Beranda > BUDAYA > TRADISI BULAN SYURO ANTARA SYI’AH DAN KEJAWEN

TRADISI BULAN SYURO ANTARA SYI’AH DAN KEJAWEN

Pendahuluan

Bagi masyarakat Jawa atau mungkin suku yang lain, Muharram atau yang lebih dikenal dengan bulan Suro mempunyai makna khusus. Ini terutama bagi suku yang mayoritas memeluk Agama Islam. Tidak dipungkiri lagi bahwa dalam bulan tersebut banyak serangkaian acara atau ritual yang berbau religius yang tidak ada petunjuk dari ajaran Islam.

Memang, bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah. Dan di Jawa bulan ini biasa disebut dengan bulan Suro. Hal ini sesuai dengan penanggalan Jawa yang merupakan perpaduan antara Hijriyah dengan Hindu (Saka), yang dipopulerkan oleh Sultan Agung pada abad ke 17 Masehi. Entah mengapa Sultan Agung mengganti nama Muharram dengan Suro yang dalam bahasa berarti Berani. Apakah mungkin bertujuan bahwa diawal tahun harus optimis berani menghadapi masa depan. Wallahu a’lam. Yang jelas dalam penggalan Jawa nama-nama bulan selain Suro banyak kemiripan dengan penanggalan Hijriyah yang sudah ada. Sepeti bulan Syawal menjadi Sawal, bulan Shafar menjadi Sapar dan sebagainya.

Makna khusus dari bulan ini bagi orang Jawa banyak diwarnai dengan penafsiran dan keyakinan yang berbau mitos. Oleh karena itu akhirnya timbul serangkaian ritual Jawa yang di beri baju Islam. akan tetapi ada pula ritual yang dilakukan orang Islam yang sarat dengan warna Jawa. Misalnya, ritual kejawen yang diwarnai dengan ajaran Islam antara lain labuhan sesaji, mengarak binatang keramat dan sebagainya. Demikian pula ada ritual yang dilakukan orang Islam antara lain ritual Bukak Luwur (di Kudus) dan haul syeh –syeh tertentu.

Pembahasan

Orang Jawa berkeyakinan bahwa bulan Suro atau Muharram merupakan bulan keramat yang bukan sembarang bulan. Oleh karena itu bagi sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa pada bulan ini pantang untuk bersenang-senang, antara lain dengan mengadakan hajatan. Yang ada hanyalah ritual dengan tujuan agar dihindarkan dari kesusahan, malapetaka serta bencana. Maka pada bulan ini orang-orang beramai-ramai mengadakan ritual-ritual ke tempat keramat yang dinilai sebagai istana dari tokoh-tokoh tertentu yang diyakini sebagai wakil Tuhan untuk menjaga tanah Jawa. Beberapa tempat tersebut antara lain, Parangkusumo (Yogyakarta), Gunung Lawu, Gunung Merapi dan sepanjang pantai selatan. Ada pula ritual unik yaitu dengan melakukan kungkum (berendam di sungai), mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran serta mengarak kerbau keramat Keraton Surakarta. Kenyataan ini hingga sekarang masih tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat yang mengaku sudah memasuki masa modernisasi di Jawa.

Ada juga ritual yang dilakukan oleh para kaum santri dengan nuansa Jawa. Salah satunya yang terjadi di Kudus yang telah berjalan ratusan tahun. Yaitu pergantian kelambu makam Sunan Kudus dan Sunan Muria yang lebih terkenal dengan “Bukak Luwur”. Ritual ini dilakukan pada setiap tanggal 10 Muharram. Yang menarik dalam ritual tersebut adalah pembagian nasi bungkus yang diyakini membawa berkah yang besar. Sehingga mereka rela berdesakan, bahkan membelinya asal mendapatkan nasi tersebut.

1. Melacak munculnya paham Kejawen

Paham kejawen tidak dapat terlepas dari kehidupan orang jawa. Paham ini sering diidentikkan dengan paham kebatinan. Meskipun tidak seluruhnya anggapan ini benar, tetapi memang dunia kejawen tidak dapat dilepaskan dari kebatinan dan kebatinan juga merupakan bagian dari kejawen.

Sebelum datangnya agama Hindu dan Budha di Jawa, orang Jawa telah mengenal suatu keyakinan yang bersifat sinkritisme , yaitu Animisme dan Dinamisme. Disinilah akar permasalahannya dari keyakinan orang Jawa hingga saat ini, sedangkan ajaran Hindu atau Budha hanya sebagai pewarna saja. Dan masuknya agama-agama wahyu ternyata tidak mematikan keyakinan dan paham ini. Ia tetap berjalan secara pasang surut mengikuti perubahan waktu dan perkembangan jaman. Bahkan ajaran Hindu dan Budha mengokohkan keyakinan Animisme dan Dinamisme.

Jika dalam sinkritisme Jawa di percaya adanya serangkaian danyang-danyang di tempat-tempat tertentu, maka dalam ajaran Hindu di percaya adanya dewa-dewa yang menguasai tempat-tempat di bagian bumi ini. Keduanya mempunyai persamaan dan klop sudah.

Masuknya Islam di tanah Jawa pada abad XV justru semakin memberi corak tumbuhnya paham kejawen yang bibit-bibitnya telah ada sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Berdirinya kerajaan Jawa Islam Mataram, ternyata lebih menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan kepustakaan mistik Islam Kejawen. Bertitik tolak dari perjalanan sejarah inilah yang akhirnya membentuk perilaku-perilaku masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Suro. Dan hal ini masih bisa kita saksikan sampai saat ini.

2. Faktor-faktor penyebab paham kejawen

Ada dua faktor yang menyebabkan keyakinan atau paham ini masih berlangsung sampai sekarang ini, yaitu :

a. Faktor Intern

Hal ini tidak terlepas dari sikap hidup orang Jawa yang telah meyakini betul dengan nilai-nilai kejawen. Orang Islam tradisional menganggap kejawen adalah merupakan kelengkapan utama dalam kehidupan sehari-hari. Dan belum lengkap dalam menjalankan agama Islam tanpa dicampuri dengan nilai-ailai ajaran Kejawen. Mereka kalangan orang jawa masih banyak melakukan ritual-ritual kuno seperti ciri magis pewayangan, pengorbanan kerbau atau hewan tertentu bahkan ketika mereka sudah menyatakan keislamannya.[1] Karena itu mereka menjalankan agama hanya sebatas pada pelaksanaan syari’at rukun Islam yang lima. Sedangkan mereka butuh ketenangan batin dan media atau sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Zumar 3, yang berbunyi :

ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم في ما هم فيه يختلفون إن الله لا يهدي من هو كاذب كفار

Artinya : “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” ( QS. Al-Zumar 3 ).[2]

b. Faktor Ekstern.

Hal ini banyak diwarnai oleh perjalanan sejarah Jawa. Selain di dalam buku Horoskop Jawa (Primbon) disebutkan adanya larangan keras untuk mantu atau menggelar hajatan (pernikahan) di bulan Suro pada hari senin dan selasa. Atau pada tanggal 6, 11, 13, 14, 17, 18, 27 yang mereka sebut sebagai tanggal-tanggal naas atau sial. Paham Kejawen justru dikokohkan oleh Islam yang diajarkan oleh para Walisongo. Antara lain Tawassul. Pengkultusan orang-orang tertentu, larangan menyembelih hewan tertentu (Baca : Sapi) karena untuk menghormati ajaran Hindu dan lain sebagainya.

Tidak hanya di Jawa, dalam kultur sebagian masyarakat yang ada Timur Tengah juga ada kebiasaan tertentu. Terutama di Irak dan Iran. Mereka yang berpaham Syi’ah melaksanakan ritual-ritual khusus dalam rangka mengenang terbunuhnya cucu Rasulullah yang bernama Al-Husein bin Ali di Padang Karbala. Peristiwa tragis ini memang terjadi di bulan Muharram, tepatnya tanggal 10 tahun 61 H. mereka berkumpul di Padang Karbala untuk menangis, meratapi peristiwa yang menimpa Al-Husein bin Ali dengan sengaja memukul-mukul kepala , dada dan seluruh badan mereka dengan tangannya sekeras-kerasnya, bahkan dengan rantai, pedang atau apa saja sehingga mengeluarkan darah, yang bertujuan bentuk rintihan dan kesedihan dalam mengenang peristiwa itu.

Analisa

1. Akulturasi Syi’ah Kejawen

Menyimak uraian di atas, kita dapat menemukan sisa-sisa pengaruh Syi’ah sampai saat ini masih kelihatan pada beberapa daerah di Jawa, antara lain perayaan hari Asyura dengan menyajikan bubur nasi sebagai bentuk selamatan dan peringatan bagi Al-Husein yang terbunuh di Padang Karbala.

Rasa berkabung bagi orang Jawa pada bulan Suro juga mendapat pengaruh Syi’ah, mereka pantang mengadakan kesenangan pada bulan ini. Bahkan selalu mengisi waktunya dengan ritual yang bertujuan menolak bencana, bala dan kesusahan. Acara yang bersifat menyiksa diri juga juga merupakan pengaruh Syi’ah sebagaimana dijelaskan di atas, seperti Kungkum di sungai pada malam hari.

Satu lagi acara yang menarik yaitu upacara Bukak Luwur di Kudus. Entah mengapa acara ini dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram, apakah tanggal tersebut merupakan hari wafatnya Sunan Kudus, tidak ada keterangan sama sekali. Kalau dilihat dari nama Sunan Kudus Jakfar Shadiq mengingatkan kita pada nama salah satu imam dua belas yang diyakini oleh Syi’ah.

2. Mitos Bulan Suro menurut agama Islam

Kalau diteliti dan diperhatikan dengan seksama, maka tampak jelas beberapa ritual yang dilakukan orang Jawa yang bersifat syirik kepada Allah SWT.

Salah satu contoh ritual pensucian benda-benda pusakayang dianggap keramat dan ada penunggunya, sehingga diyakini kalau benda pusaka tersebut mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan si empunya sehingga mereka melakukan ritual-ritual tertentu dan memberikan sesajen agar si penunggunya menjadi betah dan tetap terjaga keampuhannya dan tidak membikin ulah. Hal demikian dalam Islam merupakan bentuk pengagungan kepada selain Allah SWT dan bentuk kesyirikan. Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :“Siapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah syirik.” (HR. Ahmad).[3]

Dan masih banyak sekali bentuk-bentuk rituan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Allah sangat tegas menyampaikan hal ini didalam firmanNya yang berbunyi :

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Artinya : “Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. “ ( QS. Al-An’am 162 ). [4]

Bahwa setiap yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai meslim sejati seharusnya hanya untuk Allah, karena Allah. Karena Dialah sebagai satu-satunya penguasa ala mini tanpa harus disekutukan dengan yang lainNya apalagi dengan makhlukNYa.

Bab IV Penutup

Dari uraian maka beberapa hal yang harus kita mensikapi tentang ritual-ritual yang ada dan banyak dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Muharram / Suro baik yang masih melakukan ajaran kejawen atau yang sudah mengakui sebagai Muslim, antara lain :

  1. Anggaplah bulan Muharram / Suro seperti bulan-bulan yang lain.
  2. Perbanyaklah ddengan puasa sunnah, salah satunya adalah puasa Asyuro atau Tasu’a.

Demikianlah makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini.

Pada akhirnya, apabila ada kesalahan dan kekurangan dari kami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan hanya Allah yang maha tahu segalanya.

Daftar Pustaka

Al qur’an dan Terjemahannya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-Syarif, Medinah Munawwarah, 1993.

Jamil, Abdul H. DKK, Islam & Kebudayaan Jawa, Semarang, Gama Media, 2000.

Abdurrahman Bin Hasan, Fath Al Majiid Syarh Kitab Al-Tauhid, Beirut, Dar Al-Kutb Al-Ilmiyah


[1] Jamil, Abdul H. DKK, Islam & Kebudayaan Jawa, Semarang, Gama Media, 2000, Hal 23.

[2] Al qur’an dan Terjemahannya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-Syarif, Medinah Munawwarah, 1993.

[3] Abdurrahman Bin Hasan, Fath Al Majiid Syarh Kitab Al-Tauhid, Beirut, Dar Al-Kutb Al-Ilmiyah, Hal 120.

[4] Al qur’an dan Terjemahannya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-Syarif, Medinah Munawwarah, 1993.

About these ads
Kategori:BUDAYA
  1. 22/11/2012 pukul 7:47 pm

    tulisan ini bagus, mari kita hidupkan tradisi islami dibulan suro ini dengan memperbanyak puasa dan istighfar,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: