Beranda > MASAIL FIQH > PENETAPAN AWAL RAMADHAN DAN 1 SYAWAL

PENETAPAN AWAL RAMADHAN DAN 1 SYAWAL

MUQODDIMAH

Puasa merupakan amalan ibadah yang sudah dikenal sejak sebelum Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad. Hal ini dapat diketahui pada suart AL-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqa”. Menurut bahasa, Shiyam/puasa berarti menahan diri. Sedangkan menurut syara’ ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

Dalam makalah ini, kami hanya akan membahas mengenai metode penentuan awal puasa wajib pada bulan Ramadhan serta akhir pelaksanaannya. Puasa ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh semua orang Islam. Tata cara dan waktu pelaksanaannya sudah ditentukan secara jelas, yaitu pada awal bulan Ramadhan hingga akhir bulan, dimulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Karena penanggalan Islam menggunakan system lunar (peredaran bulan), maka penentuan awal ramadhan ditentukan dengan cara melihat awal bulan atau bulan sabit pada malam bulan terakhir.

Setelah ditemukannya ilmu perbintangan, maka penentuan awal bulan dapat dilakukan dengan cara perhitungan (hisab). Perbedaaan cara penentuan awal bulan antara melihat langsung (rukyat) dan perhitungan (hisab) sering menimbulkan perbedaan hasil penetapan awal bulan. Akibatnya, pelaksanaan ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri di masyarakat terjadi perbedaan awal pelaksanaannya. Di Indonesia, yang sering terjadi adalah perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Fitri atau akhir pelaksanaan dari ibadah puasa Ramadhan.

Permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini adalah bagaimana sebenarnya penentuan awal bulan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Pembahasan akan di fokuskan pada cara penentuan awal bulan berdasarkan kajian-kajian historis-empiris berdasarkan petunjuk syariat disertai pendapat maupun pandangan para Ulama’. Analisis sederhana akan kami utarakan dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal bulan yang dianut masyarakat. Pandangan dan hasil kesimpulan dari kami merupakan pandangan pribadi berdasarkan pengetahuan kami yang sedikit.

HUKUM ASAL PENENTUAN AWAL BULAN

Hukum asal penentuan awal bulan Syawwal (Hari Raya ‘Iedlul Fithri) adalah dengan ru’yatul hilal (melihat bulan sabit) berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.

(رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنهما)

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian ber-Idul Fithri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka kalian perkirakanlah. (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما)

“Memperkirakan” ketika hilal terhalang oleh awan atau lainnya adalah dengan menggenapkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain sebagai berikut:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

)رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي)

Berpuasalah kalian jika kalian melihatnya (hilal) dan ber’iedlul Fithrilah kalian jika kalian melihatnya. Jika kalian terhalang untuk melihatnya, maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

METODE PENENTUAN AWAL BULAN

Semula umat Islam hanya mengenal sistem rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika ilmu hisab masuk dalam kalangan umat Islam pada abad 8 Masehi di masa Dinasti Abasiyah, maka mulai berkembang pemikiran untuk menggunakan hisab bagi penentuan awal bulan qamariyah. Dari dua sistem tersebut lahirlah perbedaan antara hisab dengan rukyat, perbedaan di dalam rukyat, dan perbedaan di dalam hisab.

Sistem rukyat melahirkan berberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada ruang lingkup berlakunya rukyat, maka timbullah istilah: rukyat lokal, rukyat nasional, dan rukyat global.
2. Pendapat yang mendasarkan pada ada atau tidak adanya persinggungan dengan hisab, maka timbullah: pendapat yang mendasarkan pada rukyat minus dukungan hisab dan pendapat yang mendasarkan pada rukyat plus dukungan hisab.

Sistem hisab melahirkan beberapa pendapat:
1. Pendapat yang mendasarkan pada adanya perbedaan metode hisab, yaitu:
a. Metode Hisab Urfi.
b. Metode Hisab Haqiqi Taqribi (disingkat Taqribi).
c. Metode Hisab Haqiqi Tahqiqi (disingkat Tahqiqi).
d. Metode Hisab Tadqiqi/’Ashri atau Kontemporer.

2. Pendapat yang mendasarkan pada kriteria awal bulan:
a. Pendapat yang mendasarkan pada Waktu Ijtima’.
b. Pendapat yang mendasarkan pada Wujudul Hilal.
c. Pendapat yang mendasarkan pada Imkanur Rukyat.

Meskipun terdapat keragaman, tetapi di dalam sejarah sejak zaman Sahabat hingga sekarang ternyata para khalifah, sultan, ulil amri menggunakan sistem rukyat sebagai dasar itsbat awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Kami tidak akan membahas mengenai berbagai metode di atas. Kami hanya akan membahas sedikit mengenai pengertian rukyat dan hilal secara umum dan sekilas pengetahuan astronomi mengenai kemungkinan penampakan hilal.

RUKYAT

Rukyat adalah melihat dan mengamati hilal secara langsung di lapangan pada hari ke 29 (malam ke 30) dari bulan yang sedang berjalan; apabila ketika itu hilal dapat terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar rukyatul hilal; tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu tanggal 30 bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar istikmal.

Ada nash al-Quran yang dapat dipahami sebagai perintah rukyat, yaitu QS. al-Baqarah:185 (perintah berpuasa bagi yang hadir di bulan Ramadhan) dan QS. al-Baqarah:189 (tentang penciptaan ahillah). Dan tidak kurang dari 23 hadits tentang rukyat, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, ad-Darimi, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lain-lain . Dasar rukyat ini dipegangi oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).

Rukyat atau pengamatan hilal akan menambah kekuatan iman. Pengamatan terhadap benda-benda langit termasuk bulan adalah bagian dari melaksanakan perintah untuk memikirkan ciptaan Allah agar lebih dalam mengetahui kemahabesaran Allah, sehingga memperkuat iman.

Rukyat mempunyai nilai ibadah jika digunakan untuk penentuan waktu ibadah seperti shiyam, ‘id, gerhana, dan lain-lain. Rukyat adalah ilmiah. Rukyat atau pengamatan/penelitian/observasi terhadap benda-benda langit melahirkan ilmu hisab. Tanpa rukyat tidak akan ada ilmu hisab. Rukyat yang diterima sebagai dasar adalah hasil rukyat di Indonesia (bukan rukyat global) dengan wawasan satu wilayah hukum NKRI. Sehingga apabila salah satu tempat di Indonesia dapat menyaksikan hilal, maka hasil rukyat demikian ini menjadi dasar itsbatul aam yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

ANTARA RU’YAT LOKAL DAN RU’YAT GLOBAL !

Ru’yat adalah adalah salah satu metoda penentuan awal bulan (qomariyah) yang telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu, yaitu melihat hilal (bulan baru/sabit) setelah ijtima’ (konjungsi) dan setelah wujud/muncul di atas ufuk. Secara teknis, pelaksanaan ru’yat amat mudah dilakukan oleh siapa saja, asalkan cuaca baik (tidak mendung), topografi amat memungkinkan (tidak ada penghalang geografis ke arah ufuk Barat), serta pengamat memiliki
penglihatan sehat dan sudah terbiasa memperhatikan langit.

Karena demikian sederhananya metoda ini, maka penggunaan ru’yat dapat dilakukan sepanjang masa. Rasulullah saw. telah menyinggung penetapan awal bulan (Ramadhan dan Syawal) berdasarkan metoda ini, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bulan sabit sebagai tanda awal bulan. Jika kalian melihatnya (bulan sabit Ramadhan), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (bulan sabit Syawal), maka berbukalah. Apabila penglihatanmu terhalang, maka genapkanlah hitungannya menjadi 30 hari. Ketahuilah, setiap bulan tidak pernah lebih dari 30 hari.” (lihat al Mustadrak al Hakim, jilid I, hal. 423).

Menurut al Hakim yang dibenarkan oleh Imam adz Dzahabi, hadits ini shahih dari sanadnya berdasarkan kriteria Imam Bukhari dan Imam Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan hadits tersebut. Lafadz hadits tadi bersifat umum, mencakup seluruh kaum
muslimin, dimanapun mereka berada. Artinya, bila penduduk negeri-negeri muslim di belahan Timur telah melihat hilal bulan Ramadhan, maka ru’yat mereka itu wajib diikuti (pelaksanaannya) oleh kaum muslimin yang hidup di negeri-negeri belahan Barat, tanpa kecuali.

Hanya saja, pada masa itu luasnya wilayah kaum muslimin, serta terbatasnya sistem komunikasi antara satu daerah dengan daerah lainnya, menghasilkan perbedaan pelaksanaan awal shaum maupun awal Syawal. Salah satunya tersirat dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas:

“Diriwayatkan dari Kuraib bahwasanya Ummu Fadl telah mengutusnya menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata: ‘Lalu aku pergi ke Syam dan menyelesaikan urusan Ummu fadl. Ternyata bulan Ramadhan telah tiba, sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal (bulan sabit) pada malam Jum’at. Kemudian aku kembali ke kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan.’ Ibnu Abbas lalu bertanya kepadaku tentang hilal. Dia bertanya: ‘Kapan kamu melihat bulan?’ Aku jawab: ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Dia bertanya
lagi: ‘Apakah kamu sendirian melihatnya?’ Aku menjawab: ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyah.’ Dia berkata lagi: ‘Tapi kami di Madinah melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga sempurna
bilangan 30 hari, atau hingga kami melihatnya.’ Aku lalu bertanya: ‘Tidak cukupkah kita berpedoman kepada ru’yat dan puasanya Muawiyah?’ Dia menjawab: ‘Tidak (sebab) demikianlah Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami.'” (HR. Jamaah, kecuali
Imam Bukhari dan Ibnu Majah).

Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar, jilid IV, hal. 125 telah mengomentari hadits ini: “Ketahuilah bahwa yang layak menjadi hujjah itu tidak lain adalah riwayat yang marfu’ (yang mata rantainya sampai pada Rasulullah saw.) dari Ibnu Abbas, bukan ijtihad Ibnu Abbas sendiri (sebagaimana hadits di atas, pen).”

Imam Syaukani lalu melanjutkan: “Sedangkan kenyataan sebenarnya yang berasal dari Rasulullah saw. Adalah sabdanya yang diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari dan
Muslim) serta yang lainnya dengan lafadz: “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat bulan (hilal). Dan janganlah kalian berbuka puasa (mengakhiri Ramadhan) hingga kalian
melihatnya pula. Maka jika pandangan kalian terhalang (oleh awan) sempurnakanlah bilangan (bulan) sebanyak 30 hari” Sabda beliau ini tidak dikhususkan untuk penduduk suatu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan khithab (seruan) yang tertuju kepada siapapun diantara kaum muslimin yang seruan itu telah sampai kepadanya.”

Imam Syaukani lalu menutup uraiannya dengan menyimpulkan : “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan (ru’yatul hilal), maka ru’yat itu berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.” Pendapat Imam Syaukani ini sama dengan yang dipahami oleh para Imam madzab seperti Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad.

Abdurrahman al Jazairi telah melontarkan perkara ini dan menyimpulkan sebagai berikut: “Apabila ru’yatul hilal (terlihatnya bulan sabit) telah terbukti di salah satu negeri, maka negeri-negeri yang lain (juga) wajib berpuasa. Dari segi pembuktiannya, tidak ada perbedaan antara negeri yang dekat dengan yang jauh, jika (berita) ru’yatul hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara (terpercaya) yang mewajibkan puasa. Tidak diperhatikan lagi disini adanya perbedaan mathla’ hilal (tempat terbitnya bulan sabit) secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga Imam madzab (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hambal). Para pengikut madzab Syafi’i berpendapat lain. Mereka mengatakan, apabila ru’yatul hilal di suatu daerah telah terbukti, maka atas dasar pembuktian itu, penduduk yang terdekat di sekitar daerah tersebut wajib berpuasa. Ukuran kedekatan (diantara dua daerah) dihitung berdasarkan kesamaan mathla’, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh (kurang lebih 120 km). Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan ru’yat ini, karena terdapat perbedaan mathla’ (lihat al Fiqh ‘ala al Madzaahibil ‘Arba’ah, karya Abdurrahman al Jazairi, jilid I, hal.55).

Dalam perkara ini, pendapat ketiga imam madzab itu terbukti paling tepat, sedangkan pendapat Imam Syafi’i dalam perkara ini kurang tepat, karena: Pertama, saat itu pengetahuan tentang manathul hukmi (fakta yang menjadi obyek penerapan hukum) masih amat sedikit. Yaitu ilmu tentang astronomi dan geografi masih minim. Sementara saat ini
kita mengetahui bahwa jarak terjauh perbedaan penetapan awal shaum dan akhir shaum paling lama adalah 12 jam. Dan kebanyakan kaum muslimin tinggal di daerah kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara, yang perbedaan waktunya paling lama adalah 4 – 5 jam. Dalam interval waktu ini amat memungkinkan saudara-saudara kita di belahan Barat –yang mungkin melihat lebih dahulu hilal Ramadhan/Syawal– untuk menyampaikan informasi (melalui telepon, fax, email, telegram, radio, televisi) kepada kita kaum muslimin yang berada di belahan Timur. Sebab terdapat jeda waktu yang cukup antara saat Maghrib (saat ru’yatul hilal) dengan waktu sahur (menjelang fajar) untuk mencari dan memperoleh informasi tentang ru’yatul hilal dari negeri-negeri lain yang melihatnya terlebih dahulu, sehingga perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan alasan lagi adanya perbedaan waktu awal shaum Ramadhan, maupun penetapan ‘Id. Disamping itu, yang dimaksud mathla’ adalah lokasi-lokasi di atas permukaan bumi yang terletak pada bujur yang sama yang menjadi tempat munculnya/terbitnya bulan baru (hilal). Dan ini tidak dapat dibatasi dengan jarak 24 farsakh
(kurang lebih 120 km) saja.

Kedua, bahwa Imam Syafi’i menyandarkan pendapatnya pada ijtihad Ibnu Abbas ra. dalam hal bolehnya berpuasa bagi setiap daerah berdasarkan ru’yatnya masing-masing, dan bahwasanya ru’yat daerah tertentu tidak berlaku bagi daerah lainnya. Oleh karena itu –menurut Ibnu Abbas– ru’yat penduduk Syam, misalnya, tidak berlaku bagi penduduk Hijaz (Madinah). Padahal pendapat ini diambil dari hadits yang sampai pada Ibnu Abbas, tidak marfu’ (tidak sampai pada Rasulullah saw.), yang menurut Imam Syaukani tidak layak dijadikan hujjah (argumentasi), karena berupa ijtihad (pemahaman) Ibnu Abbas saja.

Berdasarkan uraian di atas, maka tidak ada alasan bagi kaum muslimin saat ini di belahan negeri-negeri muslim manapun untuk tidak menyatukan awal dan akhir Ramadhan mereka, karena telah jelas bagi kita penyatuan itu amat memungkinkan serta merupakan
pendapat yang lebih tepat dari segi hukum syara’. Lagipula sarana komunikasi saat ini yang amat cepat dan canggih sangat memungkinkan bagi kita –kaum muslimin– untuk saling bertukar informasi secepatnya, mengabarkan telah dilihatnya hilal Ramadhan maupun Syawal kepada saudaranya di belahan bumi lainnya.

Disamping itu, teknik hisab (perhitungan) matematis yang akurasi dan ketelitiannya semakin tajam amat membantu kesempurnaan metoda ru’yatul hilal, disamping berkembangnya sarana-sarana astronomi yang modern dengan ditemukannya teropong digital infrared untuk melakukan ru’yatul hilal, meskipun di ufuk Barat tertutup oleh
mendung/awan, serta kemampuannya merekam obyek (melalui film) sehingga tidak ada lagi perbedaan bagi orang yang melakukan ru’ yat karena hasil rekaman obyeknya dapat diputar ulang lagi untuk
memastikan telah munculnya/terbitnya hilal.

HISAB

Ilmu hisab / ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang membahas posisi dan lintasan benda-benda langit, tentang matahari, bulan, dan bumi dari segi perhitungan ruang dan waktu. Ilmu Hisab sebagai ilmu yang termasuk dalam kelompok ilmu pengetahuan alam, maka berlaku ketentuan-ketentuan ilmu itu; artinya dapat berkembang terus menerus sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Pengamatan atau penelitian/observasi (rukyat) terhadap benda-benda langit terus menerus dilakukan oleh para ahlinya, sehingga berkembang pula ilmu hisab yang semakin tinggi tingkat akurasinya.

Dewasa ini di kalangan Umat Islam berkembang lebih dari 20 metode hisab (kitab hisab) yang dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: metode haqiqi Taqribi (disingkat taqribi), metode haqiqi tahqiqi (disingkat tahqiqi), dan metode Tadqiqi/’Ashri atau kontemporer.

Hisab sebagai pendukung rukyat. Bukan sebagai dasar penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah karena ia sebagai ilmu yang dihasilkan oleh rukyat.

SEKILAS PENGETAHUAN KRITERIA VISIBILITAS HILAL

Sebagai sebuah benda langit yang mengorbit bumi, bulan memiliki fase-fase. Ada fase bulan baru, kuartir pertama, bulan purnama, kuartir ketiga, dan fase bulan mati. Selang waktu yang diperlukan dari salah satu fase bulan untuk kembali ke fase yang sama, disebut periode sinodis. Jadi, dari bulan-baru ke bulan-baru berikutnya, atau purnama kembali ke purnama selanjutnya, adalah satu periode sinodis. Dengan acuan periode sinodis bulan inilah sistem penanggalan Hijriyah, yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam atas prakarsa Khalifah Umar r.a , dibangun, dan umur bulan di dalamnya bervariasi, 29 atau 30 hari.

Awal bulan dalam kalender Hijriyah ditandai dengan penampakan hilal, yakni bulan sabit pertama setelah konjungsi yang dapat dilihat dengan mata bugil. Dengan demikian, satu bulan dalam penanggalan Hijriyah dimulai dari penampakan hilal sampai penampakan hilal berikutnya. Bisa tidaknya hilal teramati bergantung pada waktu dan tempat. Kebergantungan terhadap waktu terkait dengan waktu terbenamnya matahari dan hilal serta usia hilal sendiri, yakni selang waktu penampakan hilal dari saat konjungsi; sedangkan kebergantungan terhadap tempat erat kaitannya dengan posisi geografis pengamat di muka bumi. Sebenarnya masih ada faktor lain yang turut mempengaruhi penampakan hilal, yaitu kecerlangan langit senja dan refraksi angkasa.

Cahaya hilal sangatlah lemah bila dibandingkan dengan cahaya matahari maupun cahaya senja, sehingga teramat sulit untuk bisa mengamati hilal yang masih berusia sangat muda. Semakin muda usia bulan semakin dekat ia dengan matahari; sebaliknya makin tua usianya, bulan makin menjauhi matahari. Pada saat konjungsi, bulan dan matahari berada di bujur ekliptika yang sama. Setelah lewat konjungsi, keduanya pun berangsur-angsur menjauh. Pada hilal yang sangat muda, beda azimut antara bulan dan matahari amat kecil (akibatnya jarak sudut antara keduanya pun kecil) demikian pula dengan luas hilal yang memantulkan sinar matahari. Karena dekatnya jarak-sudut bulan-matahari ini, hilal akan terbenam beberapa saat setelah matahari terbenam dan dengan tipisnya sabit hilal yang memantulkan sinar matahari berarti diperlukan latar yang gelap untuk bisa mengamati penampakan hilal. Jadi mengamati hilal bukanlah pekerjaan yang ringan, sebab meskipun hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam ia belum tentu bisa diamati. Sebabnya adalah cahaya hilal yang amat lemah itu kalah dengan cahaya senja. Artinya, agar mata manusia dapat mengamati hilal dengan baik diperlukan kondisi langit yang gelap. Persoalannya adalah makin muda usia hilal makin dekat kedudukannya dengan matahari, sehingga tidak ada cukup waktu untuk menunggu senja meredup agar hilal bisa teramati. Dengan kata lain hilal terburu terbenam saat langit masih cukup terang. Sebenarnya dengan makin meningkatnya usia hilal, kesulitan di atas dengan sendirinya akan teratasi sebab pada saat itu beda azimut bulan-matahari sudah membesar sehingga pengamat punya cukup waktu untuk menyaksikan hilal di atas ufuk setelah matahari terbenam maupun menunggu redupnya senja.

Angkasa bumi penuh dengan partikulat-partikulat berbagai ukuran. Debu-debu dan molekul uap air yang ada di angkasa dapat juga mempengaruhi penampakan hilal. Debu-debu dan molekul uap air di dekat horison dapat membiaskan cahaya hilal, mengurangi cahaya sampai dengan 40% dari yang seharusnya sampai ke mata pengamat. Keadaan menjadi lebih parah untuk hilal berusia sangat muda, sebab cahayanya bisa “habis” di jalan sebelum sampai ke mata kita. Karena kenyataan ini jugalah tempat yang lebih tinggi, meskipun mempunyai medan pandang yang lebih luas dan dalam ke horison, kurang menguntungkan sebab makin besar serapan cahaya hilalnya di horison bila dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah. Jadi, pokok permasalahannya adalah bagaimana hilal yang jelas-jelas di atas ufuk dapat diamati, dengan memperhatikan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. Untuk itulah orang lantas membuat kriteria kenampakan (visibilitas) hilal untuk dapat menentukan permulaan bulan dalam kalender Hijriyah, yang juga erat kaitannya dengan penentuan waktu-waktu ibadah.

Faktor yang dominan dalam penampakan hilal adalah jarak sudut bulan-matahari dan tinggi hilal saat matahari terbenam. Orang-orang Babilonia kuno sudah memiliki kriteria sendiri untuk hal ini, bahwa hilal dapat dilihat saat hilal mencapai usia lebih dari 24 jam setelah konjungsi. Fotheringham, dengan menggunakan hasil pengamatan orang-orang Yunani, menurunkan kriteria visibilitas hilal berdasarkan beda azimut bulan-matahari dan tinggi hilal dari ufuk. Telaah Fotheringham ini kemudian dikembangkan oleh Maunder yang selanjutnya disempurnakan lagi dalam Indian Astronomical Ephemeris. Dari ketiga kriteria ini, untuk beda azimut yang membesar, tinggi hilal dari ufuk yang diperlukan agar hilal dapat teramati makin berkurang. Jadi tinggi hilal untuk beda azimut 10 derajat, lebih rendah daripada tinggi hilal bila beda azimutnya 5 derajat.

Seorang berkebangsaan Prancis, A. Danjon, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut bulan-matahari sebesar 7 derajat merupakan batas bawah hilal dapat teramati oleh mata bugil. Meskipun hasil di atas disempurnakan oleh M. Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 yang menghasilkan angka 10,5 derajat untuk jarak sudut bulan-matahari pada beda azimut 0 derajat agar hilal dapat dilihat, keduanya sepakat untuk satu hal, bahwa hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama. Bagi para ahli hisab di Indonesia, ada dua kriteria yang dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan. Pertama, kriteria tinggi hilal yang memungkinkan hilal dapat dirukyat. Namun di antara ahli hisab sendiri belum ada kesepakatan tentang tinggi hilal yang dimaksud. Secara umum tinggi hilal adalah 2 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, kriteria konjungsi sebelum matahari terbenam, yang merupakan kriteria khusus untuk daerah di sekitar khatulistiwa. Dengan kriteria ini, hanya perlu dibandingkan waktu terjadinya konjungsi dengan waktu terbenamnya matahari. Disepakati usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi agar hilal dapat diamati.

Kriteria visibilitas hilal lainnya yang memiliki dasar-dasar ilmiah yang kokoh adalah yang ditetapkan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme). Kriteria tersebut terbagi atas tiga bergantung pada segi yang diperhitungkan, yaitu pertama, kriteria posisi bulan dan matahari; batas-bawah tinggi hilal agar hilal dapat diamati adalah 4 derajat dengan syarat beda azimut bulan-matahari lebih besar dari 45 derajat, sedangkan bila beda azimutnya 0 derajat diperlukan ketinggian minimal 10,5 derajat. Kedua, kriteria beda waktu terbenam; hilal dapat teramati bila waktu terbenamnya minimal lebih lambat 40 menit dari waktu terbenamnya matahari. Untuk daerah di lintang tinggi, terutama di musim dingin, diperlukan beda waktu yang lebih besar. Ketiga, kriteria umur bulan dihitung sejak konjungsi; hilal dapat diamati bila berumur lebih dari 16 jam untuk pengamat di daerah tropis dan berumur lebih dari 20 jam untuk pengamat di lintang tinggi.

Dari apa yang tertulis di atas, tampak belum adanya kriteria yang benar-benar menjadi kesepakatan bersama. Kesepakatan untuk menganut kriteria yang memiliki dasar-dasar ilmiah (astronomis) yang kokoh dan teruji secara empiris sangat diperlukan, sehingga diharapkan terwujudnya sistem penanggalan yang seragam bagi umat Islam, khususnya yang menyangkut penentuan waktu-waktu ibadah. Tentu saja untuk dapat mencapai kesepakatan itu diperlukan kebesaran jiwa dalam menerima sistem penanggalan yang mungkin saja masih terasa “asing”.

PANDANGAN DAN PENDAPAT PARA ULAMA’

Penentuan Ramadlan, Syawwal, Haji dan lain-lain adalah tanggung jawab penguasa. Hari Raya adalah suatu amalan yang bersifat jama’i (dilakukan secara berjama’ah), maka penguasalah yang berkewajiban untuk ru’yatul hilal atau orang-orang khusus yang mereka tugaskan, atau merekalah yang menerima berita-berita dari orang yang melihat hilal dan menentukan sah atau tidak sahnya. Oleh karena itu kita tidak bisa melaksanakan hari raya sendiri-sendiri dengan melihat hilal sendiri-sendiri. Kewajiban rakyat -kaum muslimin – adalah mentaati penguasanya pada hasil keputusan mereka, hingga terjadilah kebersamaan yang dikehendaki oleh syariat Islam.

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله dalam Tamamul Minnah: “Sesungguhnya untuk melihat hilal atau mencari berita tentang hilal dari negeri-negeri lain pada hari ini adalah perkara yang mudah, sebagaimana sudah dimaklumi. Namun yang demikian perlu perhatian serius dari para penguasa negara-negara Islam hingga (persatuan) akan terwujud menjadi kenyataan insya Allah tabaraka wa ta’ala”. (Tamamul Minnah, hal. 398)

Perintah untuk mentaati penguasa tersebut adalah terus berlangsung walaupun penguasa tersebut dhalim atau fasik.

Berkata Imam ash-Shabuni رحمه الله dalam Aqidatus Salaf hal. 102: “Ahlul hadits berpendapat untuk menegakkan shalat Jum’at dan dua hari raya dan lain-lain dari shalat-shalat jama’ah di belakang setiap penguasa muslim yang baik atau pun yang jahat. Dan berpendapat untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bersama mereka, walaupun penguasa tersebut dhalim dan jahat”.

Berkata Imam al-Barbahari رحمه الله: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidak mengurangi kewajiban yang Allah wajibkan melalui lisan nabi-Nya صلى الله عليه وسلم. Kejahatannya untuk diri mereka sendiri, sedangkan ketaatan dan kebaikanmu bersamanya tetap sempurna -Insya Allah. Yakni kebaikan berupa shalat jama’ah, Jum’at dan jihad bersama mereka dan segala sesuatu dari ketaatan yang dikerjakan bersama mereka, maka pahalamu sesuai dengan niatmu”. (Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 116)

Berkata Abu Ja’far ath-Thahawi رحمه الله: “Haji dan jihad terus berlangsung bersama penguasa kaum muslimin, yang baik atau yang jahat, sampai hari kiamat; tidak terbatalkan dan tidak gugur (dengan kefasikan mereka). (Al-Aqidah ath-Thahawiyah, dengan syarh Ibnu Abil ‘Izz, hal. 287)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: “Dan mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syari’at. Mereka berpendapat untuk menegakkan haji, shalat jum’at, dan hari raya bersama para penguasa, apakah mereka orang-orang baik ataukah orang-orang jelek. Dan berpendapat untuk menegakkan shalat jama’ah, jihad dan menegakkan nasehat untuk umat”. (Aqidah Wasithiyah, Ibnu Taimiyah, hal. 257)

Berkata Syaikh Shalih al-Fauzan رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: “Yang demikian karena tujuan kaum muslimin adalah menyatukan kalimat dan menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena penguasa yang fasik tidak lepas dari kedudukannya sebagai penguasa yang harus ditaati dan tidak boleh ditentang, apalagi jika sampai berakibat menelantarkan kewajiban-kewajiban dan menumpahkan darah”. (Syarh Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Shalih Fauzan, hal. 216)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله ketika menjelaskan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas sebagai berikut: “Mereka (ahlus sunnah wal jama’ah) berpendapat untuk menegakkan haji bersama para penguasa walaupun mereka fasik. Bahkan walaupun merekaeminum khamr ketika haji. Mereka tidak berkata: “Ini adalah imam faajir, kami tidak mau terima kepemimpinannya”. Karena mereka berpendapat bahwa mentaati penguasa adalah wajib walaupun mereka fasik, selama kefasikannya tidak membawa pada kekafiran yang jelas yang di sisi Allah kita punya bukti…”. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 337)

Beliau berkata pula: “Demikian pula menegakkan hari raya-hari raya bersama para penguasa yang mengimami shalat mereka. Apakah ia orang baik ataukah orang jelek. Dengan jalan yang damai ini, jelaslah bahwa agama Islam ini merupakan jalan tengah di antara orang yang berlebih-lebihan dan orang-orang yang melalaikan”. (sumber yang sama hal. 336)

Berkata Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi رحمه الله: “Telah ditunjukkan oleh dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta ijma’ para salaful ummah bahwa para penguasa, pemimpin shalat, hakim, panglima perang dan pengurus zakat ditaati dalam perkara-perkara ijtihad. Dan tidaklah mereka mentaati anak buahnya dalam perkara ijtihad, tetapi rakyatlah yang harus mentaatinya dalam masalah-masalah tersebut. Dan hendaklah mereka menyerahkan pendapatnya kepada penguasa tersebut, karena kepentingan umum dan persatuan serta bahayanya perpecahan dan pertikaian adalah lebih diperhatikan daripada masalah-masalah pribadi atau kelompok.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 376)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله: “Jika ada yang bertanya: “Mengapa kita mesti shalat di belakang mereka dan mengikuti mereka dalam haji, jihad, Jum’at dan hari raya?” Kita katakan bahwa mereka adalah penguasa kita yang kita beragama dengan mentaati mereka, karena perintah Allah سبحانه وتعالى:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ… (النساء: 59 )

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian…” (an-Nisaa’: 59)

Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ . (رواه مسلم)

Sesungguhnya akan terjadi setelahku kedhaliman-kedhaliman dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada orang yang mengalami masa tersebut dari kami?” Beliau menjawab: “Tunaikanlah hak-hak mereka atas kalian, dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian. (HR. Muslim)

Yang dimaksud “hak-hak mereka (para penguasa)” adalah ketaatan kepada mereka pada selain kemaksiatan. (Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Syaikh Utsaimin, juz ke-2, hal. 339)

Dengan kita mengikuti ucapan-ucapan para ulama di atas, niscaya akan terwujud kebersamaan yang disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits yang sudah kita sebutkan pada edisi ke-80, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْن وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ. َ(رواه الترمذي وقال: حديث غريب حسن)

Puasa itu adalah hari ketika kalian seluruhnya berpuasa, Iedlul Fithri adalah hari di mana seluruh kalian berbuka (yakni tidak berpuasa lagi –pent.) dan Iedlul Adha adalah hari ketika kalian seluruhnya menyembelih kurban. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan Tuhfatul Ahwadzi, 2/37)

Adapun cara para penguasa menentukan hari raya tersebut, apakah dengan ru’yah atau dengan hisab, maka merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Hadits di atas di samping merupakan dalil untuk berpuasa bersama kaum muslimin, juga merupakan dalil berhari raya bersama mereka.

Berkata ash-Shan’ani dalam Subulus Salam 2/72: “Pada hadits ini ada dalil bahwa yang teranggap dalam menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal (bulan sabit) tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’iedlul Fithri atau pun berkurban”.

Disamping itu ada pula hadits mauquf yang semakna dengan ini dari Aisyah رضي الله عنها dikeluarkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu Hanifah, Ia berkata: Menyampaikan kepadaku Ali bin Aqmar, dari Masruq, bahwa ia mendatangi rumah Aisyah pada hari Arafah (dalam keadaan tidak berpuasa –pent.). Aisyah رضي الله عنها berkata: “Berilah Masruq minuman dan perbanyaklah halwa untuknya!” Masruq berkata: “Tidaklah menghalangiku untuk berpuasa pada hari ini, kecuali aku khawatir hari ini adalah hari raya nahr (iedlul Adha). Maka Aisyah pun berkata:

النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ. (رواه البيهقي)

Hari raya Nahr adalah hari manusia menyembelih, dan iedlul Fithri adalah hari ketika manusia berbuka (yakni tidak lagi berpuasa). (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin alAlbani, hal. 442)

Disebutkan pula ucapan senada oleh Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Tahdzibu as-Sunan, 3/214: “Dikatakan bahwa pada hadits ini terdapat bantahan atas orang yang berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang melihat munculnya bulan Sabit dengan mengukur hisabnya atau menghitung tempat-tempat terbitnya, boleh baginya berpuasa dan beriedlul Fithri sendiri, tidak seperti orang yang tidak mengetahuinya”. Dikatakan bahwa seorang yang melihat munculnya bulan sabit sendirian, tetapi hakim tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berpuasa sebagaimana manusia pun belum berpuasa”. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani). Demikian pula tentunya siapa yang melihat hilal Syawwal sendirian, namun penguasa tidak menerima persaksiannya, maka dia tidak boleh berhari raya sendirian.

Berkata Abul Hasan as-Sindi dalam catatan kakinya terhadap Sunan Ibnu Majah, setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah dalam riwayat di atas sebagai berikut: “Tampaknya makna hadits ini adalah bahwa perkara-perkara tersebut bukan haknya pribadi-pribadi seseorang tertentu. Dan tidak boleh seseorang menyendiri dalam masalah tersebut, tetapi urusan ini dikembalikan kepada imam dan jama’ah kaum muslimin seluruhnya. Wajib bagi setiap pribadi mengikuti kebanyakan manusia dan penguasanya. Dengan demikian jika seseorang melihat hilal, tetapi penguasa menolaknya, maka semestinya dia tidak tidak menetapkan perkara-perkara tadi pada dirinya sendirian, sebaliknya wajib baginya mengikuti kebanyakan manusia”. (Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

About these ads
Kategori:MASAIL FIQH
  1. maserani07
    22/03/2012 pukul 11:43 am

    bagaimana dengan perbedaan 4 mazhab tentang penentuan awal puasa dan juga niatnya, tolong juga referensinya………. mkasih……….

  2. mazguru
    27/03/2012 pukul 8:56 am

    I. Penentuan awal Puasa

    1. Ayat Al Qur’an
    فمن شهد منكم الشهر فليصمه
    Artinya: Siapa saja yang menyaksikan hilal awal bulan maka berpuasalah.

    2. Hadits Nabi
    صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان غم عليكم فاقدروا له
    Artinya; Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan Berbukalah (hari raya) karena melihat hilal, jika cuaca mendung diatas kamu, maka ukurlah (kadar harinya.)

    3. Pendapat Ulama

    Terhadap firman Allah diatas ulama kekinian membahas panjang lebar pada kata شهد Apakah berarti menyaksikan dengan mata zhahir, atau cukup dengan keyakinan dihati atau harus kedua-duanya. Bagi yang memahami kata tersebut berarti menyaksikan dengan mata zhahir, mereka berpendapat memulai puasa atau jatuhnya hari raya harus melalui jalan adanya persaksian dari satu orang atau lebih yang telah melihat bulan baru (hilal), mereka dinamai mazhab rukyah.

    Bagi yang memahami kata tersebut berarti keyakinan di mata bathin (hati) melalui perhitungan falakiyyah yang akurat berdasarkan data-data yang ada kemudian dihasilkan secara perhitungan tersebut bulan baru (hilal) sudah diatas ufuk ketika matahari tenggelam, tanpa harus di buktikan dengan mata zhahir mereka akan puasa atau berlebaran keesekon harinya. Mereka dinamai mazhab hisab.

    Pendapat terakhir yang memperkenalkan teori “Imkanur rukyah” menyatakan jika hilal telah berada diatas ufuk yang menurut teori dimungkinkan terlihat namun karena faktor cuaca yang tidak mendukung, tetap dinyatakan keesokan harinya harus berpuasa atau berhari raya, namun jika ketinggian hilal menurut teori tidak mungkin terlihat mereka akan menolak kesaksian orang yang mengaku melihat hilal.

    Terhadap hadits Rasul diatas Ulama berebeda memahami kata فاقدروا له (tentukanlah) . Jumhur (mayoritas ulama) termasuk didalamnya Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) menyatakan bahwa yang dimaksud kata tersebut adalah sempurnakanlah jumlah hari bulan sebelumnya 30 hari, karena ada hadits lain yang dianggap menjelaskan hadits diatas yakni فان غم عليكم فاكملوا العدة ثلاثين (jika mendung diatasmu maka sempurnakanlah jumlah bilangannya 30 hari)

    Sebagian ulama salaf yang di dalamnya terdapat Mutharraf bin Syakhir (seorang ulama besar masa Tabi’in) menyatakan yang dimaksud dengan kata tertsebut dalah kembali kepada Hisab (perhitungan) dengan memperhatikan perjalanan bulan dan matahari.

    Ibnu Suraij ulama yang bermazhab Syafi’I menyatakan bahwa maksud dari sabda Nabi sama dengan teori Imkanur rukyah.
    (lebih lengkap silahkan dibaca pada kitab Bidayatul Mujtahid karya ibnu Rusyd al-Qurthuby jilid I hal 207-208)

    II. Waktu Niat Puasa

    1. Hadits Hadits Nabi
    من لم يبيت الصيام من اليل فلا صيام له
    Siapa yang tidak niat diwaktu malam maka tidak ada puasa baginya

    ياعائشة هل عندكم شيئ؟ قالت قلت يارسول الله ماعند نا شيئ! قال فانى صائم
    Hai ‘Aisyah apakah kamu punya makanan ? ‘Aisyah menjawab, Saya tidak memiliki makanan ya Rasulallah ! Rasul Bersabda kalau begitu aku puasa.

    2. Pendapat ulama
    Imam Malik menyatakan bahwa tidak sah puasa kecuali niatnya dilakukan sebelum fajar (subuh), ia tidak membedakan apakah itu puasa wajib atau puasa sunnah maupun puasa nazar. Pendapat ini didasarkan pada keumuman hadits yang pertama.

    Imam Syafi’I menyatakan jika puasa yang dilakukan adalah puasa wajib, maka niatnya harus malam hari sebelum fajar namun jika puasanya sunnah boleh niat dilakukan siang hari setelah fajar. Imam Syafi’I membedakan antara hadits pertama dengan hadits kedua, hadits pertama tentang puasa wajib dan hadits kedsua tentang puasa sunnah.
    Imam Abu Hanifah menyatakan niat puasa wajib yang ditentukan waktunya seperti romadhan dan puasa nazar maka sah niatnya sekalipun setelah fajar (subuh) karena sudah jelas waktunya tidak akan pernah salah. Sedangkan puasa wajib yang tidak tetntu waktunya seperti puasa qadha maka niatnya harus di malam hari sebelum fajar.

    (Lebih lengkap silahkan dibaca Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd al Qurthuby jilid I hal 214-215)

  3. 21/07/2012 pukul 4:40 am

    Terima kasih ustadz, sangat manfaat artikelnya bagi kami di pesantren

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: