaran, lihat hiburan, belanja mainan anak-anak, belanja alat dapur dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Harian Umum Sore Sinar Harapan, 30 September 2008

  2. Dr. Muhammad Abdullah, M.Hum, Aspek Eskatologis Ziarah Kyai Guru dalam Tradisi Syawalan Kaliwungu Kendal, Penelitian Ilmiah, Universitas Diponegoro Semarang

  3. http://www.republika.co.id/koran/109.html

1 . Harian Umum Sore Sinar Harapan, 30 September 2008

2 . Dr. Muhammad Abdullah, M.Hum, Aspek Eskatologis Ziarah Kyai Guru dalam Tradisi Syawalan Kaliwungu Kendal, Penelitian Ilmiah, Universitas Diponegoro Semarang

About these ads
Kategori:BUDAYA
  1. 16/08/2012 pukul 12:17 pm

    My brother recommended I might like this blog. He was entirely right.

    This post actually made my day. You can not imagine simply how much time I had
    spent for this info! Thanks!

  2. 17/10/2012 pukul 4:15 pm

    saya sbgai ketua umum panitia syawalan krpyak lor sangat bangga dan salut ats usaha anda dan tim untk menjaga dan melestarikan budaya syawalan sebagai salah satu budaya religius indonesia,semoga anda sekalian akan di beri kelimpahan dan kemurahan rezeki..dan mari kita wujud kan “dengan bersilaturahmi akan memperkuat ukuwah islamiyah” bangsa indonesia yang lebih maju dengan persatuan dan kesatuan.amin
    pamungkas.syawalanlor@gmail.com

  3. 04/04/2014 pukul 8:34 am

    Sebuah kajian sejarah yang lumayan lengkap, menarik dan mendidik.

  1. 22/07/2012 pukul 5:37 pm
  2. 26/06/2013 pukul 11:04 am
  3. 15/08/2013 pukul 2:57 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: